Iklan

UMBandung

Iklan

UMBandung
,

Iklan

Hikmah Berkurban di Hari Raya Idul Adha

Redaksi
Selasa, 07 Mei 2024, 08:52 WIB Last Updated 2024-05-07T02:45:51Z


JAKARTA --
Hari raya Islam disebut “Id”. Kata ini memiliki makna di mana Allah SWT memperlihatkan kebaikan dan kemurahan-Nya yang kembali berulang setiap tahun, memberikan kegembiraan dan kepuasan kepada seluruh makhluk-Nya. 


Kata “Id”, yang sering diterjemahkan sebagai ‘hari raya’ dalam bahasa Indonesia, memiliki akar etimologi dari al-mausim (musim), menandakan keberulangan peristiwa yang terjadi setiap tahun.


Ketika kita mendengar kata “kurban”, kita akan langsung teringat pada praktik ibadah yang penting dalam agama Islam. Asal kata “kurban” sendiri berasal dari bahasa Arab “qurban”, yang memiliki akar kata “qaruba-yaqrubu-qurbanan” yang artinya hampir, dekat, atau mendekati. Dalam bahasa Arab, kata “qurban” juga disebut dengan “udliyyah”, yang merupakan bentuk jamak dari kata “dlahiyah” yang berarti binatang sembelihan. Istilah ini juga sering disebut sebagai “nahr”.


Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kurban adalah udhhiyyah, sebagaimana yang dikemukakan oleh Wahbah Zuhailiy. “Dia (kurban) adalah menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri (kepada Allah) dalam waktu tertentu pula atau hewan yang disembelih dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah pada hari-hari Nahar”.


Hikmah Ibadah Kurban


Berkurban pada Hari Raya Idul Adha dan hari tasyriq tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga penuh dengan hikmah yang dalam. Salah satu hikmah utamanya adalah sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Dalam momen ini, umat Muslim diingatkan untuk bersyukur atas segala karunia yang diberikan Allah.


Selain itu, berkurban pada Hari Raya Idul Adha juga memberikan pelajaran berharga bagi orang yang beriman kepada Allah. Kita dapat mengambil contoh dari keluarga Nabi Ibrahim AS, di mana kesabaran dan keteguhan hati Nabi Ibrahim beserta putranya, Nabi Ismail AS, ketika keduanya menjalankan perintah Allah menjadi inspirasi bagi kita semua. Mereka mengutamakan ketaatan kepada Allah di atas segala-galanya, bahkan melebihi cinta kepada diri mereka sendiri dan keluarga.


Selain itu, hikmah dari berkurban juga membangun kesadaran tentang kepedulian terhadap sesama, terutama terhadap orang miskin. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, “Beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS. Al-Hajj: 36). 


Dengan berbagi daging kurban kepada yang membutuhkan, kita menghidupkan nilai-nilai solidaritas dan keadilan sosial.


Referensi: Materi Pengembangan HPT Majelis Tarjih PP Muhammadiyah


Iklan