Dakwah Ramahnya Muhammadiyah Itu Harus Menggembirakan Masyarakat!

Notification

×

Iklan

Iklan

Dakwah Ramahnya Muhammadiyah Itu Harus Menggembirakan Masyarakat!

Rabu, 12 Oktober 2022 | 15:57 WIB Last Updated 2022-10-12T08:57:21Z


Dakwah kepada masyarakat luas, lebih-lebih komunitas khusus harus dilakukan dengan ramah, bukan marah-marah. Menurut Ketua Lembaga Dakwah Khusus (LDK) PP Muhammadiyah, Muhammad Ziyad, dakwah ke mereka tentu harus dengan mendidik bukan menghardik.


Komunitas khusus atau kelompok marginal, imbuh Ziyad, meliputi kelompok Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT), tuna susila, anak jalanan, preman, punk, pemulung dan seterusnya. Menurutnya, mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan dakwah, dan hak yang sama untuk masuk surga.


Dalam tausiyah di Gerakan Subuh Mengaji (GSM) ‘Aisyiyah Jawa Barat yang disiarkan secara online, Rabu (12/10) tersebut, Ziyad menjelaskan bahwa dakwah kepada kelompok pinggiran atau marginal memiliki tantangan tersendiri. Berbeda jika dakwah di majelis-majelis taklim yang relatif statis, karena memang diisi oleh orang-orang baik.


Di masa sekarang, dengan banyak mubaligh atau da’i yang menyampaikan ajaran agama Islam dengan marah-marah, menurut Ziyad ‘mainnya’ mubaligh tersebut kurang jauh. 


“Padahal dakwah itu dilakukan dengan mengajak bukan mengejek, dengan mendidik bukan menghardik, menyayangi bukan menyaingi, dan dengan empati bukan membenci,” tuturnya.


Sebagai mubaligh, imbuhnya, tidak boleh menghakimi penampilan seseorang yang akan menjadi objek dakwahnya atau mad’unya. Terkait itu, di Muhammadiyah memiliki tagline dakwah yang menggembirakan dan memajukan, menyapa siapapun tanpa memilih orang. 


Terma gembira, katanya, juga digunakan ketika muktamar yaitu penggembira.


Hal ini bukan tanpa dasar, sebab istilah menggembirakan ini telah ada sejak awal berdirinya Muhammadiyah yang memang salah satu tujuannya untuk menggembirakan pengajaran Agama Islam. 


Untuk itu dia berharap pada perhelatan Muktamar ke-48 Muhammadiyah-‘Aisyiyah di Surakarta nanti tidak ada yang sedih hati.


Tentang dakwah menggembirakan, para mubaligh dari LDK PP Muhammadiyah sebelum diterjunkan ke daerah 3T, termasuk komunitas khusus perkotaan, mereka dibekali dengan pendekatan humanis. Program atau gerakan yang dilakukan lahir dari bawah, bukan dari atas atau dengan istilah “bottom up, bukan top down”.


“Ketika berdakwah kepada kelompok LGBT, mereka (mubaligh LDK) dengan posisi menyamar, tidak seperti kita memakai peci, pakai baju koko, kemudian bersorban. Tapi pakai ala seperti mereka, bedanya tidak berperilaku seperti mereka,” ungkapnya.