Iklan

Iklan

,

Iklan

Sakit dan Sehat itu Ujian, Ini Cara Berprasangka Baik Kepada Allah

Redaksi
Jumat, 09 September 2022, 09:22 WIB Last Updated 2022-09-09T02:22:08Z


Sehat merupakan keadaan yang sempurna baik fisik, mental, maupun sosial; tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat. Sementara sakit adalah kondisi kelainan yang disebabkan oleh gangguan penyakit, emosional, intelektual atau sosial. 


Dalam kehidupan manusia, sehat dan sakit silih berganti mengisi waktu-waktu mereka di bumi.


“Kita tidak bisa memilih sehat saja, tidak bisa memilih sakit saja, tetapi kita boleh memilih lebih banyak sehatnya. Kita bisa memilih untuk hidup lebih sehat, tapi tidak mungkin bisa menghindari keadaan sakit,” tutur Wakil Ketua Majelis PKU PP Muhammadiyah Agus Sukaca dalam Gerakan Subuh Mengaji pada Jumat (02/09/2022).


Meski dapat menjalani kehidupan yang sehat, menurut Agus, manusia tidak bisa menghindari keadaan sakit. Keadaan sakit merupakan bentuk ujian dari Allah sebagai jalan untuk meningkatkan derajat manusia. 


Hal ini berdasarkan firman-Nya: Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami (QS. Al Anbiya: 35).


Selain itu, Agus juga turut mengutip hadis Nabi Saw yang menyatakan bahwa cobaan berupa sakit merupakan medium pertaubatan manusia kepada Allah. 


Sabda Rasulullah: “Dan sesungguhnya apabila Allah Taala mencintai suatu kaum, dicobanya dengan pelbagai cobaan. Siapa yang ridah menerimanya maka ia akan memperoleh keridhaan Allah, siapa yang tidak ridha akan memperoleh kemurkaan dari Allah”. (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).


“Jadi kita diuji dengan apakah ridha gak dengan ketetapan-ketetapan Allah. Allah menetapkan kepada kita suatu saat menderita sakit atau sehat. Ridha gak kita ketika sehat? Kalau ridha berarti kita telah bersyukur. Ridha gak kalau kita menerima sakit? Harus ridha pula,” ucap Agus.


Agus mengimbau agar ketika sakit tidak merespon dengan pandangan yang negatif. Misalnya mengeluhkan ketidaknyamanan, memikirkan akibat buruknya, pekerjaan yang terbengkalai, hilangnya peluang, turunnya penghasilan, dan lain-lain. Bahkan seorang muslim tidak diperkenankan untuk berprasangka buruk kepada Allah, apalagi mempertanyakan mengapa Allah memberinya penyakit.


Agus mengajak agar tatkala sakit mesti direspon dengan pandangan yang positif. Debgan berbaik-sangka kepada Allah, beristirahat dan memberikan hak-hak badan, berkontemplasi atau melakukan introspeksi diri yang selama ini tidak bisa dilakukan karena terlalu sibuk, lebih menghargai kesehatan, dan lain-lain.


“Kalau kita sakit, pikirkan saja bahwa Allah sedang memberikan kepada kita istirahat sebagai pemenuhan hak-hak badan, sehingga dengan ini kita nikmati, karenanya sakit pun tidak akan menambah parah,” terang dokter RS PKU Gamping ini. 


Sumber: muhammadiyah.or.id

Iklan