Iklan

Iklan

,

Status Darurat Berakhir, EMT Muhammadiyah Telah Layani 2.222 Penyintas Gempa NTT

Tim Redaksi
Senin, 31 Agustus 2026, 23:32 WIB Last Updated 2026-08-31T16:32:38Z

Tenaga kesehatan EMT Muhammadiyah melayani seorang penyintas gempa di rumah sakit lapangan Dampek, Manggarai Timur, NTT.

Tenaga kesehatan EMT Muhammadiyah melayani penyintas gempa di rumah sakit lapangan berstandar WHO, Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, NTT. (Foto: muhammadiyah.or.id)


MANGGARAI TIMUR — Status darurat bencana gempa Nusa Tenggara Timur resmi berakhir pada Jumat (28/8/2026). Namun bagi para penyintas, pekerjaan besar justru baru dimulai. Di Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Tim Medis Darurat atau Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah mencatat telah melayani 2.222 pasien hanya dalam rentang dua pekan, yakni 17 hingga 28 Agustus 2026.

Layanan itu diberikan melalui rumah sakit lapangan berstandar World Health Organization (WHO) yang didirikan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama Lazismu melalui program Indonesia Siaga. Fasilitas tersebut menyediakan pelayanan poliklinik, Instalasi Gawat Darurat (IGD), rawat inap, hingga dukungan rujukan pasien ke fasilitas kesehatan yang lebih besar.

Dari Luka Fisik ke Penyakit Infeksi

Dari 2.222 pasien yang ditangani, sebanyak 1.328 di antaranya perempuan dan 894 laki-laki, termasuk 13 ibu hamil. Jika dirinci menurut usia, tim menangani 54 bayi, 128 balita, 178 anak, 78 remaja, 1.317 orang dewasa, dan 467 lansia.

Yang menarik — sekaligus mengkhawatirkan — adalah pergeseran jenis penyakit. Lima keluhan terbanyak adalah infeksi saluran pernapasan (437 kasus), myalgia atau nyeri otot (372 kasus), hipertensi (233 kasus), dispepsia (186 kasus), dan cephalgia atau sakit kepala (153 kasus).

"Setelah mendapat penanganan dari tim medis darurat, data yang ada menunjukkan penurunan kasus trauma atau cedera dan kenaikan penyakit infeksi," ujar Ketua Tim EMT Muhammadiyah, dr Corona Rintawan.

Pola ini lazim terjadi pada fase lanjutan pascabencana. Ketika luka akibat reruntuhan mulai tertangani, ancaman berikutnya datang dari kepadatan pengungsian, sanitasi terbatas, dan daya tahan tubuh yang menurun — kondisi yang paling berisiko bagi bayi, balita, dan lansia.

Relawan Muhammadiyah melakukan koordinasi di Pos Koordinasi Muhammadiyah untuk penanganan gempa Flores, NTT.

Relawan Muhammadiyah berkoordinasi di Pos Koordinasi Muhammadiyah untuk penanganan gempa Flores, NTT. (Foto: muhammadiyah.or.id)


22 Personel, Satu Rumah Sakit Lapangan

Untuk misi ini, Muhammadiyah memberangkatkan 22 personel — terdiri dari 7 perempuan dan 15 laki-laki — dengan satu personel tambahan menyusul kemudian. Komposisinya mencakup satu dokter spesialis emergensi, satu dokter spesialis bedah umum, delapan perawat, satu bidan, satu admin medis, dua personel logistik medis, tujuh personel logistik umum, dan satu safety and security officer.

"EMT Muhammadiyah akan bekerja bersama pemerintah dan fasilitas kesehatan setempat untuk memastikan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak tetap berjalan," kata Wakil Sekretaris MDMC PP Muhammadiyah, Aulia Taarufi.

Tim dijadwalkan bertugas selama 30 hari, sehingga layanan kesehatan dan dukungan psikososial tetap berjalan meski status darurat sudah dicabut.

183 Ribu Jiwa Masih Mengungsi

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana per 31 Agustus 2026 memperlihatkan skala bencana yang belum selesai. Sebanyak 120 jiwa meninggal dunia, 1.658 orang mengalami luka-luka atau sakit, dan 183.673 jiwa masih bertahan di pengungsian.

Sebaran pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Manggarai (50.556 jiwa), disusul Nagekeo (50.276 jiwa), dan Manggarai Timur (30.098 jiwa). Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan turut menerjunkan 392 tenaga kesehatan dan mendirikan dua rumah sakit lapangan berbasis tenda.

Berakhirnya status darurat bukan berarti kebutuhan penyintas ikut berakhir. Justru pada fase transisi inilah dukungan kesehatan, pemulihan psikososial, dan bantuan hunian menjadi paling menentukan — dan di situlah kehadiran relawan Persyarikatan diuji untuk tetap bertahan sampai warga benar-benar pulih. (*)

Sumber: muhammadiyah.or.id, Lazismu, Republika, Google News