Ahmad Dahlan: Pribadi Luas Bergaul dan Pembaca Buku Mumpuni

Notification

×

Iklan

Iklan

Ahmad Dahlan: Pribadi Luas Bergaul dan Pembaca Buku Mumpuni

Sabtu, 06 November 2021 | 16:50 WIB Last Updated 2022-05-16T06:01:07Z


Begitu banyak Kiai Dahlan menapaki jejak pemikiran-pemikiran sarjana Muslim. Dari mulai Imam Syafii, Imam al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, sampai Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani.


Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengungkapkan bahwa persentuhan Kiai Dahlan dengan ragam buah karya sarjana Islam tersebut melahirkan kekhasan dalam pemikirannya.


“Rujukan-rujukan itu memberi warna dan inspirasi bagi Kiai Dahlan. Tetapi beliau juga sosok yang cerdas, sosok yang berpikir cemerlang, memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Sehingga ketika di belakang hari beliau bersentuhan dengan berbagai pihak, selalu ada inspirasi baru,” Haedar Nashir.


Ketika Kiai Dahlan berkunjung ke Solo dan memerhatikan aktivitas kepanduan, beliau mendirikan Hizbul Wathan. Saat berdiskusi dengan pastur Romo Van Lith yang memberinya inspirasi untuk membangun harmoni antar-umat beragama. Saat mendirikan PKO, Kiai Dahlan tak canggung melibatkan dokter dari Belanda.


Begitu pula ketika Kiai Dahlan bergaul dengan tokoh-tokoh Boedi Oetomo yang memberinya inspirasi mengelola organisasi. Bahkan pernah berbincang dengan tokoh-tokoh yang berpandangan sosialis sekalipun seperti Semaun.


Pergaulan Kiai Dahlan yang luas, kata Haedar, memberikan karakter kuat pada dirinya. Ia sosok yang mau dan mampu bergaul dengan siapapun dan kelompok mana pun.


“Artinya Kiai Dahlan memiliki radius pergaulan yang sangat luas. Dan dari momentum itu Muhammadiyah mampu bersamaan dengan Boedi Oetomo, termasuk dalam menyebarkan majalah Suara Muhammadiyah yang didirikan tahun 1915,” tutur Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.


Dengan demikian, tegas Haedar, Kiai Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah merupakan sosok yang sejak awal memiliki pemikiran yang cerdas, haus akan ilmu pengetahuan, dan memiliki rujukan yang padat referensi. Dengan segudang kelebihan tersebut, Kiai Dahlan tetap merupakan tokoh pembaharu yang memiliki alam pemikiran yang merdeka.


“Dalam rentang usia yang sebenarnya masih belia, yaitu 55 tahun, tetapi dengan kecerdasannya mampu mempelopori sejumlah pembaruan pemikiran keislaman dan praktek Islam yang tajdid,” tutur Haedar.


Buku-buku yang Dibaca Ahmad Dahlan


Ahmad Dahlan lahir di Kauman (Yogyakarta) pada 1968. Semenjak kecil, Kiai Dahlan diasuh dan dididik sebagai putra kiai. Pendidikan dasarnya dimulai dengan belajar membaca, menulis, mengaji Alquran, dan kitab-kitab agama. Pendidikan ini diperoleh langsung dari ayahnya yaitu Kiai Abu Bakar.


“Muhammadiyah lahir tidak lepas dan bahkan dibidani serta memperoleh inspirasi yang kuat dari tokoh sentral pendirinya yakni K.H. Ahmad Dahlan. Beliau merupakan sosok santri yang dasar pendidikan agamanya adalah tradisional,” ungkap Haedar Nashir.


Meskipun berlatar belakang tradisional, Haedar mengungkapkan KIai Dahlan justru menjadi tokoh pembaharu paling penting pada awal abad ke-20. Dalam perjalanan hidupnya, Kiai Dahlan dua kali bermukim di Makkah. Di sana, ia mendapatkan banyak inspirasi serta wawasan yang semakin luas dalam memandang dunia.


“Darwis yang menjadi Ahmad Dahlan telah menjadi tonggak baru dalam sejarah pergerakan Islam di awal abad ke-20. Dengan latar belakang kehidupan Kauman, Yogyakarta, yang juga melekat dengan Kraton, Kiai Dahlan tidak lepas dari budaya Jawa,” kata Haedar.


Latar belakang budaya ini telah menjadi kekhasan Kiai Dahlan sebagai tokoh Islam dan tokoh pembaharu yang memberikan warna pada pergerakan Muhammadiyah.


Menurut Haedar, dalam akidah, Kiai Dahlan beraliran Ahlussunah wa al-Jamaah, dalam fikih merujuk pada Imam Syafii dan Hambali. Namun, beliau juga beririsan dengan pemikiran Salafiyah yang diperkenalkan Ibnu Taimiyah melalui kitab-kitabnya.


Namun, Haedar menegaskan bahwa Kiai Dahlan lebih banyak meluangkan waktunya membaca tulisan-tulisan Muhammad Abduh. Di antaranya, Tafsir Juz ‘Amma, Tafsir Al-Manar, Al-Islam wa al-Nashraniyah, dan Risalat al-Tauhid. Selain karya Abduh, Kiai Dahlan juga membaca tulisan-tulisan Jamaluddin al-Afghani yang dimuat di Jurnal al-Urwah Al-Wustha.


Pemikiran-pemikiran Kiai Dahlan bersentuhan dengan ilmu tasawuf terutama melalui alam pikiran Hujjatul Islam Imam al-Ghazali. Tak lupa pula Kiai Dahlan membaca tulisan Ibnu Batutah yang merupakan laporan perjalanannya keliling dunia dalam kitab Kanz al-Ulum. Bahkan ia sempat menikmati tulisan Rahmatullah Al-Hindi.


“Pemikiran-pemikiran Kiai Dahlan tentu terus berkembang sesuai dengan interaksi beliau ketika di Makkah, termasuk berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Tentu rujukan-rujukan tersebut memberi warna pada alam pikiran Kiai Dahlan,” tegas Haedar.


Diolah dari Muhammadiyah.or.id