Makna tentang Syafaat, Apa dan Bagaimana? Ini Jawaban Muhammadiyah

Notification

×

Iklan

Iklan

Makna tentang Syafaat, Apa dan Bagaimana? Ini Jawaban Muhammadiyah

Kamis, 13 Oktober 2022 | 12:01 WIB Last Updated 2022-10-13T05:02:11Z


Di dalam Al-Quran surat al-Baqarah ayat 255 menerangkan bahwa yang dapat memberi syafa’at itu hanyalah orang yang telah mendapatkan izin dari Allah SWT. 


Tentang siapa saja yang telah diberi izin oleh Allah untuk memberikan syafa’at itu, termasuk ilmu Allah, kecuali orang yang telah diberi tahu oleh Allah dengan perantara firman-Nya (al-Qur an) atau Rasul-Nya (al-Sunnah).


Syafa’at itu adalah ilmu Allah SWT, hanya diperoleh oleh orang yang mendapat izin-Nya sebagaimana diterangkan hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim sebagai berikut:


Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Allah akan mengumpulkan manusia pada hari kiamat, lalu mereka berkata: ‘sekiranya ada yang dapat memberi syafa’at dalam menemui Tuhan kami, sehingga kami terbebas (keluar) dari tempat ini. 


Lalu mereka pergi menemui Adam, mereka berkata: engkau Adam, Allah telah menciptakan engkau dengan tangan-Nya dan telah meniupkan roh (yang berasal) dari-Nya kepada engkau dan telah memerintahkan para malaikat untuk bersujud (kepada engkau), lalu mereka bersujud, karena itu berilah kami syafa’at yang berasal dari Tuhan kami. 


Adam menjawab: “aku bukanlah orang yang dapat member syafa’at”. Lalu ia menyebut kesalahan-kesalahan yang pernah ia kerjakan. 


Ia malu kepada Tuhan karenanya dan berkata: “pergilah kepada Nuh, Rasul yang pertama sekali diangkat oleh Allah”. 


(setelah itu mereka pergi menemuinya), beliau menjawab: “aku bukanlah orang yang dapat member syafa’at. Lalu ia menyebutkan kesalahan-kesalahan yang pernah ia kerjakan. 


Ia malu kepada Tuhan karenanya dan berkata: “datanglah kepada Ibrahim yang telah dijadikan Allah dekat kepada-Nya”. 


Mereka kemudian datang kepada Ibrahim, beliau berkata: “aku bukanlah orang yang dapat memberikan syafa’at kepadamu”. Beliau menyebutkan kesalahan-kesalahan yang pernah beliau lakukan. 


Ia malu kepada Tuhan karenanya dan berkata: “datanglah kepada Musa yang telah diajak berdialog dengan Tuhan dan diberinya cahaya yang terang”. 


(lalu mereka mendatangi Musa). Musa berkata: “aku bukanlah orang yang dapat memberikan syafa’at kepadamu”. Beliau  menyebutkan kesalahan-kesalahan yang pernah dan beliau malu kepada Tuhan karenanya dan berkata: “datanglah kepada Isa ruh Allah dan kalam-Nya”. 


Kemudian mereka datang kepada Isa. Beliau berkata: “aku bukanlah orang yang dapat memberika syafa’at kepadamu”. 


Beliau berkata: “datanglah kepada Muhammad SAW, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosanya yang telah terdahulu dan yang akan datang”. 


Lalu mereka datang kepadaku dan aku meminta izin kepada Tuhanku. Waktu aku melihat-Nya, aku bersujud dan dibiarkannya aku bersujud beberapa lama. Lalu Dia berkata: “angkatlah kepalamu, mintalah, (engkau) akan diberi, katakanlah, (engkau) akan didengar, mintalah izin memberi syafaat, (engkau) akan diberi”. 


Lalu aku angkat kepalaku sambil memuji Allah dengan cara yang diajarkan kepadaku. Kemudian aku diizinkan memberi syafa’at kepada orang-orang yang telah ditentukan. 


Aku keluarkan mereka dari nereka dan aku masukkan mereka ke dalam surga. Kemudian aku bersujud seperti semula pada yang ketiga atau yang keempat hingga yang tinggal di neraka hanyalah orang-orang yang menentang al-Qur an.”


Pada hadis yang lain yang bercerita ‘Ukasyah ibnu Mihsan, diterangkan syarat-syarat orang yang mendapatkan syafa’at dari Rasulullah Saw.


“Rasulullah SAW bersabda: “(yang mendapatkan syafa’at itu adalah) mereka yang tidak percaya kepada jampi-jampi (doa atau ucapan yang mengandung syirik), mereka yang tidak melakukan pengobatan yang mematikan syaraf, mereka yang tidak meramal nasib dengan burung (atau yang sejenis). Dan mereka yang selalu bertawakkal kepada Tuhan-Nya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

 

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan:


1. Syafa’at itu ada dan yang dapat memberikan syafa’at itu hanyalah orang yang diberi izin Allah SWT, sebagaimana yang diterangkan di atas.


2. Orang yang mendapatkan syafa’at adalah orang yang memenuhi empat syarat sebagaimana yang disebutkan di atas.


3. Tentang siapa saja yang diberi izin oleh Allah SWT untuk memberi syafa’at tidak dapat kita ketahui dengan pasti, karena hal itu termasuk ilmu Allah SWT.


4. Kaum muslimin dilarang oleh Allah SWT menduga-duga sesuatu yang kita tidak diberi Allah SWT untuk mengetahuinya. Malaikat pernah ditegur keras oleh Allah SWT Karena menduga bahwa Adam dan keturunannya yang akan diciptakan Allah SWT akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah (baca QS. Al-Baqarah ayat 30-39). 


Demikian pula Quran Surat Al-Hujurat ayat 12, Allah SWT melarang orang-orang yang beriman berburuk sangka atau menduga-duga karena hal itu termasuk dosa.


Yang paling baik bagi kita orang yang beriman adalah perkuatlah iman masing-masing, perbanyak amal saleh dan hentikan empat larangan yang disebutkan dalam hadis di atas.


Sumber: muhammadiyah.or.id