Meraih Taubat Menggembirakan Bulan Ramadan

Manusia tak luput dari dosa dan salah. Entah sudah berapa kali dosa dan salah tersebut kita lakukan, yang jelas disana kita sedang dalam performa iman yang sangat rendah di hadapan Allah SWT.

Di atas segala kemaksiatan yang kita lakukan, di sana ada suatu kerusakan akhlak yang mesti diperbaiki. Disadari atau tidak, kemaksiatan adalah lembah keterpurukan di dunia maupun di akhirat kelak. Hal ini biasanya menggejala terus menerus jika perbuatan maksiat tersebut tidak diiringi dengan segera memohon ampunan-Nya

“Al insanu mahalul khattha wa nisyan” Al-Hadits, artinya manusia itu tempatnya salah dan lupa. Dalam hal ini kita cukup mengerti, mengapa kerap kali perbuatan dosa dan salah itu kita senantiasa lakukan, ternyata pada hakikatnya karakteristik manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

Maksiat dan dosa yang dilakukan harus diiringi dengan istigfar kepada Allah SWT. Saat terucap memohon ampunan pada Allah SWT tersebut, berarti diri kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki segala perilaku buruk yang pernah kita lakukan, entah hal itu diketahui orang ataupun tidak.

Namun, hati-hati jika diri kita telah berbuat maksiat, akan tetapi dalam hati kita tidak sedikitpun ada perasaan bahwa perilaku tersebut adalah perbutan maksiat. Cara sederhananya adalah dengan muhasabah binafsihi , yaitu introspeksi diri sendiri barangkali ada dosa yang pernah kita lakukan, namun kita luput untuk memohon ampunan kepada Allah SWT.

Dalam firmannya, Allah SWT menyebut bahwa ada diantara manusia yang hatinya sudah terkunci -Naudzubillahi min dzalik. Artinya ia enggan menerima nasehat kebaikan dari siapa pun. Maka diri kita senantiasa memohon agar tak tergolong orang-orang yang dikunci hatinya oleh Allah SWT. Aamiin

Saat berbuat maksiat, maka Allah SWT sangat menantikan hamba-hambanya untuk segera bertaubat pada-Nya. Allah tak pernah membenci setiap hambanya, karena maha welas asih dan kasih sayangnya yang dimiliki-Nya, terlampau besar jika dibandingkan kebencian pada hamba-Nya.

Oleh karena itu dalam surat At-Tahrim ayat 8, Allah SWT menyerukan untuk bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat.

“Wahai orang-orang yang beriman taubatlah dengan taubat yang semurni-murninya taubat (taubatan nasuha)…” (Q.S At Tahrim: 8)

Maka barang siapa yang bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat, baginya seperti kertas putih tanpa noda, bersih, dosanya diampuni oleh Allah SWT, MasyaAllah.

Bertepatan dengan bulan yang mulia ini, taubat di jalan Allah SWT akan jauh lebih indah. Karena, ramadhan selain bulan yang di dalamnya diperintahkan untuk berpuasa, melainkan juga bulan dimana kitab suci Al-Qur’an oleh Allah SWT diturunkan ke dunia, melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.

Di bulan yang suci ini adalah waktu yang tepat bilamana diri kita mau mengharap magfirah Allah SWT. berbuat baik di bulan ramadhan bisa berlipat ganda dibanding di bulan-bulan lainya. Sehingga, pada momentum yang baik ini, hendaknya diri kita senantiasa diabdikan diri hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, marilah meraih taubat dan menggembirakan diri dengan kebaikan-kebaikan di bulan ramadhan yang suci ini. Segeralah meraih taubat yang semurni-murninya, niscaya pintu taubat masih terbuka lebar, dan Allah SWT akan merindukan setiap kalimat ampunan yang selalu kita lafadzkan di setiap kita berdo’a pada-Nya. Aamiin Ya Rabbal Aalamin . Semoga taubat kita diterima dihadapan Allah kelak.

Billahi Fi Sabililhaq