Muhammadiyah Majukan Agama, Bangsa, dan Negara

Notification

×

Iklan

Iklan

Muhammadiyah Majukan Agama, Bangsa, dan Negara

Kamis, 19 Mei 2022 | 12:37 WIB Last Updated 2022-08-29T00:55:27Z


Muhammadiyah dan Aisyiyah telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Bukan hanya berjuang mewujudkan kemerdekaan bersama-sama dengan komponen bangsa lain, Muhammadiyah juga turut berperan besar dalam menentukan peristiwa paling krusial pada 18 Agustus 1945 tentang Pancasila sebagai dasar negara.


“Melalui tokoh-tokohnya, terutama Ki Bagus Hadikusumo yang berperan sebagai pengambil keputusan penting atasnama dan untuk bangsa, kekuatan umat Islam bersedia mencoret 7 kata dalam Piagam Jakarta, tetapi memasukan sila Ketuhanan Yang Maha Esa,” terang Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam acara yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Buton, Selasa 17 Mei 2022.


Haedar mengatakan bahwa Muhammadiyah tidak lagi mempermasalahkan hubungan Pancasila sebagai dasar negara dengan agama terutama Islam.


Komitmen ini semakin dipertegas kembali dalam keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar 2015 yang menyebutkan dengan jelas bahwa Pancasila sebagai darul ahdi wa syahadah. Pancasila sebagai Darul Ahdi berarti negeri yang bersepakat pada kemasalahatan.


Adapun arti darul ahdi wa syahadah adalah negeri kesaksian dan pembuktian bahwa umat harus berperan aktif dalam membangun bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur.


Dalam arti luas, Pancasila sebagai darul ahdi wa syahadah bermakna bahwa segenap anak bangsa bersepakat dalam meraih kemajuan dan keunggulan.


“Kita berkomitmen untuk tetap ada dalam kesepakatan nasional itu dan tidak boleh mengubahnya, tetapi kita harus mengisinya menjadi negara yang dalam cita-cita kita yaitu merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur,” ujar Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.


Haedar mengungkapkan bahwa kehadiran amal usaha Muhammadiyah di sektor pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi tidak lain sebagai wujud intergrasi keislaman dan keindonesiaan, sekaligus komitmen kebangsaan yang lahir dari jiwa Islam.


Pada intinya, Muhammadiyah telah berhasil menemukan titik temu antara keislaman dan kehidupan berbangsa.


“Kami berkomitmen dalam segala usahanya termasuk lewat Universitas Muhammadiyah Buton untuk membangun bangsa dan negara di atas pondasi Islam yang berkemajuan. Muhammadiyah akan terus bersama untuk kemajuan bangsa,” kata Haedar.