Andai Tim Sepak Bola! Inilah Formasi 4-4-2 PP Muhammadiyah

Notification

×

Iklan

Iklan

Andai Tim Sepak Bola! Inilah Formasi 4-4-2 PP Muhammadiyah

Rabu, 14 Desember 2022 | 08:13 WIB Last Updated 2022-12-14T01:13:59Z


Oleh: Ilham Ibrahim


JAKARTA - Tayangan sepak bola telah menjadi hiburan bagi semua orang. Dari khalayak urban yang mendiami café-café estetik, hingga orang-orang desa dari bilik pos ronda. Apalagi di musim Piala Dunia 2022 seperti sekarang ini. 


Bisa dibilang, Piala Dunia menjadi salah satu buah paling ranum dalam tayangan sepak bola. Sebab, banyak di antara kita yang tadinya tidak terlalu memerhatikan sepak bola, jadi ikut hanyut mendukung salah satu tim nasional.


Bersamaan dengan popularitas sepak bola di tengah Piala Dunia, Persyarikatan baru-baru ini telah memilih 13 nama sebagai anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Melalui arena Muktamar ke-48 di Solo beberapa waktu silam, mereka dipilih tidak berdasarkan sensasi pemberitaan atau akrobat pemikiran, melainkan berasaskan pada kapasitas, loyalitas, dan integritas individu.


Ke-13 anggota PP Muhammadiyah memiliki tanggungjawab yang cukup berat. Kini Muhammadiyah berada dalam pusaran ideologi dan kontestasi gagasan keislaman yang sangat kompleks. 


Belum lagi berbagai ideologi besar dunia kian meluaskan paham dan hegenominya secara masif. Sambil menyelam minum air, berikut saya sajikan formasi 4-4-2 yang bisa dipakai anggota PP Muhammadiyah sebagai strategi untuk memenangkan arena kontestasi ideologi tersebut, sekaligus memperkuat basis ideologi persyarikatan.


Pelatih: Saad Ibrahim


Saad Ibrahim lahir di Mojokerto, 17 November 1954. Pernah menjadi Wakil Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Malang), dan telah lama berada pucuk Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. 


Ia juga dikenal sebagai sosok ulama yang disegani. Ucapannya penuh dengan kebijaksanaan. Dengan pengalaman dan kejernihan pikirannya, saya posisikan beliau sebagai pelatih yang akan meracik strategi berkemajuan hingga dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.


Kiper: Dadang Kahmad


Dadang Kahmad lahir di Garut, 5 Oktober 1952. Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN Bandung) ini merupakan lulusan kampus Barat Univesitas McGill, Kanada. 


Kepakarannya dalam bidang Sosiologi Agama menjadi alasan saya menempatkannya sebagai penjaga gawang. Diharapkan beliau mampu menepis segala tembakan-tembakan ideologis dari penyerang lawan.


Bek Tengah I: Muhadjir Effendy


Muhadjir Effendy lahir di Madiun, 29 Juli 1956. Pernah jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), saat ini menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). 


Sebagai orang yang berada di dalam istana, saya tempatkan beliau di bek tengah agar leluasa melakukan tackle-tackle cerdas bagi lawan-lawan ideologis yang meresahkan keutuhan NKRI.


Bek Tengah II: Syafiq A Mughni


Syafiq A Mughni lahir di Lamongan, 15 Juni 1954. Pernah jadi rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Gelar master dan doktor pada Studi Islam pun tidak tanggung-tanggung didapatkan di Universitas California Los Angeles. 


Menempatkannya sebagai bek tengah, dengan pengetahuan keislamannya yang mempuni, beliau akan mampu menghalau laju serangan-serangan dari kelompok teror yang sering mengatasnamakan agama.


Bek Kanan: Ahmad Dahlan Rais


Ahmad Dahlan Rais lahir di Solo, 26 Maret 1951. Lahir dari keluarga Muhammadiyah tulen, dari TK hingga SMA, ia sekolah di satuan pendidikan Muhammadiyah, bahkan kini menjadi BPH Universitas Muhammadiyah Surakarta. 


Kemuhammadiyahannya tidak perlu diragukan lagi. Sebagai bek kanan, beliau diharapkan ikut membantu serangan, agar tercipta kemenangan bagi Persyarikatan Muhammadiyah.


Bek Kiri: Agung Danarto


Agung Danarto lahir di Kulon Progo, 24 Januari 1968. Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Jogja) ini telah lama aktif di Muhammadiyah. Dari anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah, hingga Sekretaris Umum PP Muhammadiyah. 


Ia juga memiliki kepakaran di bidang hadis. Berperan sebagai bek kanan, beliau diharapkan mampu membendung gerakan-gerakan “sayap kanan” dari lawan.


Gelandang Tengah: Syamsul Anwar


Syamsul Anwar lahir di Natuna, 17 Februari 1956. Guru Besar sekaligus pakar Hukum Islam dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Jogja) ini merupakan Ketua Majelis Tarjih terlama setelah Wardan Diponingrat. 


Kehadirannya di struktur Pimpinan Pusat Muhammadiyah diharapkan membawa nuansa keulamaan di tubuh Persyarikatan. Berposisi sebagai gelandang tengah, beliau akan mengatur ritme permainan dengan mengkombinasikan taktik purifikasi dan dinamisasi. Dengan begitu, Muhammadiyah akan terus shalih likulli zaman wa makan.


Gelandang Tengah: Hilman Latief


Hilman Latief lahir di Tasikmalaya, 12 September 1975. Pria yang mendapatkan gelar master Amerika Serikat dan doktoral di Belanda ini merupakan anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang paling muda. 


Meski terhitung masih belia, ia telah menjadi Guru Besar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Sebagai playmaker dengan jelajah yang tinggi, beliau diharapkan mampu memberikan umpan manja, berupa ide-ide filantropis, agar Persyarikatan tetap menjadi gerakan amal.


Sayap Kanan: Irwan Akib


Irwan Akib lahir di Pare-pare, 2 Agustus 1963. Pernah tercatat sebagai Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan dan Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah. 


Sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Matematika, ia memang sangat cocok berposisi sebagai sayap kanan. Melalui hitung-hitungan matematisnya, beliau diharapkan menambah daya gedor Persyarikatan dalam menciptakan inovasi-inovasi berkemajuan, baik di bidang ilmu pengetahuan maupun teknologi.


Sayap Kiri: Busyro Muqoddas


Busyro Muqoddas lahir di Yogyakarta, 17 Juli 1952. Pakar hukum yang pernah berkecimpung di Komisi Yudisial (KY) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini merupakan kader Muhammadiyah paling tulen. 


Bayangkan dari ketua ranting hingga menjadi ketua pimpinan pusat pernah diembannya. Sebagai orang paling kritis terhadap kebijakan pemerintah sekaligus kader ideologis persyarikatan paling tahan banting, beliau saya tempatkan sebagai sayap kiri.


Penyerang: Abdul Mu’ti


Abdul Mu’ti lahir di Kudus, 2 September 1968. Guru Besar bidang Pendidikan Agama Islam Universitas Syarif Hidayatullah (UIN Jakarta) ini merupakan anomali di tubuh Persyarikatan. Selain piawai menjelaskan perkara rumit menjadi sangat sederhana, ia juga mampu membius jamaah dengan pernyataan-pernyataannya yang kocak namun bergizi tinggi. 


Saya tempatkan sebagai penyerang tersebab beliau menjadi sosok yang paling depan dalam mempromosikan ide-ide Persyarikatan baik di tingkat nasional maupun internasional.


Penyerang: Haedar Nashir


Haedar Nashir lahir di Bandung, 25 Februari 1958. Mendapat predikat sebagai Guru Besar bidang Sosiologi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ia menyadari kuatnya kontestasi gagasan keislaman maupun ideologi besar dunia. 


Dikenal sebagai ideolog Muhammadiyah, saya tempatkan dirinya sebagai penyerang utama. Diharapkan dengan posisinya itu mampu membawa Persyarikatan Muhammadiyah meraih kemenangan, yaitu kemanangan menjadikan Islam sebagai din al-hadlarah atau agama yang berkemajuan dan berkeadaban.


Panglima Suporter: Anwar Abbas


Anwar Abbas lahir di Balaimansiro, 15 Februari 1955. Pengajar tetap di Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN Jakarta) ini merupakan tokoh Muhammadiyah yang cukup disegani warga Muhammadiyah dan bangsa Indonesia secara umum. 


Sebagai panglima dari pemain keduabelas, kehadirannya begitu penting agar warga Muhammadiyah tetap menjaga loyalitasnya terhadap Persyarikatan, sekaligus memberikan energi untuk tetap bergelora di tengah ketidakpastian hidup.


Itulah formasi 4-4-2 sebagai strategi untuk memenangkan Persyarikatan Muhammadiyah dalam kontestasi ideologi. Kemenangan Muhammadiyah adalah saat-saat terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Yaitu masyarakat yang memiliki kepribadian ganda: sebagai abdullah yang selalu taat kepada Allah; dan sebagai khalifatullah yang kerap berkontribusi positif bagi lingkungan. 


Bila kader Muhammadiyah seluruhnya memiliki karakter seperti ini maka bukan tidak mungkin Persyarikatan bakal mendapat predikat sebagai umat terbaik (khair al-ummah). Wallahua’lam.