Bermuhammadiyah Lintas Generasi

Notification

×

Iklan

Iklan

Bermuhammadiyah Lintas Generasi

Sabtu, 15 Oktober 2022 | 12:05 WIB Last Updated 2022-10-15T05:05:25Z


Oleh: Ace Somantri,
Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung)


Kehidupan abad 21 sudah berjalan. Pergantian generasi ke generasi sejak baby bomers berganti menjadi generasi X, kemudian menjadi generasi milenial atau generasi Y, saat ini tidak akan lama lagi akan memasuki generasi Z dan Alfa. 


Generasi Z dan alfa akan benar-benar menciptakan perubahan kebudayaan sporadis, hingga setiap individu kaget dengan fenomena kebudayaan teknologis mereka. 


Kadang percaya tidak percaya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi generasi Z bikin kita kaget dan bengong. Mereka berusaha mengimbangi kebutuhan tuntutan zaman dan kehidupan manusia global. 


Konsekuensinya manusia-manusia yang hidup di belahan dunia pada suatu bangsa dan negara menjauh dari akselerasi jangkauan orang-orang yang memiliki atmosfer berpikir dan berbuat cepat. 


Akhirnya populasi di dunia lebih banyak menjadi kelompok manusia konsumen dari produk ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan menjadi produsen. Kita pun banyak menggunakan karya dan menikmatinya hingga lupa diri, terbujur kaku untuk mengkonsumsi dan menikmati hasil orang lain yang akhirnya membentuk sikap konsumtif.


Budaya konsumtif manusia sudah menjadi sesuatu yang biasa dan lumrah. Bahkan hal tersebut sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari struktur psikologis umat manusia sehingga menjadi sifat dan karakter yang membudaya.


Parahnya lagi, konsumsumerisme merasuki paradigma kehidupan sehingga menjadikan pragmatisme dan laku hedonistik sebagai life style. Bila saja prilaku tersebut (baca:konsumtif) menjadi tradisi, tentu saja sangat berbahaya bagi keberlangsungan beragama seseorang, khususnya umat manusia yang beragama Islam.  


Disadari atau tidak, era global membawa manusia masuk pada jebakan hidup serba digital. Boleh dikatakan belum lama, kehidupan manusia dalam komunikasi, interaksi, serta negosiasi senantiasa tidak lepas dari produk teknologi digital. 


Apalagi sejak covid-19 melanda dunia, semua penduduk dunia berbagai negara di paksa tanpa ampun dan toleransi sama sekali untuk menggunakan interaksi berbasis teknologi digital. Konsumerisme digital menjadi sikap seluruh umat manusia, termasuk warga negara Indonesia. 


Pun sama ketika di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah, warganya bermuhammadiyah tidak bisa lepas dari dinamika teknologi digital. Teknologi yang menjadi fenomena alam nyata sehingga mampu menyihir prilaku umat manusia. 


Rela tidak rela akhirnya hal itu mentradisikan berbagai kegiatan menggunakan fasilitas produk teknologi digital karya orang lain. Padahal, Muhamamdiyah memiliki ratusan perguruan tinggi berkelas. 


Seharusnya Muhammadiyah jauh sebelum peradaban teknologi digital yang menjadi bagian yang mengikat dari zaman, sudah seharusnya Muhammadiyah memiliki perangkat lunak dan keras untuk menjadi pemain penyedia produk teknologi digital. 


Konsekuensi konsumerisme digital sangat berdampak pada sikap dan prilaku orang yang tidak biasa mengungkap dan bicara verbal secara langsung dan terbuka, akhirnya saat ini hampir semua orang berujar kata mencurahkan isi hatinya, baik kekecewaan, kebahagian, kesedihan serta hal ihwal lainya masih dikatakan wajar. 


Yang lebih parah fasilitas tersebut dijadikan oleh masyarakat menyebar informasi hoax dan menebar isu untuk kepentingan sesaat untuk tujuan buruk dan jahat. 


Dalam konteks kepribadian Muhammadiyah, fasilitas teknologi digital menjadi media yang cepat menebar kebaikan dan kebenaran Islam secara masif dan agresif. Apapun alasannya, kecepatan teknologi digital melekat dengan jiwa dan raga manusia saat ini hingga masa yang akan datang. 


Narasi dan risalah terus diproduksi untuk memberi asupan gizi dan nutrisi paham beragama yang enak dikonsumsi. Kalimat dan susunan kata dibuat sederhana, namun isinya mampu menembus hati dan nurani. 


Tidak boleh kalah oleh penebar HOAX yang deras bak air banjir bandang mengalir deras. Yakin benar, kekuatan yang Maha Benar akan memberi jalan bagi siapapun umat Islam, termasuk Muhammadiyah dengan tekad irodah qubro membendung dan menghambat Paham yang menyesatkan Islam, sehingga mampu menahan dan mengurangi penebar keburukan. Hanya Allah Ta'ala sebaik-baik penolong. 


Bandung, Oktober 2022