Yakinlah, Musibah Pasti Berlalu

Notification

×

Iklan

Iklan

Yakinlah, Musibah Pasti Berlalu

Minggu, 16 Oktober 2022 | 07:43 WIB Last Updated 2022-10-16T00:43:51Z


Oleh: Prof. KH. Dadang Kahmad,
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah


Badai kehidupan pasti akan menimpa siapa saja, baik itu berupa musibah kecil maupun musibah besar. Musibah kecil, bentuknya berupa masalah yang bisa diselesaikan dengan mudah, sementara musibah besar dapat berupa masalah hidup yang sulit diselesaikan sehingga membutuhkan keyakinan hati, akal dan pikiran untuk menyelesaikannya. 


Musibah yang di dalam hidup kita tidak datang secara beruntun. Musibah itu adalah rangkaian hal-hal kecil yang kita diamkan hingga menjadi besar. Kita tentu tidak bisa menyelesaikan masalah yang sudah membesar dalam waktu satu jam atau bahkan satu hari. 


Justru, kearifan kita dituntut untuk diterapkan ketika masalah besar itu hadir. Kita harus memahami masalah yang kita hadapi hingga ke akar-akarnya. Ketika akar masalah itu sudah jelas, insyaallah, akan bisa menuntaskannya dengan baik.


Musibah yang menimpa kita serupa musim yang selalu berganti. Tidak akan ada musim kemarau yang terus-menerus tanpa digantikan dengan musim hujan. Begitu juga dengan badai musibah. Sebuah musibah pasti akan berlalu, cepat atau lambat tergantung sekuat apa kita berusaha untuk keluar dari badai kehidupan itu.


Keyakinan bahwa setiap badai akan berlalu ini akan menambah kekuatan kita. Bahwa semua jalan pasti ada ujungnya. Setiap lautan pasti memiliki tepi, begitu juga ujian yang terjadi dalam hidup kita. 


Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapinya. Mau terus-menerus dalam pusaran badai atau mau menjadikan badai sebagai sarana mencapai hidup yang lebih baik? Kita sendiri yang bisa menjalani dan memilihnya.


Berbagai bencana yang terjadi, baik di masa silam maupun sekarang, menjadi salah satu tanda terbesar atas keagungan Allah. Dalam waktu yang singkat, bencana yang menimpa seperti gempa, tsunami, banjir, badai, angin topan, gunung meletus, dan yang lain, telah menghancurkan berbagai tempat di belahan muka bumi ini. 


Banyak jiwa melayang, baik manusia maupun hewan yang berada di daratan dan lautan.


Hanya beberapa detik saja bencana tersebut terjadi, sekian ribu mil daerah yang berada dari pusat bencana terkena imbasnya. Ini baru beberapa detik, bagaimana jika musibah itu lebih lama waktunya? 


Bencana ini terjadi tak mengenal waktu dan tempat. Bagaimana jika bencana itu terjadi di tempat kita? Ini baru bencana bumi yang terjadi di dunia sekarang, bagaimana halnya dengan kejadian dahsyat di hari kiamat yang akan datang?


Mari kita renungkan firman Allah yang artinya:“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di Padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.” (QS Ibrahim []: 48).


Dalam firmannya yang lain, Allah juga mengingatkan kita akan dahsyatnya hari pembalasann. Seperti yang tergambar di dalam ayat berikut yang artinya: “Apabila matahari digulung, apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan.” (QS at-Takwir: []: 1-3). 


Bahkan langitpun akan terbelah seperti di dalam ayat berikut: “Apabila langit terbelah, apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap.” (QS al-Infithar []: 1-3). “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.” (QS az-Zalzalah []: 1-2).


Kita sejatinya mengingat dengan baik dan penuh keimanan, jika berbagai bencana dan musibah terjadi, maka tidak bisa dimungkiri kedatangannya. Lantas, bagaimana cara kita memaknai dan menyelesaikan masalah yang mendera kehidupan? 


Tentunya dengan menunjukkan kualitas keimanan kita sehingga dapat memenangi peperangan dengan masalah dalam kehidupan ini. Lalu, bagaimanakah agar musibah atau masalah yang menimpa kita menjadi berkah sehingga mampu untuk segera bangkit kembali? 


Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan ketika musibah menerpa hidup ini.   


Pertama, berguru dan berbagi dengan orang yang tepat. 


Ketika kita menghadapi kesulitan dalam hidup—hingga hidup kita seolah-olah berada dalam lingkaran badai—cobalah berguru dari seseorang yang pernah mengalami hal yang sama dengan kita. 


Berguru dengan cara mendengarkan cerita hidupnya dan pengalamannya ketika ia berada di tengah ujian hidup hingga akhirnya bisa keluar dari ujian tersebut. Bukan sekadar keluar, tapi berhasil melewati fase-fase sesudah itu dengan langkah yang lebih pasti. 


Mungkin saja pengalamannya tidak sama persis dengan kita. Tapi, yang kita butuhkan adalah intisari dari kekuatan dirinya sehingga mampu keluar dari segala ujian hidup.  


Kedua, pejamkan mata dan bayangkan keberhasilan. 


Lakukan “perenungan” demi menyelesaikan masalah. Bayangkan sebuah keberhasilan yang akan kita raih di depan mata kita bila kita bisa keluar dari masalah. Dan bayangkan akan menjadi apa diri kita bila kita tetap berada dalam lingkaran masalah. 


Dengan begitu, tumbuh motivasi kita untuk berjuang keras untuk keluar dari masalah.


Ketiga, percaya pada kemampuan diri sendiri. 


Percaya pada kekuatan dan kebijaksanaan diri sendiri, menjadi penting pada saat kita didera ujian hidup. Yakinlah bahwa ujian hidup itu datang pada kita, karena kita dianggap mampu menanganinya. 


Bisa jadi, ini adalah akibat kesalahan kita yang tidak disadari. Bisa jadi pula, ini adalah ajang untuk kita introspeksi diri. Ataupun ini adalah suatu tempaan agar kita kuat menghadapi masalah yang lebih berat lagi. Dengan menyadari hal itu, kita justru akan tahu celah dan kelebihan diri kita.


Terus gali sisi positif kita agar mampu melihat masalah yang datang dengan kacamata positif. Dengan begitu, semua masalah cepat atau lambat akan bisa diselesaikan dengan baik.


Keempat, jangan cari kambing hitam. 


Dalam lingkaran musibah yang membuat kita tidak bisa keluar—karena memang tidak tahu jalannya—wajar bila kita akhirnya mencari kambing hitam. Kambing hitam dari masalah kita adalah orang yang seolah-olah telah menjerumuskan kita hingga berada dalam lingkaran masalah. 


Tapi, apakah itu akan menyelesaikan lingkaran masalah tersebut? Akan lebih baik, jika kita lebih fokus pada bagaimana upaya menyelesaikan masalahnya saja. 


Tidak perlu memikirkan kambing hitam. Karena semakin kita fokus untuk mencari kambing hitam, kita tidak akan fokus lagi untuk menyelesaikan masalah.


Apabila kita diberi ujian oleh Allah misalnya salah seorang dari keluarga atau orang yang disayangi meninggal, maka kesedihanlah yang akan datang. Hatinya akan selalu teringat kepada orang tersebut, karena begitu dicintainya. Setiap saat kita ingat akan semua kenangan dengan dia. 


Bahkan, bisa jadi sampai terbawa ke dalam mimpi. Kesedihan itu menjadi sesuatu yang setiap orang tidak mampu menahannya. Ini baru kehilangan satu nyawa keluarga terdekat kita, bagaimana kalau musibah itu menimpa semua keluarganya? Niscaya sedihlah kita karena mendapati ujian yang datang bertubi-tubi.


Digubah dari buku karya prof. Dadang Kahmad berjudul, Musibah Pasti Berlalu (Quanta, 2014).