Bahagia dan Derita

Notification

×

Iklan

Iklan

Bahagia dan Derita

Senin, 24 Oktober 2022 | 11:23 WIB Last Updated 2022-10-24T04:24:35Z


Oleh: Prof. KH. Dadang Kahmad,
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah


Jika selama ini hidup kita hanya merasakan kebahagian semata, tentu kita akan stagna dan hidupnya tidak ada berwarna. Padahal, indahnya hidup itu karena ada warna-warni yang digariskan oleh kita. 


Esensinya, penderitaan yang Allah berikan, dapat membuat kita menjadi lebih dewasa dari sebelumnya dalam menjalani proses dan fase kehidupan.


Hal positif yang harus diterapkan di kehidupan sehari-hari, bisa dimulai dengan lebih mengingat Allah dalam situasi apapun. 


Lebih bersyukur atas apa yang telah kita dapatan. Jadikanlah penderitaan yang kita dapatkan sebagai cobaan dari Allah agar kita semakin dekat dengan-Nya. Hal negatif yang dapat di tinggalkan yang paling utama adalah mengeluh terus-menerus jika diberikan cobaan oleh Allah. 


Tidak mensyukuri dan lupa kedapa Allah bila di berikan kenikmatan.


Penderitaan adalah kata yang dibenci oleh semua orang. Orang yang memiliki iman yang lemah, akan menanyakan alasan mengapa mereka menderita dalam kehidupannya. 


Banyak orang yang hanya mengira Allah Maha Pengasih, tanpa menanyakan apakah definisi dari kasih itu. Apakah Allah hanya memiliki satu sisi atau ada sisi lain yang menyeimbangkan sifat-sifat-Nya? 


Itulah renungan yang bisa kita kembangkan agar sifat kehambaan kita kepada Allah semakin arif dan sungguh-sunggh. Jika sudah demikian, maka hakikat taqwa akan mudah meraihnya.


Apa yang terbayang dari kata "kasih"? Apakah kegembiraan tak terbatas? Apakah kenyamanan dan keamanan? Apakah pemenuhan atas permintaan atau keinginan kita? Kalau hanya ini yang terbayang dalam pikiran kita, maka kasih yang kita definisikan bak kasih yang dibutuhkan oleh seorang bayi.


Pernahkah terpikir di benak kita, apa yang dilakukan oleh orang tua untuk mendewasakan anak-anaknya? Apakah orang tua membiarkan anak-anaknya berbuat semaunya sendiri? Apakah orang tua membiarkan mereka berbuat kesalahan tanpa mendapatkan hukuman? Apakah orang tua akan mengatasi semua persoalan yang dihadapi anaknya? 


Ataukah mereka akan mempercayai anaknya untuk memutuskan permasalahan yang dihadapi oleh mereka? Itulah yang sejatinya menjadi bahan renungan kita semua.


Kasih tidak hanya ada di dalam perasaan yang positif, seperti kegembiraan, keamanan, kenyamanan, tetapi juga melingkupi perasaan yang negatif seperti kesukaran, permasalahan, cobaan hidup, kesedihan, dan berbagai masalah yang lainnya. 


Tetapi, segala penderitaan yang kita alami bukan bertujuan untuk merusak diri kita, melainkan akan membuat kita semakin dewasa dan berkembang sehingga kita tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. 


Tidak ada yang lebih membanggakan orang tua kecuali ketika mereka melihat anaknya mampu bersikap dewasa dan mampu mengatasi kesulitan hidup yang diberikan Allah.


Allah akan mengetahui semua penderitaan yang sedang kita alami, tidak mungkin diabaikan. Allah memberikan ujian hidup untuk membuat kita semakin dewasa dan tahu bahwa hidup adalah bak roda berputar, artinya manis dan pahit akan selalu ada. 


Tanpa mengeluh yang berlebihan, kita sejatinya terus menerus mengingat Allah di saat sedih ataupun saat bahagia serta berusaha menyelesaikan permasalahan dengan sebaiknya. 


Dengan menyelesaikan permasalahan, kita dapat mengembangkan kapasitas kita yang apakah kita cukup dewasa atau malah cengeng ketiak mendapatkan ujian hidup. Kita sudah mafum adanya bahwa Allah tidak menyukai hamba-hambanya yang lemas apalagi menggerutu tanpa alasan yang jelas. 


Sebaliknya, Allah akan menyukai hambanya yang cukup bekerja keras di dalam menjalani kehidupan ini. Tidak semua pengalaman manusia itu membahagiakan, adakalanya seseorang pernah mengalami penderitaan dalam hidupnya, dan itu merupakan sesuatu yang lumrah terjadi. 


Jika kebahagiaan itu sebagai suatu pengharapan yang ditunggu-tunggu dan dianggap menjadi berkah bagi setiap orang, maka berbeda dengan penderitaan. 


Sebaliknya, penderitaan justru tidak diharapkan untuk datang dan terjadi dalam kehidupan manusia. Penderitaan itu suatu bentuk perasaan yang tertuang dalam emosi yang memiliki rasa ingin melepaskan diri dari kekacauan atau derita tersebut. 


Ujian hidup akan datang secara tidak diinginkan oleh siapapun dan bahkan akan membuat seseorang itu terluka atau bahkan menangis karenannya. Tapi, di balik semua itu, tersimpan mutiara kebaikan yang sangat berharga.


Penderitaan yang dialami oleh setiap orang di dunia ini pasti berbeda-beda, karena pengalaman yang dialami oleh setiap orang pun pasti berbeda. Dari waktu ke waktu, setiap manusia akan melakukan aktivitas yang beragam, maka tingkat ujian hidupnya pun beragam pula. 


Kehidupan ini tak selalu berjalan lurus, pasti ada tikungan atau beloka dan kita harus melewatinya secara baik, karena kita akan melaluinya secara berliku. 


Maksudnya, di kehidupan ini terjadi beberapa hambatan-hambatan sebagai penghalang bagi kita untuk maju. Hambatan atau kesulitan inilah yang biasanya dianggap sebagai penderitaan. Penderitaan itu bisa mengganggu dan berpengaruh terhadap psikis kita yang lemah ini. 


Bahkan, mental kita dapat terganggu karenanya, misalnya saja berpengaruh terhadap kondisi badan yang terlihat kurang fit menyangkut masalah emosi jiwa yang ada di dalam setiap individu.


Pada akhirnya, hal itu bisa menyebabkan mereka menutup diri dari lingkungan sekitar yang seharusnya membuat mereka lebih baik dengan cara berinteraksi dan bersosialisasi. 


Padahal, menurut nasihat sang nabi, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang baik akhlaknya kepada tetangganya, mereka tidak terganggu oleh lisan dan tangan kita, sehingga kehidupan di lingkungan tetap harmonis.


Ini berbeda halnya bagi mereka yang menganggap bahwa suatu ujian hidup itu dianggap sebagai sebuah tantangan yang harus dihadapi dengan tanpa keluh kesah. Hal ini tentu akan membuat segi positif dalam dirinya semakin bertambah. 


Penderitaan yang demikian, dapat memacu atau mendorong seseorang untuk mencari dan memutuskan perkara yang lebih baik, sehingga membuat mereka belajar dari pengalaman untuk tidak mengulangi kesalahan mereka lagi. 


Penderitaan untuk orang yang bertipe petarung seperti itu, akan mendapati dirinya lebih kuat dan tegar dalam menjalani kehidupan yang keras ini. Jadi, sebaiknya kita menjadikan penderitaan atau ujian hidup itu sebagai seorang teman, agar kita tidak merasa kaget atau sedih yang teramat dalam. 


Jika dicermati secara dalam, mustahil penderitaan atau ujian hidup itu tidak ada, sebab penderitaan adalah suatu unsur yang membuat kita lebih berfikir secara dewasa dan membuat suatu makna dalam kehidupan.


Adapun dalam bentuk fisik, penderitan juga tak kalah beratnya di dunia ini. Penderitaan dalam bentuk fisik yang membuat kita tersakiti dalam arti sebenarnya. 


Misalnya, bagi mereka yang menderita kelaparan, menjadi korban penyiksaan, yang rumahnya tertimpa longsoran tanah, dan bagi mereka yang mengalami suatu penyakit. Bentuk penderitaan seperti ini, mungkin akan berlangsung lebih lama daripada bentuk penderitaan yang dialami secara psikis. 


Penderitaan atau ujian hidup secara psikis akan berhenti ketika kita berhenti pula menganggap itu sebagai penderitaan serta merubah cara pandang negatif selama ini. 


Akan tetapi, penderitaan fisik tidak akan berhenti ketika kita telah berfikir untuk berhenti. Karena sifatnya adalah menyangkut unsur-unsur fisik. Penderitaan seperti ini, memerlukan suatu usaha atau kerja keras yang lebih kemudian berdoa Allah agar kita keluar dari derita tersebut.


Jika dicermati dengan saksama, kehidupan beragama atau bertuhan, hukuman Allah terhadap orang-orang yang tidak  bertaqwa dan tidak mentaati perintah-Nya serta tidak menjauhi larangan-Nya, kurang lebih seperti itu pula. 


Karena hidup adalah sebab akibat, hukuman dan penghargaan itu ada disebakan oleh suatu hal, maka muncullah.


Penderitaan batin dalam ilmu psikologi, dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana, kekalutan mental adalah gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang wajar. 


Karena dengan pemikiran yang positif, kita dapat melakukan segala sesuatunya dengan lebih baik, dan berfikir bahwa apa yang kita lakukan tidak akan sia-sia yang justru malah melatih kita untuk selalu berusaha dan tidak bermalas-malasan. Dan memacu bahwa kita bisa mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dengan berusaha sekeras mungkin, bukan malah berputus asa dan tenggelam dalam keinginan yang hanya sekedar mimpi.


Tidak sedikt pula, mereka yang tidak dapat berfikir positif, banyak mengambil mudaratnya yang justru malah menjadikan beban dalam hidupnya. Akan ada banyak hal yang dipikirkan oleh orang tersebut, tapi pemikiran ini bukannya untuk menemukan jalan keluar, justru membuat suatu masalah menjadi rumit. Sehingga, terjadilah gangguan jiwa seperti pusing, nyeri, lesu, dan lelah. 


Apabila terjadi hal yang demikian, hendaklah bercerita kepada seorang teman dekat anda untuk meringankan beban yang sedang terjadi dan mungkin akan  memberikan masukkan yang baik untuk jalan keluar yang kita maksud. Dan yang lebih arif lagi, dengan cara berdoa di dalam shalat tahajud di sepertiga malam menjelang subuh. 


Hamba yang beriman dan shaleh itu, akan mengadukan permasalahannya dengan tangisan kepada Allah dengan sujud yang benar-benar sujud. Sehingga, esensi ketaqwaannya akan didapatkan dengan mulia. Hal inilah yang tergambar di dalam firman Allah yang artinya bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bertakwa.


Digubah dari buku karya prof. Dadang Kahmad berjudul, Musibah Pasti Berlalu (Quanta, 2014).