Adaptasi Amal Usaha Muhammadiyah Abad Kedua

Notification

×

Iklan

Iklan

Adaptasi Amal Usaha Muhammadiyah Abad Kedua

Senin, 12 Desember 2022 | 15:12 WIB Last Updated 2022-12-12T08:12:40Z


Oleh: Prof Dr KH Dadang Kahmad,
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah


BANDUNG — Muhammadiyah abad kedua lain dengan Muhammadiyah abad pertama. Muhammadiyah pada seratus tahun pertama, 1912-2012, begitu sukses dan mengagumkan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan mendirikan berbagai amal usaha.


Amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, panti sosial, ekonomi, dan lain-lain yang jumlahnya puluhan ribu, tersebar ke seluruh pelosok tanah air Indonesia, bahkan ada yang di luar negeri, sehingga Muhammadiyah disebut organisasi Islam tersukses di dunia.


Mulai 2022 Muhammadiyah memasuki usia 110 tahun yang berarti Muhammadiyah memasuki abad kedua. Abad kedua berbarengan dengan zaman digitalisasi karena sejak ditemukannya internet pada 1990-an terjadilah perubahan besar dalam kehidupan manusia.


Adaptasi untuk perubahan


Komunikasi antar penduduk serba digital dan memasuki komunikasi virtual. Pertemuan tatap muka makin terbatas. Sebagian besar manusia berkomunikasi memakai peralatan elektronik.


Maka mau tidak mau Muhammadiyah harus mengantisipasi perubahan tersebut dengan mengadakan berbagai persiapan dan kajian mendalam terhadap perubahan masyarakat supaya bisa beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi tersebut.


Perubahan yang terjadi di sektor pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, maupun di sektor yang lainnya. Beradaptasi merupakan keharusan untuk bisa bertanya dan berkemajuan.


Jika tidak beradaptasi dengan perubahan tersebut, Muhammadiyah akan ketinggalan zaman dan terkena disrupsi oleh lembaga baru yang muncul akibat perubahan tersebut.


Beradaptasi dengan peralatan baru yang lebih memberikan kecanggihan pelayanan sehingga seluruh amal usaha akan jadi fungsional untuk zamannya.


Amal usaha yang sudah beradaptasi akan menjadi pilihan masyarakat untuk mempercayakan dirinya mendapat pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, maupun berbagai bidang lainnya.


Perubahan pilihan masyarakat dari simbol ke fungsional juga harus diantisipasi. Kalau dulu memilih sekolah atau rumah sakit karena ada hubungan emosional dengan dirinya atau karena identitas dari lembaga tersebut, sekarang dan ke depan masyarakat memilih sekolah atau rumah sakit karena kinerja yang unggul sehingga dipilih untuk menyekolahkan anaknya atau menyembuhkan penyakit dirinya.


Digitalisasi amal usaha Muhammadiyah


Di samping perubahan model layanan juga mengantisipasi perubahan dengan digitalisasi berbagai amal usaha. Pendidikan berbasis digital berarti pendidikan yang tidak harus tatap muka langsung, tetapi bisa dengan pertemuan online.


Ke depan, baik pendidikan maupun kesehatan, tidak berorientasi kemegahan bangunan, tetapi lebih banyak berorientasi kepada kemudahan dan kenyamanan layanan.


Di samping antisipasi dan beradaptasi juga amal usaha Muhammadiyah mengadakan inovasi dengan cara membuat bentuk-bentuk karya kreatif.


Bahkan mungkin nanti Muhammadiyah mendirikan amal usaha baru yang tidak ada dalam abad pertama. Seperti halnya membuat ekosistem informasi yang menawarkan berbagai aplikasi untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya.


Semua program Muhammadiyah pada abad kedua di atas bertujuan untuk menegaskan kembali tekad dan usaha untuk terus-menerus menjadikan gerakan Muhammadiyah sebagai gerakan pencerahan dengan misi membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan beradaptasi dengan perubahan zaman.


Dengan kata kunci bahwa Muhammadiyah pada abad kedua berkomitmen kuat untuk melakukan gerakan pencerahan. Yakni merupakan praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan.


Gerakan pencerahan yang dimaksud adalah merupakan jawaban atas berbagai problem kemanusiaan, berupa kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan persoalan-persoalan kemanusiaan lainnya.***


Sumber: diolah dari SM edisi 23 Tahun 2012