Beginilah Proses KH Ahmad Dahlan Sang Pendiri Muhammadiyah Mencari Ilmu

Notification

×

Iklan

Iklan

Beginilah Proses KH Ahmad Dahlan Sang Pendiri Muhammadiyah Mencari Ilmu

Kamis, 11 Agustus 2022 | 17:36 WIB Last Updated 2022-09-01T05:49:56Z

MGN --
Beginilah proses KH Ahmad Dahlan sang pendiri Muhammadiyah dalam mencari dan berguru ilmu kepada para ulama. Tokoh bangsa yang juga pahlawan nasional ini punya banyak guru di Nusantara.

Ya, KH Ahmad Dahlan menjadi sebagai pembaru Islam di Indonesia bukan muncul tiba-tiba, melainkan lahir dari proses panjang pemikiran dan tanpa lelah dalam belajar agama.

Para guru, mentor, atau teman diskusinya tersebar di Nusantara, bahkan di jazirah Arab, misalnya Rasyid Ridla, di mana KH Ahmad Dahlan sempat bertemu dan bertukar pikiran dengan cendekiawan pembaru Islam ini.

Punya banyak guru


Mengutip buku "Tajdid Muhammadiyah dari Ahmad Dahlan hingga Ahmad Syafii Maarif" karya Herry Sucipto dan Nadjamuddin Ramly, tercatat antara lain pemuda bernama Muhammad Darwis (nama kecil KH Ahmad Dahlan) pernah belajar ilmu fikih kepada KH Muhammad Saleh.

Kemudian belajar ilmu nahwu kepada KH Muhsin, belajar ilmu falak kepada KH Raden Dahlan, belajar ilmu hadis kepada KH Mahfud dan Syaikh Khayyar, serta belajar ilmu Al-Quran kepada Syaikh Amin dan Sayid Bakri Satock.

KH Ahmad Dahlan muda pernah belajar ilmu pengobatan dan racun binatang kepada Syaikh Hasan. Bahkan konon katanya KH Ahmad Dahlan juga pernah satu kamar dengan pendiri NU yakni KH Hasyim Asy'ari ketika belajar teologi kepada KH Shaleh Darat di Semarang.

Guru-guru KH Ahmad Dahlan tersebut merupakan para ulama terkemuka pada saat itu. Boleh dikatakan bahwa KH Ahmad Dahlan menimba ilmu kepada guru yang jelas nasab keilmuannya.

Bermukim dan memperdalam ilmu di Makkah


Pada 1890 saat berusia 22 tahun, Muhammad Darwis menunaikan ibadah haji. Ketika melaksanakan rukun Islam kelima inilah Muhammad Darwis mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan.

Tidak ada sumber yang menyebutkan mengapa ia mengganti nama dan kenapa ia memilih nama itu. Yang jelas kepergian KH Ahmad Dahlan melaksanakan ibadah haji itu telah membuka matanya bahwa bila ingin mendalami ilmu agama, ya, di Tanah Suci itulah tempatnya.

Pada 1903 KH Ahmad Dahlan yang menikah pada usia 24 tahun itu menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya. Kali ini ia juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bermukim sekitar 1,5 tahun di Makkah.

Selama di Makkah, KH Ahmad Dahlan banyak memperdalam ilmu agama. Di antaranya berguru kepada Syaikh Nawawi Al-Bantani, Kiai Mas Abdullah dari Surabaya, dan Kiai Faqih Kuman.

Di samping itu, KH Ahmad Dahlan juga banyak membaca buku-buku karangan para lama besar. Misalnya kitab Ilmu Kalam dan Ahlus Sunnah wal Jamaah, kitab fikih Imam Syafii, kitab tasawuf karya Imam Al-Ghazali, karya-karya Ibnu Taimiyah, dan brosur-brosur karya Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani.

Belajar sepanjang hayat


"Saya akan belajar sepanjang hayat," kata KH Ahmad Dahlan pada suatu hari. KH Ahmad Dahlan benar-benar memenuhi kata-katanya itu.

Hampir sepanjang hayatnya KH Ahmad Dahlan terus belajar, memburu ilmu pada para ulama ternama, dan terus banyak membaca.

Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau puluhan kitab penting dan ratusan buku ia miliki secara pribadi. KH Ahmad Dahlan membaca dan mengkaji semua kitab itu berulang-ulang.

Antara lain Kitab Tauhid karya Muhammad Abdul dan Kitab Fil Bid'ah karya Ibnu Taimiyah--dua pemikir dan pembaru Islam yang banyak mempengaruhi pemikiran KH Ahmad Dahlan.

Selain membaca buku/kitab, KH Ahmad Dahlan juga rajin bertukar pikiran dengan ulama-ulama ternama. Ia tekun mengikuti perkembangan pemikiran pembaruan Islam melalui majalah "Al-Manar" asuhan Rasyid Ridla.

Dari majalah itu pula, antara lain, KH Ahmad Dahlan menyimak gagasan-gagasan pembaruan Islam dari Jamaluddin Al-Afghani.

Sifat selalu haus akan ilmu sebenarnya sudah tampak pada diri anak keempat KH Abu Bakar ini sejak kecil. Mendapat pengetahuan pertama dari sang ayah, KH Ahmad Dahlan berguru kepada beberapa ulama. Misalnya belajar tafsir dan hadis, kemudian bahasa Arab dan ilmu fikih.

Selama bermukim di Makkah juga KH Ahmad Dahlan belajar ilmu kiraat, tafsir, ilmu tauhid, fikih, tasawuf, ilmu falak, dan bahasa Arab. Tampaknya KH Ahmad Dahlan mengamalkan hadis Rasulullah SAW: "Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan."

Oleh karena itu, sepulang dari Makkah, KH Ahmad Dahlan mencari guru-guru baru lagi. Ia memperdalam berbagai ilmu agama kepada KH Mohammad Nur, KH Said, KH Muchsin, KH Abdul Hamid, KH Dahlan, Syaikh Mohammad Jamil Jambek, dan R Ngabehi Sosrosugondo.

Saat usia 34 tahun (pada 1902) KH Ahmad Dahlan berangkat lagi ke Makkah dan tinggal di sana selama dua tahun, lagi-lagi kesempatan itu dimanfaatkannya untuk menambah ilmu agama.

Selain berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, KH Ahmad Dahlan juga sempat bertemu dan bertukar pikiran dengan tokoh pembaru Islam bernama Rasyid Ridla.

Pada periode ini pula ulama besar dari Nusantara lainnya--yang kelak belasan tahun kemudian mendirikan NU--yakni KH Hasyim Asy'ari belajar dan bermukim di Makkah.***