Iklan

Iklan

,

Iklan

Muslim Berkualitas itu Selalu Menabur Kebaikan!

Redaksi
Rabu, 13 Maret 2024, 13:35 WIB Last Updated 2024-03-13T06:35:05Z


JAKARTA --
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri ...” (QS. Al-Isra’ [17]:7).


“Siapa yang menabur, maka dia akan menuai.” Ungkapan tersebut pasti sudah tidak asing di telinga kita. Menabur adalah proses awal menyebarkan benih tanaman sebelum menjadi bibit. 


Kemudian, hanya bibit terbaiklah yang akan siap ditanam di ladang. Setelah tumbuh dan siap panen, barulah kita dapat menuai hasil dari apa yang kita tanam tersebut. 


Nah, begitulah hukum kehidupan. Di mana ada aksi, pasti ada reaksi. Di saat kita berbuat, tentu akan merasakan akibat. Akan ada konsekuensi dari setiap tindakan yang kita lakukan.


Jika perbuatan itu baik, maka kita akan menuai kebaikan. Sebaliknya, jika perbuatan itu buruk, kita pun akan menuai keburukan. Inilah hukum tabur-tuai yang ratusan tahun telah ada dalam tradisi masyarakat kita. 


Tentu, tidak ada satu pun manusia yang ingin merasakan keburukan, kepahitan, dan juga penderitaan. Semua orang tentu hanya ingin sesuatu yang baik, indah, menyenangkan, dan membahagiakan. Itu sudah fitrah.


Namun, pada praktiknya, seringkali fitrah kita untuk selalu hidup penuh keindahan dan kebahagiaan bertentangan dengan usaha kita dalam mewujudkannya. Kita malah berperilaku buruk dan terjatuh dalam lembah maksiat.


Hukum tabur-tuai ini sebenarnya mengajarkan kita untuk tidak takut dan khawatir dengan perbuatan yang kita lakukan. Tenang saja, amal seseorang tidak akan pernah tertukar. 


Jadi, tak perlu galau saat berbuat baik, namun tak mendapatkan apresiasi orang lain; karena balasan-Nya pasti datang untuk kita juga. Semakin kita ikhlas, balasan pun akan semakin berlipat ganda!


Perhitungan balasan Allah atas amal manusia mengandung banyak hikmah paling besar, yakni betapa Maha Kasihnya Allah. Kasih sayang-Nya pada manusia membuat perhitungan amal manusia sangat berpihak pada manusia itu sendiri. 


Kebaikan dan keburukan tidak pernah dihitung sama. Bayangkan, jika perhitungannya sama, kita tentu bisa menebak, lebih banyak mana kebaikan dan keburukan yang ada pada diri kita? Ya. Bisa jadi, dan sangat memungkinkan, sejatinya lebih banyak keburukan yang tertanam dalam diri kita. 


Namun, Allah dengan kasih sayang-Nya telah memberikan banyak waktu kepada kita untuk memperbaiki keburukan itu dengan kebaikan. 


Janji Allah bahwa balasan atas amal yang disertai ikhlas akan berlipat ganda harus menjadi motivasi untuk kita. Jangan pernah ragu dengan janji Allah. Mulailah lakukan sesuatu yang baik. Beramallah dengan tulus.


Bahkan, di dalam Al-Quran, berbuat baik dengan ikhlas diilustrasikan seperti berdagang dengan Allah. Kebaikan yang kita lakukan akan mendatangkan keuntungan. Kenapa? 


Karena seperti tadi disebutkan bahwa pahala kebaikan yang dilandasi keikhlasan akan terus dilipatgandakan. Tentu, itu pun sesuai dengan kualitas amal yang kita lakukan.


Berbuat baik adalah sedekah. Allah telah menyatakan bahwa orang yang bersedekah tidak akan mengalami kerugian atau kebangkrutan. Justru bersedekah membuat manusia kaya. 


Dalam konsep sedekah, Allah menggambarkan perhitungan yang berlipat ganda sebagaimana perhitungan amal yang telah diuraikan sebelumnya. Allah menyebut bersedekah ibarat sebulir padi yang bertumbuh menjadi 70 kali atau bertumbuh hingga 100 kali, bahkan 700 kali.


Akan tetapi, harus diingat, bahwa poin pentingnya bukan pada seberapa besar balasan yang akan kita terima setelah berbuat baik. Biarlah itu menjadi urusan Allah. 


Namun, pelajaran yang kita dapat adalah—sekali lagi—setiap perbuatan baik dan buruk selalu akan dibalas dengan balasan yang setimpal. Allah Maha Penghitung segalanya sehingga urusan hitung-menghitung jumlah balasan yang akan kita terima, biarlah hanya Allah yang tahu.


Tugas kita sekarang adalah mengukur diri sendiri. Apakah perbuatan yang kita lakukan layak mendapat balasan kebaikan atau keburukan. 


Ukurlah dengan alat ukur yang kita miliki dalam diri masing-masing, yaitu hati nurani. Hati nurani diciptakan Allah untuk mengukur seluruh amal yang kita lakukan setiap hari.***(SAB)

Iklan