Iklan

Iklan

,

Iklan

Peacesantren Welas Asih, Didik Santrinya Jadi Pengusaha

Redaksi
Kamis, 28 Maret 2024, 19:01 WIB Last Updated 2024-03-28T13:31:29Z


GARUT --
Salah satu pondok pesantren di Kabupaten Garut, menerapkan pola pendidikan mutakhir bagi para santrinya. Salah satunya, para santri dididik agar bisa mengoperasikan perusahaan sungguhan sejak duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).


Hal tersebut dilakukan Peacesantren Welas Asih, yang ada di Desa Sukarasa, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. Di sini para santrinya dididik untuk bisa mengoperasikan bisnis sejak remaja.


"Jadi selain tentunya diajarkan ilmu agama dan pengetahuan umum, kami juga di awal harus memilih bisnis apa yang akan diikuti dan dijalankan," kata Adkhilni Mudkhala Shidqie, salah seorang santri Peacesantren Welas Asih.


Ada 6 perusahaan yang sudah diciptakan dan dijalankan para santri di Peacesantren Welas Asih. Perusahaan-perusahaan itu dijalankan para santri dengan guru-guru sebagai mentornya. Keenam bisnis tersebut tercipta dari hasil pengamatan dan observasi yang dilakukan para santri.


Bisnis para santri ini, bukan sembarang bisnis. Melainkan, perusahaan yang selain bisa mengembangkan kemampuan para pelajar, juga bermanfaat bagi lingkungan di sekitarnya.


Keenam perusahaan yang didirikan para santri di Peacesantren Welas Asih ini, yaitu WA-Farm yang bergerak di bidang pertanian dan peternakan, WASI yang bergerak di bidang penerapan sains, WATASI yang membawahi penyelenggaraan event, SERO atau pengelolaan merchandise. Serta WATech yang bergerak di bidang teknologi serta Scrabble yang bisa mengerjakan percetakan.


Para pelajar di tingkat SMA, seperti Shidqie, diwajibkan memilih bidang bisnis tersebut, sesuai dengan minat dan kesukaannya. Setelah itu, mereka akan mengembangkan bakat dalam berbisnis, di bidang perusahaan yang dipilih.


"Misalnya saya bergabung dengan WATASI. Jadi setiap event yang diselenggarakan Welas Asih, saya dan teman-teman yang menjadi event organizernya. Selain itu, kita juga menyediakan jasa guide edukasi wisata," katanya.


Seperti halnya yang mereka lakukan, pada Sabtu dua tahun yang lalu. Dalam event Marketing Day yang diselenggarakan, para pelajar tampil turut ambil bagian, dari pelajar SMP sampai SMA yang ada di sana, semuanya memiliki peran masing-masing.


Mulai dari para santri yang bertugas menyiapkan event, merchandise, hingga dokumentasi. Ada juga beberapa santri, yang memiliki beragam karya ikut tampil, seperti mereka yang menerbitkan buku. Karya-karya itu, ditunjukan kepada para orang tua, yang hadir dalam kegiatan tersebut.


Aksi pengelolaan perusahaan yang sudah berjalan di Peacesantren Welas Asih ini tak lepas dari peran para pengelola. Salah satunya, sang pendiri, Irfan Amali. Para pelajar SMA di lembaga pendidikannya mulai diajari menjalankan perusahaan sejak pertama kali didirikan enam bulan lalu.


Irfan mengatakan, pihaknya menerapkan konsep pendidikan yang berjenjang. Sebelum diberikan kesempatan menjalankan perusahaan sungguhan di jenjang SMA, para santri terlebih dahulu dibekali kemampuan berpikir kritis dan peka di jenjang SMP.


"Konsep tentang ini 6 tahun dari SMP sampai SMA itu, melahirkan seorang social entrepreneur. Memecahkan permasalahan sosial bukan hanya mencari uang. Cuman, untuk tiga tahun pertama pas di SMP, mereka jadi kayak portofolio. Karya-karyanya tidak punya dampak finansial, tapi ada dampak sosialnya. Nah, ketika SMA, mereka sudah ada unsur finansialnya gitu. Jadi sudah bisnis," kata Irfan.


Konsep itu diambil Irfan, karena dia ingin para santri bisa menjadi solusi bagi masyarakat. Selain mapan dan siap menjadi entrepreneur setelah selesai belajar, para santri juga diharap bisa menjadi 'penerang' di tengah-tengah masyarakat.


Ada sembilan nilai yang ditanamkan Peacesantren dalam mendidik muridnya. Mulai dari tauhid, empati, kemandirian, keberanian dan keterampilan. Serta mampu berpikir kritis, mampu memecahkan masalah, kreatif dalam menentukan solusi, dan kolaboratif.


Selain itu, para santri di Peacesantren Welas Asih juga diajari ilmu-ilmu yang lazimnya dienyam para mahasiswa di perguruan tinggi. Salah satunya, seperti Business Model Canvas.


"Kita itu belajar terlambat. Anak-anak sekarang itu tidak usah belajar seperti kurva kita belajar. Oleh karena itu, kita harus bikin perjalanan belajarnya yang lebih singkat," pungkas Irfan.***

Iklan