YOGYAKARTA — Upaya menekan angka stunting biasanya dibicarakan di ruang rapat kementerian atau di meja posyandu. Muhammadiyah memilih memulainya dari tempat yang lebih sederhana: kandang ayam milik warga.
Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Pelatihan Manajemen Usaha Peternakan dan Kesehatan Ternak pada Sabtu (5/9/2026) di Aula Gedoeng Moehammadijah, Jalan KH Ahmad Dahlan, Kota Yogyakarta. Pelatihan ini diikuti sebelas kelompok ternak se-Daerah Istimewa Yogyakarta yang menekuni budidaya ayam petelur omega.
Sekretaris MPM PP Muhammadiyah, Budi Nugroho, menjelaskan bahwa program ini berangkat dari semangat menghadirkan makanan sehat untuk generasi yang kuat — sebagaimana pesan Surat An-Nisa ayat 9 yang melarang umat meninggalkan generasi yang lemah.
"Telur omega yang notabene itu fungsional dan itu mengandung omega 3, 6, dan 9, sebagai upaya menguatkan generasi sejak ibu ini hamil, busui, dan seterusnya," ungkap Budi.
"Karena ini kita ingin mewujudkan tadi, be healthy to be strong leader ini, atau to be strong generation," imbuhnya.
Menurut Budi, kandungan asam lemak omega pada telur berperan dalam pembentukan dan penguatan jaringan tubuh serta meningkatkan daya tahan anak. Dua hal itulah yang menjadi titik temu antara usaha peternakan rakyat dan agenda besar perbaikan gizi nasional.
Stunting Masih di Angka 19,8 Persen
Budi merujuk data Status Gizi Nasional Indonesia yang menempatkan prevalensi stunting di angka 19,8 persen. Angka itu, menurutnya, menjadi pekerjaan rumah bersama yang tidak bisa diselesaikan pemerintah sendirian.
"Ini PR negara, nah Muhammadiyah melalui MPM bisa berkontribusi konvergensi dengan pemerintah melalui ini tadi, telormu," katanya.
Stunting sendiri bukan sekadar persoalan tinggi badan. Kekurangan gizi kronis pada 1.000 hari pertama kehidupan berdampak jangka panjang pada perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas seseorang ketika dewasa. Karena itu intervensi gizi pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita menjadi kunci — dan telur adalah salah satu sumber protein yang paling terjangkau bagi keluarga Indonesia.
Menguatkan Posisi Tawar Peternak
Yang membedakan pendekatan MPM adalah program ini tidak berhenti pada kampanye gizi. Pelatihan tersebut sekaligus dirancang untuk memperkuat kelompok ternak sebagai unit usaha yang lebih tertata: mengelola kandang sesuai standar kesehatan ternak, mengatur manajemen usaha, dan membangun jejaring antarpeternak.
"Market leader khusus omega inilah yang secara asosiatif perkumpulan bisa diwujudkan, belajar bersama, mengelola kandang ternak secara sehat sesuai dengan standar yang ada," ujar Budi.
Dengan berhimpun dalam kelompok, para peternak diharapkan memiliki daya tawar yang lebih kuat di tengah persaingan pasar yang ketat — tidak lagi berjalan sendiri-sendiri menghadapi fluktuasi harga pakan maupun harga jual telur.
Inilah pola dakwah pemberdayaan yang khas Muhammadiyah: satu program yang bekerja pada dua sisi sekaligus. Di hulu, ia menambah penghasilan keluarga peternak. Di hilir, ia menyediakan protein bermutu bagi anak-anak yang sedang tumbuh. Perlawanan terhadap stunting, pada akhirnya, memang bisa dimulai dari sebutir telur. (*)
Sumber: muhammadiyah.or.id, Google News

