Bersabar Saat Musibah Menerjang

Notification

×

Iklan

Iklan

Bersabar Saat Musibah Menerjang

Selasa, 27 September 2022 | 11:50 WIB Last Updated 2022-09-27T04:50:32Z


Oleh: Prof. KH. Dadang Kahmad,
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Taubat ketika musibah menerjang dapat mengantarkan kita menggapai maqam kemuliaan diri. Ketika musibah menimpa kita, kehidupan akan terasa gelap gulita. Kita menjadi orang yang selalu dirundung kegelisahan karena ada sesuatu yang mengakibatkan munculnya musibah itu.

Perlu diingat bahwa musibah ada kalanya muncul dalam kehidupan kita karena ada dosa yang kita perbuat. Sehingga dengan bertaubat inilah kita bisa membersihkan diri dari dosa, lalu dengan kondisi ini, musibah yang mendera kita akan sirna.  

Berbagai peristiwa yang dialami dalam kehidupan ini seringkali membawa seseorang berada dalam kondisi perasaan yang susah, merasa tidak dihargai, ditolak, dan sebagainya.

Akan tetapi, seorang mukmin akan senantiasa berbaik sangka pada Allah sehingga perasaan-perasaan semacam itu tidak akan pernah ada. Berprasangka baik kepada Allah akan membawa ketenangan dalam hidup, juga ketenteraman batin, terbebas dari gangguan pikiran yang tidak baik.

Setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dari Allah haruslah bersabar. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadis Qudsi, “Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil kekasihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya.”

Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah SAW bersabda, “Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang.” Dan sabdanya pula, ”Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka.” (HR. Imam Majah).

Ketika kita percaya bahwa setiap hal baik maupun buruk itu sudah menjadi kehendak Allah, tidak ada pilihan lain selain berserah diri kepada-Nya. Berprasangka baik kepada Allah merupakan salah satu manifestasi sikap dari rasa berserah diri, ia akan melahirkan energi positif sehingga persoalan yang rumit terasa mudah dihadapi.

Selain itu, dengan berbaik sangka kepada Allah akan menyebabkan Allah ridha. Seorang ulama salaf mengatakan bahwa sesungguhnya aku selalu berharap kepada Allah (dalam segala urusan), sehingga aku melihat sebaik-baiknya prasangka terhadap apa yang diperbuat oleh Allah.

Sikap seseorang terhadap musibah yang menimpanya mencerminkan seberapa besar ia bertaqwa dan sejauh mana ia memahami bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini milik Allah. Ketika semua hal kita kembalikan kepada Allah, niscaya Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, “Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al Baqarah: 155-157).

Musibah adalah perkara yang tidak disukai yang menimpa manusia. Menurut Imam Al Qurthubi dalam kitab Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, mengatakan bahwa “Musibah adalah segala apa yang mengganggu seorang mukmin dan yang menimpanya.” Bagi orang yang beriman, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah pergantian siang dan malam, begitu pula pergantian antara kebahagiaan dan kesedihan.

Orang-orang yang lemah imannya akan terbawa dalam kesedihan yang berlarut-larut manakala kedatangan musibah. Sementara orang-orang yang kuat imannya akan mengembalikan persoalan itu kepada Allah. Orang-orang yang beriman ini memahami dengan jelas makna yang terkandung dalam firman Allah, “Maka sesungguhnya bersama (satu) kesulitan ada (banyak) kemudahan.” (QS Al-Insyirah: 5).

Kebaikan itu datangnya dari Allah, sedangkan keburukan itu datang akibat perbuatan tangan manusia itu sendiri. Sudah seharusnya manusia memiliki sikap menyerahkan sepenuhnya segala urusan kepada Allah ketika ditimpa musibah.

Kembalilah kepada Allah, jadikan sabar dan ridha sebagai pengantar untuk berserah diri, niscaya Allah akan memberikan sesuatu yang lebih baik daripada kehilangan atau musibah yang menimpanya. Orang-orang yang bersabar dalam menghadapi musibah Allah janjikan kepadanya pahala tanpa batas.

“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS Az Zumar:10). Selain itu, cobaan yang diberikan Allah kepada hambanya juga merupakan sarana penggugur dosa, andai disikapi dengan ketulusan dan keikhlasan demi mengharap ridha Allah.

Ketika ditimpa musibah, hendaknya kita kembali kepada Allah, bertawakal kepada-Nya, dan hanya memohon pertolongan-Nya. Segala musibah itu merupakan ketentuan dari Allah dan sekali-kali Dia tidak akan memberikan cobaan bagi hamba-Nya di luar kemampuan hamba tersebut.

Musibah diberikan kepada kita hanya sebagai cobaan akan kesabaran kita. Sesungguhnya yang namanya cobaan itu ada dua macam, yakni kenikmatan dan kesusahan. 

Orang-orang yang beriman, manakala diberikan kenikmatan ia akan bersyukur sehingga ditambahkan kenikmatannya. Sedangkan apabila diberikan kesusahan ia bersabar dan ridha sehingga Allah pun ridha padanya.

Kembalilah kepada Allah sebelum terlambat. Bersyukurlah terhadap apa yang Allah berikan kepada kita. Bertaubatlah selagi ada kesempatan. Tidak ada yang kekal di dunia ini, semua hanyalah titipan Allah dan suatu saat pasti akan dikembalikan kepada-Nya.

Tak luput jiwa kita, sesungguhnya Allah yang Maha Memiliki diri kita. Allah yang menciptakan kita, menghidupkan kita, memberikan pelajaran dan hikmah kepada kita, dan nanti kita akan kembali kepada-Nya.

Setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, maka siapkanlah diri kita sebaik-baiknya untuk menghadapi saat itu tiba. 

“Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kokoh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.” (QS Luqman: 22).

Sesungguhnya Allah itu sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Husnudzan atau berbaik sangka pada Allah menjadi syarat utama untuk berserah diri kepada-Nya. Entah itu musibah ataukah hikmah, kita hendaknya selalu berbaik sangka kepada Allah.

Digubah dari buku karya Prof Dadang Kahmad berjudul, Musibah Pasti Berlalu (Quanta, 2014).