Cerpen Hamdy Salad: Di Antara Batu Nisan

Notification

×

Iklan

Iklan

Cerpen Hamdy Salad: Di Antara Batu Nisan

Minggu, 04 September 2022 | 15:36 WIB Last Updated 2022-09-04T08:36:28Z


Lelaki itu memang aneh. Hampir setiap hari datang ke kuburan dengan sebotol aqua di tangan. Lalu menyiramkan air dalam botol itu ke atas gundukan tanah yang membujur di antara dua batu nisan. Memang, ada pohon tomat yang tumbuh di situ. Tetapi apa istimewanya sebatang pohon tomat?


Begitulah, lelaki itu selalu datang dan kemudian pergi. Membuka dan menutup masa lalu antara tiga sampai jam enam sore. Seturut waktu ketika istrinya sedang sakaratul maut, dan kemudian menghembuskan nafas terakhir kali bersamaan tenggelamnya matahari. Namun tak banyak yang tahu, kenapa ia begitu sayang dengan sebatang pohon tomat yang tumbuh di atas kubur istrinya.


Pada mulanya, orang-orang kampung mengira bahwa lelaki setengah baya itu sudah gila. Setidaknya sedang diserang oleh depresi dan putus asa karna tidak mampu melupakan beban berat kehidupan nyata, amanat bumi yang tak bisa diangkat, walau  siang dan malam telah berganti berualangkali. Apalagi jika orang hanya melihat pada sosoknya. Pada penampilan yang terlihat oleh mata telanjang. Tak ada pilihan lain kecuali menyebutnya sebagai –lelaki miring, kurang waras atau sinthing.


Memang, jika dilihat dari cara berjalan, langkah kakinya sedikit goyang dan miring. Menekan kuat sandal jepit warna merah. Kadang condong ke kiri, kadang juga ke kanan. Matanya cekung, menatap jauh ke alam lain yang tak bisa disentuh.  Wajahnya kuyu dan berminyak. Pakaiannya sedikit kumal,  kuning daun layu, karena selalu itu yang menempel di tubuhnya setiap kali datang ke kuburan.  Dan seolah, bau keringat yang keluar dari lubang pori-pori kulitnya, sudah lama tak diingat. Dibiarkan leleh dan lekat  seperti cairan lumpur warna coklat.


Sepertinya, kecuali aku, tak ada orang lain yang pernah bertanya kenapa lelaki itu selalu datang dan pergi ke tempat yang sama. Melakukan kegiatan yang sama dari hari ke hari.  Hingga aku mingintai sosoknya sampai ia melintasi pagar dan masuk ke dalam rumahnya yang sunyi. Sendiri. Sepertinya juga, hanya aku yang pernah mendekati dan mengajaknya bicara pada suatu ketika. Entah kapan, aku pun lupa, tanggal berapa dan hari apa saat pertama kali aku duduk di sampingnya. Berdua di antara batu nisan. Mendekap zaman yang telah berubah menjadi bayang-bayang.


“Di penghujung tahun lalu, istriku, istriku…”


Lelaki itu tergagap. Lalu memutar lidahnya sedikit demi sedikit dengan potongan kalimat yang sulit dipahami. Dan dengan potongan-potongan kalimat itu, aku mulai tertarik untuk menyusun kisahnya. Kisah lampau yang mengiang dalam ingatanku. Membuat aku lebih mengerti, dan memahami kelakuannya yang aneh itu sebagaimana adanya. Juga soal perempuan yang amat sangat dicintai, walau kini telah di alam baka dan belum memberi keturunan sampai akhir hayatnya.


“Kalau saja aku tahu bahwa penyakit itu dapat disembuhkan dengan tomat, mungkin saja sudah terwujud kebun tomat di belakang rumahku. Ya Tuhan…”


Serupa lembaran buku yang mulai terbuka, setiap orang boleh membaca dan menafsir segala abjad yang melintas di dekat pelupuk mata. Begitu pun aku, meski tak sesempurna telinga kelinci dalam menangkap sinyal mangsanya, kemampuanku untuk menyusun huruf dan kata-katanya, tidak sedikit orang yang percaya dengan cerita ini.


“Kalau saja aku bisa membuat serbuk dari biji-biji tomat, mungkin saja bukan hanya istriku, tapi juga orang lain yang mengalami penderitaan serupa.” Lelaki itu tercekat, seolah ada duri di kerongkongnya. “Kalau saja aku tahu ada penyakit yang telah menyerangnya, sejak sebelum kukenal cintanya. Ya Tuhan,  kalau saja aku…”


Penyesalan itu kemudian mengalir ke dalam telingaku. Lalu menumpuk dan tersusun serupa benteng luka dalam kehidupan manusia. Kelahiran dan kematian. Pertemuan dan perpisahan. Begitu cepat, serupa kilat menyembur di udara fana. Tak seorangpun bisa mengingat kecuali hanya menerka. Membayangkan kisah lama dalam kehidupan baru. Membayang juga akhirnya kisah mula lelaki itu.


Enam ratus menit sebelum malaikat Izrail mencabut nyawa istrinya, perempuan yang sangat dicintai itu meninggalkan wasiat kepadanya. “Jika kumati, tanamlah pohon tomat di atas kuburku, dan jangan biarkan pohon itu mengering tanpa buah, lalu rata ke tanah seperti tubuh dan jiwa dalam rahimku”. Ketika itu, degup jantung sang istri merasuk ke dalam degup jantungnya. Hingga lelaki yang belum merasai nikmat menjadi bapak itu tak bisa menolak. Apalagi mangkir, meminta ralat atas permohonan sang istri untuk kali terakhir. Bahkan tak sempat juga ia mengingat kenapa wasiat itu diucapkan. Kenapa pula bukan soal harta gono-gini, soal adik dan perempuan lain yang mampu menghargai kepergiaannya ke hadirat Ilahi.


“Aku menyesal, dan hanya itu yang bisa kulakukan untuk mengingatnya. Aku menyesal, karena telah menolaknya untuk menanam tomat dalam sebuah pot bunga. Aku menyesal karena selalu menyangkal untuk menyediakan buah tomat dalam kulkas, dan di atas meja makan. Ya Tuhan… ”.


Lelaki itu kemudian runduk. Menyerupai bunga matahari yang lelah dan layu. Menghadapkan wajahnya ke atas gundukan tanah. Memukuli dahi berulangkali dengan dua kepalan tangan. Lalu menepis cincin kenangan di jari manis, dan menyelinapkannya di antara kering bunga. Kemudian bersijingkat, mendekap kayu nisan sembari berucap dengan penuh semangat. Tapi aku tak sempat bertanya, kecuali mendengarkan. Kadang menatap dan memperhatikan gumpalan sesal yang meleleh di pipinya. Mengurai yang ada dan tiada dengan airmata.  Sudah lebih dari sepuluh tahun, sesalnya lagi, belum tahu kesenangan istrinya. Belum tahu pula masalah penyakit yang dideritanya sampai beberapa hari sebelum meninggal.


“Kau memang tomat. Wajahmu ranum seperti tomat matang yang baru dipetik dari kebun…”.


Lelaki itu memuji ke arah batu nisan, dan terdiam dalam impian. Lalu aku berkata sekenanya, mengisi kesempatan yang terbuka di dekatnya.


“Sebatang pohon tomat adalah satu di antara jutaan pabrik kimia raksasa yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini… “.


Entah apa. Kata-kata itu terdengar nyaring di telinganya seolah bunyi dan nasehat yang sedang dicari. Lalu ia mendongak, kedua matanya tebelalak. Seolah ada pesan dari langit yang baru turun ke bumi. Tergagap dan berharap lebih banyak, untuk mendengar suara yang sudah lama dinanti setiap kali datang di atas kuburan sang istri.


“Bagaimana jika bukan di atas kuburan ini, tapi di kebun atau di halaman rumah saja pohon tomat itu ditanam dan dirawat sebaik-baiknya”. Aku berbisik di dekat daun telinga kanannya.


“Oh…. Istriku! Kalau saja aku tahu bahwa tubuhmu memerlukan tomat, tentu aku tak merasa ragu untuk mengatakan cintaku padamu. Sebab aku tak perlu menulis surat cinta yang panjang saat itu, saat pertama aku terpikat oleh cahaya jiwamu…”


“Buah dan sayur tumbuh dari tanah yang sama, dari air yang sama, dari tempat yang sama, tapi tetap saja beda rasa dan aromanya. Apa yang menyebabkan lombok, terong, dan tomat berbeda rasa, berbeda pula manfaatnya, tak ada yang tahu secara nyata. Tak ada juga yang mengerti kenapa buah-buah itu tidak bercampur warna dan keindahannya”


Kutambah kata di telinganya. Segala yang melintas di pikiran, kuucapkan begitu saja sebagai umpan. Karena memang aku pernah membaca bahwa pohon tomat atau solanum lycopersicum, disebut juga sebagai apel cinta. Love aplle. Sejenis buah yang mengandung sari obat bagi para pecinta.


“Aku ingin menyatakan cinta pada istriku dengan buah tomat. Lalu kutaman biji tomat dalam pot bunga… lalu kusiram setiap hari, sambil menunggu cintaku tergores di kulit buah yang ranum itu…” Lelaki itu meneteskan air mata.


“Dulu sekali ada orang menanam biji, lalu tumbuh dan disebut sebagai pohon tomat. Kemudian ada orang lain yang menanamnya lagi, dan menjadikan buahnya sebagai obat untuk menyembuhkan kanker usus”. Aku berusaha menambahi kata-kata.


Lelaki itu menangis. Meneteskan air mata lebih deras. Lalu berteriak ke arah langit yang mulai gelap. Seolah ingin memanggil matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat.  Mengharap dan menyayang segala yang akan dan telah menghilang. Kemudian bergerak mengelilingi kuburan sang istri. Berputar dan berputar di antara batu nisan sang istri lebih dari sepuluh kali. Sampai ambruk separuh ingatan. Kemudian  duduk kembali sambil mendekap dan menciumi batu nisan.


Sejak peristiwa di senja itu, aku tak pernah lagi melihat Lelaki itu datang ke kuburan. Bahkan juga tak ada bayang-bayang melintas di sekitar rumahnya.  Entah ke mana menghilang.  Seperti zat dalam buah tomat, kewarasan dan kegilaan tak bisa bercampur. Tapi orang sering salah memandang dengan mata telanjang. Seolah dunia bukanlah buah sayuran. Bukan pula kalender dan hari-hari yang hanya tergantung di dinding sunyi. Yang selalu menipu diri dengan angka-angka mati.


Semingu, bulan dan tahun, lelaki itu belum juga kembali. Sedang aku, seperti  orang-orang kampung lainnya,  tak pernah tahu ke mana ia pergi. Tapi aku tetap mengenangnya sebagai manusia. Bukan si gila atau orang yang hilang dari ingatan dunia. Mungkin itu sebabnya, lelaki itu tak pernah hilang dari ingatanku. Meninggalkan pesan padaku, sebelum akhirnya menjadi misteri. Antara ada dan tiada. Bahwa hidup harus dilanjutkan, dengan berbagai cara, meski hanya untuk menanam dan merawat sebatang pohon tomat. []


Hamdy Salad, sastrawan, pengajar Agama dan Budaya Islam di Fakultas Seni Rupa dan Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.


Sumber: suaramuhammadiyah.id