Kekuatan Baru Jihad Ekonomi Berbasis Jamaah di Muhammadiyah

Notification

×

Iklan

Iklan

Kekuatan Baru Jihad Ekonomi Berbasis Jamaah di Muhammadiyah

Minggu, 11 September 2022 | 12:16 WIB Last Updated 2022-09-11T05:16:41Z


Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media (Penerbit Suara Muhammadiyah), Deni Asy’ari, MA menjadi pembicara dalam Pengajian Ahad Pagi Fajar Mubarok yang diselenggarakan di Halaman Perguruan SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk, Jawa Timur, Ahad (11/9/2022). 


Tema pengajian tersebut mengusung tema “Jihad Ekonomi Berbasis Jamaah”. Deni mengatakan bahwa Rasulullah Muhammad Saw telah menjadikan tradisi saudagar atau ekonomi sebagai koridor berdakwah yang dijalankan. 


Demikian halnya para sahabat yang sama-sama mendedikasikan hidupnya menjalankan tradisi tersebut. Di antaranya ada Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhan bin Ubaidillah, dan Sa’ad bin Abi Waqqash.


“Jadi, tujuh dari sepuluh sahabat Rasul yang dijamin masuk surga ini adalah mereka yang berlatar belakang saudagar. Bukan hanya mereka sebagai pembisnis, tetapi mereka memiliki visi yang panjang di dalam menggerakan ekonomi,” ujarnya.


Para sahabat tersebut telah memberikan inspirasi bagi umat mendatang agar bangkit dan bergelora menjadi seorang saudagar. Hal ini sebagai manifestasi menggerakan visi dan misi ekonomi berbasis jamaah agar memaksimalkan semangat entrepreneurship.


“Sebelum membicarakan jihad ekonomi berbasis jamaah, hal yang paling utama kita kembalikan semangat kultur entrepreneurship dalam lingkungan keluarga besar Muhammadiyah. Karena selama ini saking banyaknya porsi birokrasi, porsi pamongparaja di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah, maka sektor ekonomi ini cenderung menjadi sektor sampingan, sambilan, tidak fokus dan tidak prioritas,” katanya.


Sabab, lanjut Deni, jika ekonomi hanya dijadikan sebagai sektor sampingan dan sektor sambilan, maka hasilnya hanya sampingan dan juga sambilan. Tidak akan bisa maksimal karena menurutnya, dalam dunia bisnis, maksimal pun belum tentu memperoleh keuntungan (profit) dan bisa mendapatkan hasil yang memuaskan.


Deni mengungkapkan jika orang Muhammadiyah di zaman dahulu antara dakwah dan gerakan ekonomi saling berjaling-berkelindan. Artinya, berdakwah sekaligus menjalankan ekonomi. Seperti Kiai Haji Ahmad Dahlan setiap berdakwah, selalu ada napas bisnisnya baik berbentuk bisnis buku, sarung, dan batik.


Seturut dengan itu, Deni juga mengatakan pula dakwah dengan menjalankan ekonomi sebagai wujud dari jihad ekonomi yang bermakna lil-muwajahah. Yakni jihad positif yang tidak marah-marah, jihad yang konstruktif, dan jihad yang solutif dalam menghadapi berbagai tantangan saat ini dengan senantiasa ikhtiar secara maksimal.


“Oleh karenanya jihad Muhammadiyah bukanlah jihad yang bermakna lil-muaradhah, tetapi jihad yang bermakna jihad yang bermakna lil-muwajahah,” tuturnya.


Menurut Deni, Jihad ekonomi berbasis jamaah harus menekankan pada aspek interaksi, kolaborasi dan sinergitas antara jamaah. Sehingga Suara Muhammadiyah mewujudkannya melalui pendirian Logmart, SM Corner, SM Logistic. 


Semuanya dikelola berbasis kolaborasi dan sinergitas sehingga menghasilkan keuntungan. Di mana keuntungan itu bukan didapat oleh pusat, melainkan akan di distribusikan di seluruh daerah agar ekonomi bisa tumbuh dengan pesat.


“Keuntungan yang di dapat bukan ada di pusat, tetapi keuntungan didistribusikan di daerah-daerah yang mengelola di daerah-daerah. Agar ekonomi dan kultur entrepreneurship juga tumbuh di warga dan lingkungan persyarikatan Muhammadiyah,” paparnya.


Lebih dari itu, jihad ekonomi berbasis jamaah harus memberikan dampak dan manfaat yang inklusif kepada masyarakat. “Di dalam mengembangkan ekonomi, bagi kita dalam konteks berjamaah adalah mempertimbangkan aspek manfaat dan menjauhkan aspek mudaratnya,” katanya.


Deni mendorong kepada seluruh warga persyarikatan Muhammadiyah untuk senantiasa memancarkan sikap optimisme di dalam menggerakan jihad ekonomi berbasis jamaah. 


Walaupun di luar sana banyak orang yang memiliki modal besar, akan tetapi mereka tidak mempunyai jamaah yang besar, seperti persyarikatan Muhammadiyah yang kita cinta ini.


“Muhammadiyah mungkin tidak punya modal yang besar. Tapi kita punya jamaah yang besar. Dan jamaah yang besar ini adalah potensi dan kekuatan ekonomi kita untuk berjihad menghadirkan kekuatan baru di dalam ekonomi ke depan berbasis keadilan,” pungkasnya.


Setelah pengajian usai, dilaksanakan sesi agenda pendatangan pencanangan Logmart dan Suara Muhammadiyah Corner di Nganjuk. Serta pemberian penghargaan apresiasi agen Majalah Suara Muhammadiyah tertua dan terlama ang diraih oleh Drs M Tauchid dari Kecamatan Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur. Dia telah menjadi agen sejak tahun 1975 hingga sekarang dan juga atas dedikasinya, pengabdian, cintanya, istiqomahnya kiprah dan perjuangannya di Muhammadiyah.


Perlu diketahui, selama menjadi pembicara dalam Pengajian Ahad Pagi Fajar Mubarok, Deni menggenakan batik Gumar, Gunungan Muktamar yang merupakan batik Semarak Muktamar yang dirilis oleh Suara Muhammadiyah. Bagi warga persyarikatan yang ingin mendapatkannya, bisa di dapatkan di Toko Suara Muhammadiyah dan juga di seluruh jaringan SM Corner di Indonesia. (Cris)


Sumber: suaramuhammadiyah.id