Syarat Masa Depan Cerah Indonesia Menurut Haedar Nashir

Notification

×

Iklan

Iklan

Syarat Masa Depan Cerah Indonesia Menurut Haedar Nashir

Rabu, 31 Agustus 2022 | 11:24 WIB Last Updated 2022-08-31T04:26:02Z


Menakar Indonesia ke depan, menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir bangsa Indonesia harus bisa melihat masa kini dan masa lalu. Meski banyak prediksi masa depan Indonesia cerah, akan tetapi didalamnya terdapat pertanyaan terkait dengan beberapa hal seperti basic nilai, sumber daya alam, dan pengetahuan.


Oleh karena itu, syarat pertama menuju masa depan cerah adalah ‘mengkonfirmasi’ bagaimana menempatkan dan mengaktualisasikan nilai dasar berbangsa Indonesia yaitu Pancasila, Agama dan Kebudayaan Luhur Bangsa. 


Karena ke depan Pancasila harus menjadi nilai yang dimanifestasikan bukan dipahami pada ranah potensial saja. Terkait konsep bernegara, Muhammadiyah memiliki konsep Indonesia sebagai Negara Pancasila Darul Ahdi Wa Syahadah. 


Di sisi lain, mengutip Buya Syafii Maarif bahwa sila-sila Pancasila harus diimplementasikan semuanya. Tidak boleh dari sila-sila tersebut dianaktirikan. Lebih-lebih sila kelima, yaitu keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila kelima ini sering luput digemakan dan diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Haedar senantiasa mengajak bangsa ini untuk selalu bertanya, apakah Pancasila sudah diimplementasikan? Seraya terus menggali cara-cara implementatif terhadap sila-sila Pancasila. 


Guru Besar Sosiologi ini menegaskan bahwa, di Indonesia ada tiga hal yang tidak boleh dipertentangkan yaitu Pancasila, Agama dan nilai luhur bangsa. Jadi tidak elok membentur-benturkan agama dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


“Kedua masa depan Indonesia ditentukan oleh cara merawat hasil kemerdekaan. Sebab merawat ini bukan suatu yang mudah. Merawat ini bekerja,” ucap Haedar di Stadium General “Menakar Indonesia ke Depan” di Universitas Surabaya (UBAYA), Rabu (31/8).


Terkait masa depan yang cerah, syarat ketiga adalah harus disiapkan insan – bangsa yang mampu dan berdaya saing. Menurutnya, manusia-manusia Indonesia tidak cukup yang diperbaiki atau diperkuat hanya yang bersifat material. 


Tetapi juga ruh, iman dan akhlak. Meski kecenderungan manusia modern adalah menegasikan ruh, iman dan akhlak, namun bagi bangsa Indonesia tidak boleh, sebab harus beriman dan berakhlak sesuai dengan agama masing-masing. Agama dan Indonesia bukanlah suatu yang harus dipertahankan.


“Masa depan kita akan ditentukan oleh seberapa jauh kesamaan pandangan terhadap hal-hal yang krusial,” tuturnya.


Terkait masalah intoleransi dan radikalisme yang selalu dikaitkan dengan agama, Haedar tegaskan statement tersebut itu keliru. Mengutip dari berbagai sumber, menurutnya radikalisme juga bisa muncul karena motif kedaerahan, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Oleh karena itu dirinya mengajak bangsa ini untuk berdialog tentang hal-hal krusial, sehingga sesama bangsa tidak ada saling curiga.


Selanjutnya yang perlu dijadikan bingkai masa depan Indonesia adalah road map kebangsaan. Menurutnya masa depan tidak bisa berjalan alamiah tetapi harus dirancang. Rancang bangun Indonesia yang tepat adalah bhinneka tunggal Ika bukan multikulturalisme. Bhinneka tunggal Ika, kata Haedar, sangat kaya karena didalamnya merupakan hasil pemikiran dari banyak tokoh bangsa.


“Multikulturalisme itu hanya merayakan perbedaan, tetapi lupa merajut atau merayakan persatuan. Bangsa itu mesti ada dinamika, pasti akan mengalami gesekan. Jangan sampai anti perbedaan dan gesekan, nanti jadi bangsa yang cengeng. Akan tetapi perlu dipetakan mana bagian yang dinamis dan yang baku,” ucapnya.


Ke depan, jangan anti gesekan. Karena bangsa yang dewasa itu sadar dan mampu melewati gesekan itu dengan baik. Jika tanpa adanya gesekan, Haedar khawatir Indonesia menjadi bangsa yang cengeng. Serta yang penting untuk menyambut masa depan Indonesia cerah adalah tentang melakukan persatuan atau manunggal.


Selain Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, juga hadir Ketua Umum Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rektor UBAYA, Benny Lianto, Ketua Yayasan, Anton Prijatno, Sekretaris PWM Jatim, Tamhid Mashudi, Rektor UM Surabaya, Sukadiono dan Rektor UMSIDA, Hidayatullah.


Sumber: muhammadiyah.or.id