Iklan

Iklan

,

Iklan

Ka’bah Bangunan Suci Umat Islam di Dunia

Redaksi
Jumat, 31 Mei 2024, 12:39 WIB Last Updated 2024-05-31T05:42:10Z


JAKARTA --
Ka’bah sebagai pusat kiblat umat Islam sedunia, telah mengalami perjalanan panjang dengan dinamika yang cukup beragam. Dalam lintasan perjalanan sejarah, Ka’bah juga sempat mengalami beberapa kali kerusakan, dan beberapa kali perbaikan serta renovasi.


Salah satu dampak dengan adanya perbaikan dan renovasi ternyata pernah menjadikan Ka’bah memiliki dua buah pintu. Lalu, apa dan bagaimana dua pintu Ka’bah itu ?


Letak Pintu Ka’bah


Pintu Ka’bah yang sekarang tampak oleh banyak orang dengan hiasan ornamen yang indah itu terletak di sebelah timur Ka’bah, tidak jauh dari Hajar Aswad, titik memulai thawaf atau mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali.


Sedangkan bekas pintu keduanya, sebenarnya masih bisa tampak bekasnya hingga sekarang. Akan tetapi karena tertutup Kiswah atau kain hitam penutup Ka’bah, bekas pintu tersebut tidak tampak kecuali ketika saat-saat tertentu saja. Bekas pintu ini terletak di sebelah barat, tepat berhadapan dengan pintu Ka’bah yang masih bertahan sampai hari ini.


Tentang Bekas Pintu Ka’bah Kedua


Dalam beberapa referensi sejarah, Ka’bah pada awalnya tidak berbentuk kubus seperti yang tampak sekarang, bahkan disebutkan Ka’bah tidak berpintu dan tidak berjendela. Ka’bah baru memiliki pintu ketika masa kekuasaan kaum Tubba’ atau Kerajaan Yaman Kuno. Bahkan pada masa itu, Ka’bah memiliki dua pintu di sisi timur (yang tampak sekarang) dan sisi barat, dan tidak berjarak dari tanah. Dua pintu tersebut menjadi akses keluar masuk pengunjung Ka’bah pada masa itu.


Lalu, Ka’bah pernah mengalami kerusakan di masa kaum Quraisy menguasai Mekkah karena banjir bandang di Makkah masa itu. Bagian yang hancur ini diperkirakan adalah bagian yang sekarang menjadi Hijir Isma’il. Ketika kaum Quraisy memperbaiki Ka’bah, pintu Ka’bah sebelah barat ditutup selama perbaikan itu berjalan. Pintu Ka’bah sebelah timur juga dinaikkan beberapa hasta dari tanah. Di renovasi Ka’bah di era Quraisy ini pula Nabi Muhammad -shallallahu ‘alahi wa sallam– memiliki peran dalam meletakkan Hajar Aswad kembali pada tempatnya.


Hingga ketika ‘Abdullah bin Zubayr bin ‘Awwam menguasai Makkah pada sekitar tahun 64 H, kemudian kembali merenovasi Ka’bah setelah mengalami beberapa kerusakan, dan membuka pintu barat yang sekian lama tertutup, seperti sebelum kaum Quraisy merenovasinya pada masa lalu. Sehingga Ka’bah pada masanya kembali memiliki dua akses pintu, yaitu di sisi barat dan di sisi timur.


Ketika al-Hajjaj bin Yusuf berkuasa sebagai amir atas Makkah, pintu sisi barat Ka’bah kembali ditutup. Bentuk inilah yang dipertahankan sejak era Abdul Malik bin Marwan di masa Daulah Umawiyah hingga sekarang.


Sebenarnya, pintu kedua Ka’bah hampir dibuka kembali di masa Khalifah al-Mahdi di era Daulah ‘Abbasiyah. Akan tetapi Imam Malik bin Anas memberikan saran, dan mengatakan “Saya tidak setuju Ka’bah menjadi “mainan” para penguasa, ketika penguasa (Makkah) berganti, maka diganti pula bentuknya“. Semenjak itu, Ka’bah bertahan dengan bentuknya dengan satu pintu hingga sekarang.


Syadzarwan, “Sarung” yang Dimiliki Ka’bah


Ka’bah sebagai pusat kiblat umat Islam memang tampak sederhana, seolah “hanya” merupakan bangunan batu besar berbentuk kubus yang ditutup dengan kain hitam dengan hiasan ornamen di beberapa sisinya. Akan tetapi jika melihat dengan lebih rinci, ternyata Ka’bah tidak sesederhana itu. Ada beberapa bagian yang jarang orang ketahui.


Salah satunya adalah fakta bahwa Ka’bah memiliki “sarung” yang biasa disebut para sejarawan sebagai “Syadzarwan”. Lalu apa dan bagaimana sebenarnya Syadzarwan itu ?


Penyebutan “syadzarwan” sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Persia, yang berakar kata dengan makna “kain sarung”, hal yang wajar karena sebagian kosa kata dalam bahasa Arab juga banyak yang merupakan serapan dari bahasa Persia. Penamaan “Syadzarwan” disebut sebagai “sarung” bagi Ka’bah karena memang merupakan bagian yang tampak menutup bagian bawah Ka’bah, sehingga seperti sarung sebagai kain yang menutup bagian bawah tubuh manusia.


Syadzarwan terdapat di tiga sisi Ka’bah, kecuali sisi Hijir Isma’il, dengan fungsinya mempertahankan Ka’bah terutama pondasinya dari banjir bandang jika muncul sewaktu-waktu. Di era sekarang, di Syadzarwan ini terdapat sekitar 41 pengait tali yang mengikat Kiswah atau penutup Ka’bah dari bawah. Seperti halnya bagian-bagian Ka’bah lainnya, Syadzarwan pernah beberapa kali mengalami renovasi dan penguatan fungsi.


Hukum Terkait


Syadzarwan tidak termasuk bagian dari Ka’bah, dan tidak pula termasuk dalam lintasan thawaf. Syadzarwan sebatas penguat pondasi Ka’bah. Sehingga bagi mereka yang melakukan thawaf, agar melakukannya di luar Syadzarwan, yaitu di tempat thawaf yang disediakan. Karena sebagian ulama berpendapat bahwa thawaf di Syadzarwan, sekalipun tampak lebih dekat dengan Ka’bah atau membuat thawaf jadi lebih cepat dan berjarak pendek, thawafnya tidak sah, bahkan sedikit beresiko.


Logo Muhammadiyah di Pintu Ka’bah ?


Bagi mereka yang pernah melihat pintu Ka’bah dengan lebih teliti, baik melalui foto, replika atau miniatur pintu Ka’bah atau bahkan melihat pintu Ka’bah secara langsung, akan melihat ada dua ornamen bergambar matahari bersinar dua belas, dengan tulisan Arab di tengah keduanya. Sehingga muncul anggapan bahwa ada logo Muhammadiyah di pintu Ka’bah.


Maka benarkah ada logo Muhammadiyah di pintu Ka’bah ? Lalu apa dan bagaimana sejarah, spesifikasi dan ornamen di pintu Ka’bah ?


Spesifikasi Pintu Ka’bah


Pintu Ka’bah yang terpasang hari ini terbuat dari emas murni seberat 280 kilogram, berada sekitar 2.22 meter dari atas tanah, memiliki tinggi sekitar 3,18 meter, dengan luas 1,71 meter dan tebal kusen sekitar setengah meter. Pintu Ka’bah terdiri dari dua daun pintu di kanan dan kiri, dengan kain yang menutupinya dari luar. Baik pintu Ka’bah maupun kain yang menutupinya dipenuhi ornamen Arab yang cukup indah, unik dan sedikit rumit.


Sejarah Singkat Pintu Ka’bah


Memang belum bisa dipastikan dengan jelas sejak kapan Ka’bah memiliki pintu sebagaimana lazimnya. Akan tetapi para Sejarawan Islam berpendapat bahwa pintu Ka’bah sudah ada sejak era Kaum Tubba’, atau era Kerajaan Yaman Kuno. Di era kaum Quraisy, pintu Ka’bah kemudian disempurnakan dengan dua daun pintu berbahan kayu.


Hingga pada tahun 781 H /1380 M , pintu Ka’bah kemudian dihiasi dengan lebih baik. Begitu pula di tahun 961 H / 1554 M dan 964 H / 1557 M, Sultan Sulaiman yang berkuasa masa itu kemudian memperindah pintu Ka’bah dengan melapisinya dengan perak.


Di masa pemerintahan Murad IV pada tahun 1045 H/ 1636 M, pintu Ka’bah kembali dihias, dan disempurnakan kembali di era Sultan Ahmad Khan dengan ukiran nama dan tahun renovasinya.


Hingga era Kerajaan Arab Saudi, terkhusus di era ‘Abdul ‘Aziz pada tahun 1944 M yang memperbarui pintu Ka’bah dengan  pintu berbahan alumunium, dengan dilapisi perak dan emas, berukir al-Asma al-Husna. Sedangkan pintu Ka’bah yang bertahan hingga hari ini adalah pintu Ka’bah yang dibuat di era Raja Khalid bin ‘Abdul ‘Aziz di tahun 1977 M. 


Adapun ukiran matahari yang mirip dengan logo Muhammadiyah, baru tampak pada pintu Ka’bah yang dibuat di era ‘Abdul Aziz (1944) dengan 16 sinarnya. Sedangkan ukiran matahari bersinar 12 adalah pintu Ka’bah era Khalid bin ‘Abdul ‘Aziz (1977) yang diukir dengan lebih modern dan rapi. Sejauh ini, ukiran matahari tidak ditemukan di pintu Ka’bah yang lebih lama dari dua periode raja Arab Saudi ini.


Perlu diketahui pula bahwa penggunaan logo matahari yang serupa dengan logo Muhammadiyah sudah banyak dipakai oleh lembaga-lembaga apapun di berbagai negara. Meskipun mungkin perlu dilacak, apakah ukiran logo matahari dengan dua belas sinar di pintu Ka’bah di era Khalid ini terinspirasi dengan logo Muhammadiyah yang sudah berdiri di Indonesia sejak 1912 ? Pertanyaan ini belum mendapat jawaban pasti.


Ornamen Pintu Ka’bah


Dari paling atas, adalah ukiran lafadz “Allah Jalla Jalaluhu” dan nama “Muhammad” –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.


Pada baris kedua, bertuliskan “bismillahirrahmanirrahim” di daun pintu kanan, dan “udkhuluha bis alamin aminin”, bermakna “masuklah ke dalamnya dengan keselamatan dan keamanan” di daun pintu kiri.  Ini merupakan ayat 46 dari Surat Al-Hijr.


Pada baris ketiga, terdapat ukiran “ja’alallahu-l-ka’bata-l-baita-l-harama qiyaman linnasi wasy syahral haram…” yang bermakna “Allah telah menjadikan Ka‘bah rumah suci tempat manusia berkumpul. Demikian pula bulan haram…” merupakan penggalan Surat Al-Maidah ayat 97.


Sedangkan baris keempat terukir “Wa qul rabbi adkhilni mudkhala shidqin wa akhrijni mukhraja sidqin waj’alni min ladunka sulthanan nashira” bermakna “Dan katakanlah ‘Wahai Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara yang benar (baik) dan keluarkanlah aku dengan cara yang baik pula, dan karuniakanlah padaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong ”. Ini merupakan ayat ke-80 dari Surat Al-Isra’. 


(Faruqi)

Iklan