Iklan

Iklan

,

Iklan

5 Alasan Islam Abad Pertengahan Maju dalam Wacana Keilmuan

Redaksi
Jumat, 02 Juni 2023, 16:11 WIB Last Updated 2023-06-02T09:11:25Z


YOGYAKARTA
— Peradaban Islam pernah mencapai kemajuan pesat dalam pengembangan ilmu pengetahuan selama delapan abad (dari abad ke-7 hingga ke-15). Selama periode ini penekanan kuat diberikan kepada pencarian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Hal inilah yang menjadikan peradaban Islam menjadi pionir dalam hukum, ilmu sosial, sains dan teknologi.


Menurut Ketua PP Muhammadiyah Syamsul Anwar dalam Seminar Integrasi Keilmuan dalam Hisab, Rukyat, dan Kalender Global Unikatif pada Jumat (02/06) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menyebut lima faktor yang membuat Islam menjadi peradaban terdepan.


Faktor pertama adalah karakter dasar ajaran Islam sendiri yang menjadikan ilmu sebagai suatu nilai dasar yang tinggi dalam hidup manusia. Pengagungan terhadap ilmu ini memobilisasi para ulama untuk melakukan riset dan pengembangan wacana keilmuan.


Faktor kedua minat para penguasa khususnya khalifah terhadap ilmu pengetahuan dan menjadikannya sebagai kebijakan yang didukung kuat secara politik. Para penguasa ini mendorong para ilmuwan untuk berkarya dalam berbagai cabang ilmu sesuai kecenderungan masing-masing.


Menurut Syamsul, perhatian para penguasa Muslim pada Abad Pertengahan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan ini dimotivasi oleh beberapa hal: 1) semangat ajaran agama yang mendorong kuat kecintaan dan upaya pencarian ilmu pengetahuan (pursuit of knowledge); 2) dorongan untuk mendapatkan kebanggaan; dan 3) karena berkembangnya ilmu merupakan salah satu sumber legitimasi kekuasaan.


Faktor ketiga adalah adanya sikap terbuka kreatif yang berkembang di kalangan umat dan para ilmuwan serta sarjana Muslim era itu terhadap peradaban lain, yang lahir dari suatu pandangan dunia yang open minded.


Faktor keempat adalah pandangan dunia optimistik yang melihat alam dan kehidupan dunia sebagai suatu anugerah Tuhan yang baik yang harus dimanfaatkan dan dikelola sedemikian rupa sesuai dengan koridor teologis bahwa pada asasnya segala sesuatu itu mubah, kecuali yang dinyatakan dilarang secara tegas. 


Dunia dilihat tidak sebagai suatu yang tercela dan terjauhkan dari rida Tuhan dan karenanya harus dijauhi. Sikap seperti ini telah membebaskan umat dari suatu bentuk ketertutupan diri dan konservatisme yang melumpuhkan dinamika.


“Pandangan dunia yang terbuka dan optimistik ini telah membuat umat Islam terbuka terhadap peradaban mana pun dan membuat mereka kreatif dan pro aktif dalam mengelola bahan-bahan budaya dari peradaban lain, sehingga dengan semangat itu ilmu pengetahuan menjadi berkembang pesat,” tutur Syamsul.


Faktor kelima adalah dukungan ekonomi altruistik yang memadai terutama dari sektor perwakafan. Di zaman tengah Islam, wakaf memainkan peran penting dalam pengembangan pendidikan dan riset ilmiah. Perguruan-perguruan merupakan tempat belajar ilmu pengetahuan yang gratis karena dukungan dana wakaf.


“Dengan etos keilmuan umat yang kuat dan dorongan seperti ini peradaban Islam mencapai kejayaannya dalam pengembangan ilmu di abad tengah. Tetapi kemudian peradaban ini mengalami kemerosotan dan bersamaan dengan kemerosotan peradaban Islam itu terjadi kemunduran kegiatan keilmuan yang berujung pada ketertinggalan jauh kaum Muslimin dalam bidang iptek seperti sekarang ini,” keluh Syamsul.***(mhmd)

Iklan