Inin Salma AR Sutan Mansur, Perempuan Tangguh Inspirasi Zaman!

Notification

×

Iklan

Iklan

Inin Salma AR Sutan Mansur, Perempuan Tangguh Inspirasi Zaman!

Kamis, 22 Desember 2022 | 18:49 WIB Last Updated 2022-12-22T11:49:20Z


Oleh: AMALIA IRFANI,
Mahasiswa Doktoral Sosiologi UMM


Perempuan adalah makhluk Tuhan berhati lembut/Perempuan yang baik, terdidik  akan melahirkan banyak manusia hebat nan/cemerlang untuk negeri/Ia tetap menjadi bunga, diingat dan selalu dikenang//


Begitulah perempuan, tampak lemah dan rapuh namun ia sanggup sekuat baja saat memiliki pengharapan bagi negeri. Perempuan pun tidak selalu tampil sebagai kaum tidak berdaya yang hanya bisa diam tanpa mampu melakukan apa-apa. 


Pernah dan mungkin masih dianggap sebagai makhluk nomor dua, pelengkap dan sering menderita, akhirnya seiring waktu, perempuan mampu menunjukkan eksistensi tanpa melupakan kodrat sebagai anak, istri dan ibu bagi keluarga. 


Terbukti banyak perempuan tangguh dengan pikiran dan tenaganya memberikan kontribusi positif untuk bangsa dan agama. Peran hebat ini dicatat oleh sejarah sebagai nilai baik dari peradaban manusia, sentuhan kasih sayang menjadikan dunia lebih cerah dan akhirnya mencetak generasi beradab. 


Sentuhan kasih sayang dalam balutan pendidikan adalah satu diantara peran perempuan untuk generasi ibu pertiwi. Hal yang awalnya dianggap sepele, tidak bermanfaat dilakukan oleh Inin Salma AR Mansur. 


Perempuan tangguh, cerdas dengan ide cemerlang pendobrak peradaban. Lahir dan dibesarkan di Sumatera Barat, 5 Oktober 1939, ayahnya Ahmad Rasyid atau lebih familiar dikenal dengan nama AR. Sutan Mansur adalah sosok hebat, santun penegak pendidikan Islam di ranah Minang. 


Dalam sebuah bincang kecil bersama penulis, Bu Inin demikian biasa beliau disapa mengisahkan perjalanan hidupnya yang akhirnya menua di bumi khatulistiwa, Pontianak Kalimantan Barat. 


Sebagai perempuan Minang yang lahir di keluarga cendikiawan, Inin kecil sudah terbiasa dengan pendidikan dan pengajaran ilmu umum dan ilmu agama. Ia juga sudah terbiasa melihat sanak keluarga, teman serta kerabat dekat pergi merantau ke negeri seberang untuk belajar menuntut ilmu. 


“Kecerdasan tidak akan didapat dan terasah jika kita hanya duduk manis tanpa pernah belajar ke negeri orang”, ucapnya. Sehingga saat dikirim oleh ayahnya untuk melanjutkan pendidikan ke Pulau Jawa, Inin belia suka cita menjalaninya. 


Menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta dan lulus dengan gelar dokter spesialis radiologi menjadi bukti keseriusan Inin dalam menimba ilmu. 


Di kampus yang sama pula, ia bertemu pemuda rupawan kelahiran Nusa Tenggara Barat (NTB), Abdul Barry Barasila, dokter spesialis obstetrisian dan ginekolog (Obgyn) yang menjadi ayah dari keempat anak-anaknya. 


Menikah dengan sosok cerdas yang juga bervisi mencerdaskan bangsa adalah takdir terbaik yang diberikan Allah pada Inin Salma. Bersama suami ia dikenal sebagai pejuang pendidikan di Kalimantan Barat. 


Mendirikan Sekolah dan Akademi Keperawatan


Menginjakkan kaki tahun 1971 di pulau yang masih hutan belantara. Inin muda bersama suami mulai memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di bumi Khatulistiwa. Bermula dari keprihatinan, kegelisahan akan kualitas pendidikan, Inin dan suami mulai bergerilya. 


Secara spontan ia membandingkan kualitas pendidikan yang didapat sejak kecil, yang menurutnya terkategori sudah maju dibandingkan dengan sekolah-sekolah  di Kota Pontianak Kalimantan Barat. Semangat untuk mendirikan sekolah semakin memuncak sebab ia kebingungan memasukan anaknya yang saat itu sudah harus mengenyam pendidikan dasar. 


Akhirnya, setelah berdiskusi dengan banyak tokoh dan teman sejawat, Inin dan suami didukung oleh rekan seprofesi, mendirikan sekolah untuk mencerdaskan anak bangsa. 


Sekolah tersebut bernama SD Muhammadiyah 2 dan mulai beroperasi tahun 1975, dengan proses merangkak dari satu lokal kelas, ke dua lokal kelas dan seterusnya. Berkat kerja keras dan semangat terjaga, SD Muhammadiyah 2 menjadi satu diantara sedikit sekolah dasar swasta Kota Pontianak dengan kualitas unggul, dan menjadi role model Sekolah Dasar Islam di Kalimantan Barat. 


Segudang prestasi telah diraih di tingkat nasional dan internasional. Gurat kebahagiaan terpancar dari wajah lembut bu Inin sapaan hangat beliau, saat bercerita masa lalu yang penuh perjuangan, saat penulis bertanya tentang motivasi proses mendirikan sekolah yang saat itu tidaklah mudah. 


Selain mendirikan sekolah Inin Salma Rasyid bersama suami juga mendirikan beberapa perguruan tinggi di Pontianak, yakni Akademi Keperawatan (AKPER) Muhammadiyah, Fakultas Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Pontianak, dan Politeknik ‘Aisyiyah Kalimantan Barat. 


AKPER Muhammadiyah yang mulai beroperasi tahun 1992 dikawal langsung oleh Inin Salma sebagai Ketua pertama.  Di kemudian hari AKPER yang Ia dirikan, telah menginisiasi masyarakat yang peduli terhadap nasib pendidikan daerah serta pemerintah untuk juga mendirikan sekolah tinggi serupa. 


Sebuah ide cerdas pada zamannya, keberanian yang juga tidak biasa untuk perempuan pada masa itu. Tetapi Inin Salma dengan semangat penuh keyakinan membuktikan, bahwa perempuan mampu menginspirasi melewati zaman.***