Haruskah Wanita Cerdas?

Wanita terlahir ke dunia sebagai pelengkap hidup laki-laki. Sebagaimana Hawa diciptakan untuk menemani Adam di surga. Wanita terlahir ke dunia merupakan suatu anugerah. Layaknya pria, wanita juga memiliki peran dalam pembentukan kehidupan manusia. Juga sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan bangsa dan negara.

Wanita dimuliakan derajatnya oleh Allah swt. Sesuai dengan yang disabdakan oleh Nabi Muhammad saw. “Wanita adalah tiang negara!”. Jika wanita-wanita itu baik maka baiklah negaranya dan jika wanita – wanita itu buruk maka buruklah negaranya.

Bagaimana Kartini memperjuangkan hak kaum wanita untuk mendapatkan pendidikan dan mendapat kebebasan? Bagaimana peran Cut Nyak Dien dalam melawan penjajah begitu juga Dewi Sartika telah memberi ruh kepada kaum wanita di tanah air sehingga eksistensi wanita disamakan dengan pria. Mereka adalah sebagian tokoh wanita yang memiliki tekad yang kuat untuk mengangkat derajat wanita. Bangkit dari keterpurukan yang menganggap wanita tidak berharga.

Memperjuangkan citra wanita di mata dunia tentu membutuhkan strategi dan taktik yang cerdas. Di dalam sejarah Islam pun dikisahkan beberapa wanita hebat yang masih diingat hingga saat ini. Masyitoh dengan memperjuangkan akidah tak gentar dalam membela agama Allah saat menghadapi Fir’aun. Ia tidak mudah menyerah dalam mempertahankan akidah dan teguh pendirian terhadap agama yang Allah ridhoi.

Bahkan Siti Khodijah menjadi perempuan hebat yang membantu dakwah Rasulullah. Ia rela mengeluarkan seluruh hartanya untuk dakwah agar Islam tersebar ke seluruh dunia. Selain seorang hartawan yang dermawan, Siti Khodijah pun memiliki akhlak yang mulia. Mendukung dengan sepenuh hati untuk menegakkan agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah.

Tahun 2000 Indonesia dipimpin oleh seorang wanita sebagai kepala negara yakni Megawati Soekarno Putri. Ini membuktikan bahwa wanita yang memiliki kecerdasan dalam berpikir dan bertindak mampu untuk mengemban amanah di dalam pemerintahan.

Haruskah wanita cerdas? Jawabannya harus.

Kita harus menghilangkan pandangan bahwa wanita hanya cukup berdiam diri. Seorang istri tidak cukup di rumah saja tetapi dia memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu, menghadiri acara pengajian dan mengaktifkan diri dalam mengetahui berbagai informasi yang berkembang. Urusan rumah tangga tidak menjadi alasan untuk tidak menuntut ilmu dan tidak berkarya.

Selain itu, wanita memiliki kewajiban untuk berdakwah. Keahlian dan kecakapan dalam menyampaikan ilmu Allah harus terbiasa. Hal ini tiada lain agar eksistensi wanita mendapat posisi yang istimewa.

Tentunya kecerdasan ini pula harus didukung dengan kecerdasan dalam bertingkah laku. Untuk melahirkan anak-anak yang cerdas secara moral, menjaga perkataan, menutup aurat dan menjadi teladan dapat dilihat dari wanita seperti apa ia terlahir. Namun, kesadaran akan hal tersebut belum dimiliki para perempuan secara umum dan para muslimah khususnya. Untuk itu dakwah muslimah sebagai bagian dari dakwah semesta memiliki arti penting untuk mengembalikan pemahaman yang benar tentang peran wanita yang sesuai dengan fitrah dan posisinya dalam Islam.

Jika anda mendidik seorang pria, maka anda hanya akan mendidik seorang manusia. Jika anda mendidik seorang wanita, maka anda telah mendidik seluruh manusia”. (Presiden Tanzania, 1980-an)

Sungguh, wanita yang seperti itu wanita mar’atus sholihah. Mar’atus sholihah lebih mulia apabila dibandingkan dengan bidadari syurga. Cerdas secara intelekual, spiritual dan moral. *RevolusiKaumWanita

(Ami Siti Aminah,S.Hum — Kader Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Purwakarta)