Teologi Al-Maun Muhammadiyah

Notification

×

Iklan

Iklan

Teologi Al-Maun Muhammadiyah

Jumat, 11 Agustus 2023 | 17:59 WIB Last Updated 2023-08-11T10:59:06Z


Oleh: Ahmad Syafii Maarif


JAKARTA - Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah kabarnya sedang menyusun secara mendasar dan artikulatif Teologi al-Ma'un, suatu teologi pemihakan kepada kaum miskin, telantar, tertindas , terpinggirkan, dan kepada anak yatim yang jumlahnya cukup masif di Indonesia sampai sekarang ini. Saya menyambut dengan penuh kegembiraan upaya tarjih ini, karena Mu hammadiyah memang belum pernah menulis sebuah risalah yang komprehensif tentang kaitan antara doktrin tauhid dan pembelaan terhadap golongan tertindas dan lemah ini, baik secara sosial ekonomi maupun dari sisi iman dan pendidikan.


Kiai Haji Ahmad Dahlan (1868-1923), pendiri Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330/18 November 1912, pernah membuat murid-muridnya bertanya-tanya keheranan saat memberi pelajaran tafsir. Ketika mengungkapkan surah al-Ma'un (Alquran surah 107) secara berulang-ulang tanpa diteruskan dengan surah lain, Dahlan sebenarnya sedang menguji kepekaan batin para muridnya dalam memahami Alquran, apakah sekedar untuk dibaca atau langsung diamalkan.


Baru para murid itu paham bahwa Alquran tidak hanya menyangkut dimensi kognitif, tetapi sekaligus sebagai pedoman bagi aksi sosial. utamanya para murid itu mencari orang-orang miskin dan anak yatim di sekitar Yogyakarta untuk disantuni dan diperhatikan. Maka, berdirinya Panti-Panti Asuhan dan Rumah Sakit PKU tahun 1923 merupakan salah satu perwujudan dari aksi sosial ini.


Rumah sakit ini yang semula bernama PKOE (Penolong Kesengsaraan Oemoem) itu kini telah berkembang menjadi 500 unit, besar berupa rumah sakit dan kecil berupa klinik yang bertebaran di seluruh nusantara. Salah seorang yang mu singkir itu bernama Muhammad Syudja, pengusul sikap PKOE yang semula ditentang dan di lawan habis-habisan oleh para ulama dan umat Islam pada umumnya karena dinilai telah me niru praktek Belanda Kristen yang telah mendirikan rumah sakit.


Ahmad Dahlan adalah seorang liberal dalam arti tidak takut merayakan kebebasan dalam mencari hikmah dari manapun asalnya atau meniru pihak lain untuk mempertaruhkan agama. Menghadapi perlawanan itu pemuda Syudja tidak surut pun. Bahkan, malah menjawab tantangan itu dengan ungkapan, ''Hum rijal wa nahnu rijal'' (mereka laki-laki, kita pun laki-laki). Dengan sikap tegas ini, Muhammadiyah telah melaksanakan sisi praksisme dari Teologi al-Ma'un.


Bayangkan oleh tuan dan puan, mendirikan rumah sakit saja ketika itu diharamkan. Apa yang kini sedang dirumuskan oleh Majelis Tarjih tentang teologi pelemahan itu, sekalipun harus menanti satu abad lebih dulu, kita harus beri penghargaan yang tinggi, karena kesadaran umat Islam tentang perlunya teologi keberpihakan kepada mereka yang tertindas tidak selalu tajam, padahal Alquran, khususnya surah- surah Makkiyah (wahyu yang turun pada periode Makkah) dengan sangat gamblang memberi isyarat keras untuk melangkah ke arah itu.


Surah al-Ma'un hanyalah salah satu di an tara surah-surah Makkiyah. Surah ini tidak tanggung jawab mengatego rikan sebagai pendusta terhadap agama mereka yang tidak peduli atas nasib anak yatim dan orang miskin. banyak Ahmad Dahlan telah menangkap isyarat Alquran itu sehingga kajian tafsirnya perlu diulang-ulang sampai para muridnya betul betul tentang apa tujuan pengumun itu.


Itulah sekelumit suasana beragama di kampung Ka uman, Yogyakarta, pada awal 1920-an. Saya rasa fenomena serupa dapat ditemukan di mana-mana di seluruh dunia Islam ketika itu. Agama itu tidak lebih dari seremoni dan ritual dalam format ibadah dalam makna yang sangat sempit. Adapun perlunya pembelaan kepada mereka yang tertindas dan terpinggirkan tidak dipandang sebagai bagian yang menyatu dengan keberagamaan seorang muslim.


Jika demikian halnya, tidaklah mengapa benar mengapa ada umat Islam, seperti Tan Malaka, Haji Misbach, dan Alimin, menjadi Mar Xis atau bahkan kehancuran karena di dalamnya ditemukan doktrin-doktrin radikal radikal tentang menyelamatkan manusia dari ketertindasan itu. Saya berharap, Majelis Tarjih berhasil menyusun sebuah risalah yang lebih radikal dibandingkan dengan Teologi Pembebasan yang telah lama dikembangkan teolog Katolik di Amerika Latin.


Dengan cara ini umat Islam Indonesia akan menyadari dirinya sebagai pendusta jika anak yatim dan orang miskin dibiarkan berkeliaran seperti yang kita saksikan di mana-mana sekarang ini, baik di kota maupun di pedesaan. Apa yang telah ditangani Muhammadiyah bersama dengan banyak gerakan lain dan Kementerian Sosial dengan panti-panti sosialnya sama sekali belum mampu mengatasi masalah sosial yang akut dan berat ini.


Islam adalah agama yang pro orang miskin, tapi sekaligus antikemiskinan, karena misi itu harus bersifat sementara.


Sebenarnya, secara konstitusional, merupakan kewajiban negara untuk menghapus kemiskinan sampai batas-batas yang jauh, tetapi karena strategi pembangunan Indonesia merdeka tidak sepenuhnya dikendalikan oleh cita- cita luhur itu, terjadilah apa yang berlaku sampai hari ini. Kesenjangan sosial ekonomi masih menganga lebar di tengah pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan pemerintah itu. Oleh karena itu, diperlukan kejujuran dalam membaca ulang strategi pembangunan kita selama ini yang belum juga berpihak pada kepentingan mayoritas rakyat Indonesia.


Tanpa kejujuran, akan sangat sulit bagi bangsa dan negara ini agar terbebas dari gejolak-gejolak sosial yang semakin marak dari waktu ke waktu. Penyebab utamanya tunggal: tak peduli terhadap keadilan yang dengan tegas ditekankan oleh Pancasila. Diharapkan, dengan mengacu pada parameter Teologi al-Maun, orang akan semakin sadar pola pembangunan kita selama ini ternyata telah melahirkan banyak sekali para pencoleng, koruptor, dan pendusta, sekalipun mereka sembahyang dan bertitel haji.


Kementerian Agama sering disalahartikan sebagai penjualan paling korup. Sebagai seorang muslim, mendengar penghakiman ini rasanya bahu saya mau runtuh karena menanggung rasa malu. Adalah sebuah ironi, Indonesia yang sejak merdeka pada umumnya dipimpin oleh para haji, tetapi mengapa seperti tidak ada korelasi signifikan dengan perbaikan moral bangsa. Saya tidak mengatakan semua haji itu pasti memiliki karakter lemah atau yang bukan haji/non muslim pasti lebih baik perilakunya dibandingkan mereka yang senang menyandang gelar haji.


Namun demikian, penyebab kerusakan bangsa ini adalah akibat dosa kolektif kita, tetapi sebagian besar kita tidak mau mengakuinya. Inilah di antara sumber malapetaka yang tak henti-hentinya mendera kita semua dan belum tampak tanda tanda untuk perbaikan.


Namun, Alquran melarang orang untuk berputus asa. oleh karena itu, kita wajib bekerja terus-menerus untuk memperbaiki seberapapun awan gelap masih belum juga menguak bagi datangnya sinar terang agar moral bangsa ini pulih sehingga hidup kita menjadi nyaman dan aman di lingkungan gugusan ribuan pulau yang cantik ini.


Apa sebenarnya yang terjadi dengan para pemimpin bangsa Muslim terbesar ini? Dalam surah al-Maun, terbaca dengan jelas Allah benci pada sikap berpura-pura, tidak autentik.


Artinya, jika beragama karena ria atau karena mengejar status sosial, nilai sembahyang, haji, puasa, dan zakat adalah hampa di sisi Allah. Saya sangat cemas, jangan-jangan saya termasuk dalam kategori ini. Dengan kata lain, menampilkan wajah kusam ini samalah artinya dengan menohok diri sendiri karena saya tidak tahu apakah ibadah haji saya harganya di depan Allah.


Dalam Alquran, surah al-Balad ayat 11-16, pembelaan terhadap orang yang lemah dan terpinggirkan disebut sebagai al-`Aqabah (pendakian terjal yang sukar). Makna surah tersebut, "Tapi, dia tidak mau mendaki pendakian yang sukar itu. Apakah kamu apakah mendaki yang sukar itu? (Yaitu) membebaskan budak. Atau memberi makan pada hari kelaparan. Kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat atau kepada orang miskin yang terbaring di atas debu."


Ayat-ayat ini menggambarkan dengan tajam kondisi Kota Makkah di bawah kekuasaan oligarki Quraisy yang menindas, tidak punya kepekaan nurani untuk berbagi. Muhammad, sebelum dan sesudah diangkat menjadi nabi dan rasul, menyaksikan dengan mata kepalanya betapa parahnya ketegangan sosial ekonomi di tengah-tengah transaksi komersial yang penuh sorak-sorai di kota itu.


Kondisi ketidakadilan inilah yang menjadi salah satu faktor pendorong kuat mengapa Muhammad harus menyendiri ke Gua Hira sampai wahyu pertama turun di sana. Dengan bekal wahyu yang kemudian turun secara persenjataan berikutnya, Muhammad tidak pernah lagi pergi ke gua itu, tetapi langsung menggumulkan dirinya dengan masyarakat Makkah dengan niat suatu hari dapat memulihkan situasi gelap itu menuju kehidupan bersama yang terang benderang.


Jalan al-`Aqabah harus ditempuh dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, demi tegaknya keadilan. Akhirnya, saya berharap bah wa Teologi al-Maun yang sedang menyusun Majelis Tarjih itu akan mempertimbangkan dengan saksama realitas sosial Kota Makkah seperti gambar di atas. Dalam ungkapan lain, keadilan adalah sisi lain dari mata uang yang sama dari ajaran tauhid yang dikukuhkan kembali oleh Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah langit terakhir untuk kepentingan bumi.


Kita beruntung karena sila kelima Pancasila berbunyi "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," yang sebenarnya juga merupakan sisi lain dari mata uang yang sama dari sila pertama, "Ketuhanan Yang Maha Esa."


Tetapi, sila pertama ini akan tetap menggantung di awan tinggi jika sila kelima dibiarkan telantar seperti yang terjadi di Kota Makkah yang penduduknya juga percaya kepada Allah sebagai pencipta alam semesta (lihat misalnya surah al-'Ankabut ayat 61).


Redaktur: M Irwan Ariefyanto

Sumber: Resonansi, HU REPUBLIKA, 2012.