Iklan

Iklan

,

Iklan

Psikolog UAD Yogya: Kader Profesional Wajib Punya Dua Sifat Ini

Redaksi
Jumat, 11 November 2022, 10:55 WIB Last Updated 2022-11-11T03:55:36Z


Mengambil ibrah dari Surat Al-Qashas ayat 26, ada pelajaran penting terkait sosok kader profesional. Ayat itu sendiri mengisahkan pertemuan Nabi Musa dengan dua orang perempuan penggembala ternak di kota Madyan.


Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, “Wahai ayahku! Jadikanlah dia (Musa) sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat (Al-Qawiyu) dan dapat dipercaya (Al-Aminu),”.


Menurut Khoiruddin Bashori, Lektor Kepala Prodi Psikologi UAD Yogya, kader profesional itu harus memiliki dua sifat sekaligus yaitu Al-Qawiyu (kuat) dan Al-Aminu (dapat dipercaya). Dalam Seminar Pra Muktamar bertajuk Perkaderan di Sekolah Menengah Muhammadiyah, Kamis (10/11/2022), Khoiruddin menerjemahkan Al-Qawiyu bukan hanya sebagai sifat kuat, tetapi juga sebagai sifat solutif.


Hal ini digambarkan bagaimana inisiatif Nabi Musa memberi minum ternak itu saat kedua perempuan tersebut sedang kepayahan.


“Pesan moralnya qawiyu, solutif. Orang yang solutif itu adalah orang yang kompeten. Karena kalau dipasrahin apa-apa pasti selesai,” ujarnya.


Selanjutnya, Khoiruddin menerjemahkan Al-Aminu bukan hanya sebagai dapat dipercaya, tetapi juga berkarakter. Hal ini dapat dilihat saat Nabi Musa memilih berjalan di depan kedua perempuan itu agar menghindari melihat aurat sang perempuan.


“Jadi dua hal ini yang menurut saya profil yang harus kita garis bawahi kalau kita ingin membina kader, pastikan pertama solutif, kedua bisa dipercya, punya integritas yang tinggi,” imbuhnya.


Selain dua kata kunci tersebut, untuk menjadi seorang kader profesional, seorang kader menurut Khoiruddin harus berkaca dari hadis riwayat Muslim no.4266 dari Anas bin Malik yang menyatakan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling baik (ahsanannas), orang yang paling pemurah (ajwadannas), dan orang yang paling berani (asyjaannas).


“Itu adalah indikator dari orang yang kecerdasan spiritualitasnya tinggi. Orang yang beragama dan spiritualitas tinggi, itu keluarnya tiga ini,” jelas Khoiruddin.


“Ndak ada orang yang mengaku agamanya baik tapi sulit diajak kerja sama, pelit, dan penakut. Ndak ada,” pungkasnya. ***(afn)

Iklan

UMBandung