Iklan

Iklan

,

Iklan

Istikamah Beragama di Era Disrupsi

Redaksi
Senin, 01 Agustus 2022, 17:45 WIB Last Updated 2022-09-21T07:21:19Z

Oleh:
Prof KH Dadang Kahmad, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Rasulullah SAW telah bersabda: "Bersegeralah kalian mengerjakan amal-amal shalih sebelum terjadi fitnah (bencana) yang menyerupai kepingan-kepingan malam yang gelap gulita, yaitu seseorang di waktu pagi beriman tetapi pada waktu sore ia telah kafir, atau pada waktu sore ia beriman dan pada pagi harinya ia telah kafir, ia rela menjual agamanya dengan secuil keuntungan dunia," (HR Muslim).

Dalam hadis ini Rasulullah SAW mendorong agar segera beramal sebelum datangnya fitnah, di mana ketika fitnah itu tiba, kelam seperti malam, orang susah membedakan yang benar dan salah, seseorang tidak akan pernah bisa berbuat baik.

Sebab boleh jadi pada saat itu seseorang di pagi harinya masih beriman, tetapi pada sore harinya tiba-tiba menjadi kafir. Atau sebaliknya pada sore harinya masih beriman, tetapi pada pagi harinya tiba-tiba menjadi kafir.

Agama pada hari itu benar-benar tidak ada harganya. Mereka menjual agama dengan kehidupan dunia.

Hadis tersebut di atas serasa menyindir kehidupan kita sekarang, di mana banyak manusia sudah tidak ajeg lagi dalam beragama.

Mereka beragama dengan bermuka dua. Kadang-kadang mereka shalih, tetapi kadang-kadang mereka menjelma menjadi manusia yang serakah dan tidak mengenal belas kasihan.

Beragama lebih menekankan kepada formalisme kognisi dibandingkan dengan keadaban tata perilaku. Kuat dalam ritual, tetapi lemah dalam relasai sosial, termasuk kurang bagus dalam moralitas dan kepribadian sehingga kehilangan keteladanan dan tidak menjadi uswah hasanah.

Keadaan seperti itu tidak lepas dari pengaruh perubahan zaman yang sangat dahsyat yang menimpa semua aspek kehidupan.

Seperti yang diketahui bersama bahwa sejak awal tahun 2000 keadaan zaman mengalami perubahan yang sangat cepat menyangkut segala aspek kehidupan manusia.

Bukan hanya di Indonesia, tetapi hampir meliputi seluruh dunia, bukan hanya pada aspek komunikasi, tetapi menyangkut ekonomi, politik, gaya hidup, termasuk keberagamaan.

Dalam keadaan seperti itu, mungkin nasihat Rasulullah SAW kepada Muaz bin Jabal RA bisa jadi pedoman dasar dalam beragama pada masa sekarang.

Ini pesan Nabi SAW agar Muaz selalu istikamah dalam mengarungi kehidupan yang penuh gejolak dan perubahan.

"Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada atau dalam keadaan apa pun juga. Ikutilah keburukan dengan kebaikan maka keburukan itu akan terhapuskan. Dan bergaulah dengan manusia dengan memakai akhlak yang baik," (HR At-Tirmidzi).

Istikamah dalam beriman dan bertakwa kepada Allah sangat diperlukan di tengah ketidakpastian dan gejolak perubahan.

Jika tidak ajeg dan tidak kukuh pengkuh dalam beragama, niscaya manusia akan terbawa arus dan terombang-ambing keadaan zaman seperti gambaran hadis di awal tulisan ini. Yakni menjadi beragama yang terbelah: seseorang di pagi harinya beriman, soreng harinya kafir, atau sebaliknya di sore harinya beriman, di pagi harinya kafir.

Berani menjual kebenaran agama dengan kehidupan dunia seperti harta kekayaan dan jabatan. Oleh karena itu, semoga apa yang sedang kita jalani berdampak kepada istikamah dalam akidah, taat dalam beramalam shalih, dan mulia dalam berakhlak.***

_____________________________________

Sumber: SM edisi 14

Editor: Feri A

Iklan