Musywil Muhammadiyah Tak Hanya Seremonial

Notification

×

Iklan

Iklan

Musywil Muhammadiyah Tak Hanya Seremonial

Rabu, 07 Desember 2022 | 08:46 WIB Last Updated 2022-12-07T01:46:46Z


Oleh: Ace Somantri,
Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung)


BANDUNG - Cooling down seluruh aktifis Muhammadiyah pasca muktamar di Solo Jawa tengah, walaupun hanya waktu sesaat. Paling pertama PW Muhammadiyah Jawa Timur menggelar musyawarah wilayah satu bulan setelah perhelatan muktamar, akhir Desember 2022 di Ponorogo mereka akan bermusyawarah. 


Bagaimana wilayah lainnya? Sejauhmana gerak langkah menata masa depan persyarikatan untuk lebih berkemajuan dan bermartabat, termasuk PW Muhammadiyah Jawa Barat merencanakan permusyawaratan tingkat wilayah digelar bulan Februari 2023 di kampus Universitas Muhammadiyah Cirebon. 


Waktu yang lalu, Muhammadiyah Jawa Barat khususnya kota dan Kabupaten Bandung menjadi tuan rumah perhelatan muktamar Nasyiatul Aisyiyah pada tanggal 2-4 Desember 2022. Konsentrasi aktifis Muhammadiyah Bandung menyukseskan muktamar Nasyiatul Aisyiyah untuk menyambut para peserta dari berbagai wilayah se-Indonesia. 


Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat berharap digelar penuh khidmat dan bermartabat sehingga hasil musyawarah benar-benar menghasilkan keputusan arif, bijak dan konstitusional serta memuaskan semua pihak. Nilai martabat dalam gelaran musyawarah untuk mufakat itu terbebas dari praktik disorientasi pengembangan organisasi persyarikatan yang sebenarnya. 


Pasalnya, tantangan hari ini dan esok hari, eksistensi organisasi bukan hanya sekadar berjalan seperti apa adanya, melainkan ada agresifitas gerakan lebih akseleratif dan produktif.


Panjang jalan dan cerita, kisah demi kisah nyata, komunitas manusia dari abad ke abad selalu ada peninggalan budaya dan peradaban sebagai bukti manusia berbudaya dan beradab, baik dalam bentuk artefak atau benda sejenisnya sebagai bukti karya budaya. 


Namun, sebaikanya ada catatan penting bahwa karya budaya bukan satu-satunya dalam wujud benda semata, justru ada hal yang lebih bernilai dan bermakna yaitu sebuah ideologi atau platform hidup, sifat dasar manusia yang menyelamatkan generasi berikutnya dari kekajahatan dan kedzaliman sistem sosial yang tidak berideologi. 


Di sisi lain, jikalau ideologi sesat dan menyesatkan akan merusak dan membunuh habitat dan ekosistem makhluk hidup di manapun berada. Apapun alasannya, bahwa ideologi adalah sebagai pengantar dan pendamping hidup seseorang maupun kelompok orang dalam komunitas, sehingga menjadi penting karya budaya dalam bentuk ajaran Ideologi yang diyakini. Karena hal itu akan terus hidup dan bermakna selama manusia hidup pada ruang dan waktu, termasuk ada dalam lingkup institusi organisasi.


Berorganisasi hak asasi seorang manusia di dunia karena makhluk sosial, namun ketika sistem hidup sosial manusia tanpa aturan dan norma, maka akan terjadi dalam kehidupan aktualisasi hukum rimba. 


Ajaran ideologi bagian utama hak asasi untuk menjaga terpeliharanya habitat dan ekosistem manusia yang beradab. Dari sekian rutinitas komunitas organisasi ada yang namanya regenerasi, hal itu sunatullah atau hukum alam. 


Hanya, bagi manusia berbeda dengan hewan atau binatang dalam proses regenerasinya. Manusia karena makhluk berakal, sudah pasti cara regenerasinya lebih dinamis. Dalam institusi, ketika didalamnya ada manusia yang berakal sehat dan waras, maka akal dan hatinya akan menuntun pada yang semestinya. Namun ketika dalam realitanya tidak terjadi regenerasi dapat diindikasikan ada disorientasi dan kewarasan akalnya terganggu. 


Musyawarah atau permusyawaratan bagian dari usaha meregenerasi, namun faktanya hanya sering berhenti pada aktus seremonial semata untuk memperlihatkan kemasan bahwa ada proses regenerasi, tapi realitanya "jauh panggang dari api" justru moment tersebut menjadi ruang untuk memperpanjang eksistensi dirinya dengan dalih masih diminati dan dikehendaki.


Bila terjadi seperti itu, maka patut diduga ada sesuatu hal terganggunya sistem sosial organisasi. Pun sama, bagi siapapun yang berkeinginan berkhidmat, para elit organisasi walapun tidak ada batasan usia dan waktu, kiranya kesadaran diri untuk berbagi kesempatan kepada para generasi itu jiwa aktifis sejati. 


Musywil Muhammadiyah di berbagai wilayah, termasuk di Jawa Barat berharap menjadi wahana regenerasi yang semestinya, berkhidmat di tingkat wilayah untuk pimpinan baiknya memberikan kesempatan kepada kader yang lainnya dengan seluas-luasnya. Wallahu alam


Bandung, Desember 2022