Fikih Kebudayaan: Tegaskan Muhammadiyah Tidak Anti Budaya Lokal

Notification

×

Iklan

Iklan

Fikih Kebudayaan: Tegaskan Muhammadiyah Tidak Anti Budaya Lokal

Senin, 05 Juni 2023 | 10:40 WIB Last Updated 2023-06-05T03:40:03Z


MALANG
– Sejak kelahirannya, Muhammadiyah tidak bersikap antipati terhadap kebudayaan lokal. Kebudayaan itu, justru digunakan sebagai salah satu pendekatan syiar dan dakwah Islam.


Tokoh-tokoh Muhammadiyah kerap dijumpai mengakomodasi kebudayaan itu. Salah satu contohnya cara berpakaian Ki Bagus Hadikusumo yang menggambarkan sosok seorang Jawa Tulen; pakaian beskap dan blangkon.


Dalam rangka menguatkan ikatan Muhammadiyah dengan kebudayaan, Lembaga Seni Budaya (LSB) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PMD) Kota Batu menggelar Orasi Fiqih Budaya, Sabtu malam (3/5/2023).


Orasi kebudayaan bertajuk ‘Apresiasi Ragam Cahaya Islami’ ini dipaparkan oleh Wakil Ketua LSB Pimpinan PusatMuhammadiyah, Kiai Cepu Husen, Ph.D.


Dalam orasinya, Kusen menyebut bahwa kesuksesan persebaran Islam di Nusantara dipengaruhi oleh penggunaan jalur-jalur kultural yang mengakomodasi budaya lokal setempat disesuaikan dengan prinsip pokok ajaran Islam. 


Melalui proses akulturasi dan asimilasi ini lahirlah entitas Islam yang khas Nusantara. Tak berhenti di sini, Muhammadiyah kata Kusen perlu menguatkan kembali soal fikih kebudayaan.


“Secara empiris, interaksi Islam dengan kemajemukan budaya Nusantara menuntut adanya pemikiran ulang terhadap ilmu fikih yang dipadukan dengan sosio-kultural masyarakat Indonesia. Jika tak ada harmonisasi antara keduanya maka akan menimbulkan ketaksaan (ambiguitas) bagi pemeluknya,” kata Kusen.


Senada dengannya, Ketua PDM Kota Batu, Tsalis Rifai menegaskan urgensi memahami dan menerapkan fikih kebudayaan yang mengacu pada pemahaman dan penyesuaian hukum Islam dengan nilai-nilai budaya setempat, dengan tetap memegang teguh prinsip-prinsip ajaran agama serta upaya untuk menjaga harmoni dan kesepahaman antara komunitas-komunitas yang berbeda.


“Dengan memahami dan mengamalkan ajaran Islam yang relevan dengan konteks budaya lokal, umat Muslim dapat menciptakan harmoni antara identitas keagamaan dan kebudayaan mereka,” ujarnya.


“Sebetulnya warga Muhammadiyah tidak alergi terhadap aspek seni budaya. Seni budaya boleh hukumnya asal membawa pencerahan dan tidak menimbulkan kemusyrikan. Hal itu ditegaskan dalam Muktamar Muhammadiyah di Jakarta tahun 2000,” imbuh Tsalis.


Adapun Ketua LSB Muhammadiyah Kota Batu, Akbar Mahadi mengatakan jika gelaran kebudayaan ini merupakankali pertama sejak kelahiran Muhammadiyah Batu pada tahun 2000. Acara semacam ini menurutnya penting sebagai untuk mengaktualisasi ideologi Muhammadiyah di tengah masyarakat.


“Maka bagi warga Muhammadiyah dibutuhkan pemahaman fikih kebudayaan. Kami juga mengenalkann LSB Muhammadiyah yang sudah lama vakum sejak 2010 lalu. Misi kami tak lepas dari strategi dakwah melalui pendekatan seni budaya,” ungkap Akbar. ***(afn)