Prinsip Ibadah dalam Islam! Berikut Ini Penjelasan Muhammadiyah

Notification

×

Iklan

Iklan

Prinsip Ibadah dalam Islam! Berikut Ini Penjelasan Muhammadiyah

Minggu, 04 Desember 2022 | 16:05 WIB Last Updated 2022-12-04T09:05:51Z


BANDUNG
— Pada hakikatnya penciptaan manusia adalah untuk mengabdi hanya kepada Allah, Tuhan yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk.


Beribadah kepada Allah tidak hanya menjalankan kewajiban tanpa makna. Namun, ibadah menjadi kebutuhan dan syukur manusia kepada Allah. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Syamsul Anwar menjelaskan prinsip-prinsip ibadah dalam Islam.


1. Kemudahan


Dalam kaidah usul disebutkan setiap kesulitan pada dasarnya menuntut kemudahan (al-masyaqqah tajlib al-taysir). Kalau diperhatikan secara saksama, setiap ibadah dalam Islam disediakan kemudahan-kemudahan.


Misalnya, bersuci dalam kondisi normal harus dilakukan dengan air. Namun kalau dalam kondisi sulit, bersuci dapat dilakukan dengan tayamum. Islam tidak menghendaki penderitaan. Rasulullah pernah meluruskan kekeliruan tiga orang sahabat yang mengaku menjalankan agamanya secara benar.


Masing-masing dari ketiga sahabat itu mengaku rajin berpuasa dan tidak berbuka, selalu salat malam dan tidak pernah tidur, dan tidak menikah lantaran takut mengganggu ibadah.


Rasulullah saat itu menegaskan “Aku yang terbaik di antara kalian.” Apa pasal? Rasulullah berpuasa dan berbuka, salat malam dan tidur, serta mengerjakan ibadah dan menikah.


“Agama tidak menghendaki penderitaan. Dalam agama Islam, tidak ada pararelisme antara tingkat penderitaan dengan tingkat pahala yang besar. Jadi, agama Islam tidak menilai besar kecilnya pahala itu dari tingkat penderitaannya,” terang Prof Syamsul dikutip dari laman resmi Muhammadiyah.or.id.


2. Kemampuan


Bertakwa kepada Allah menurut kesanggupan seseorang. Allah telah menentukan segala sesuatu sesuai dengan ukurannya. Demikian pula manusia sebagai makhluk taklifi tidak akan dibebani dengan suatu hukum melainkan sesuai dengan kadar kemampuannya.


Mereka yang memiliki keterbatasan dan berkebutuhan khusus, soal pelaksanaan ibadah dikembalikan kepada kondisi dan kemampuan masing-masing. Dengan adanya prinsip kemampuan dalam beribadah ini sesungguhnya Islam ingin memastikan agar umatnya dapat menjalankan agama tanpa susah payah dalam dimensi ruang dan waktu.


Kemudian agar mendorong agar rajin menjalankan agama lantaran bisa dilakukan dengan mudah dan tanpa kesulitan. Misalnya, mereka yang lanjut usia, wanita hamil atau menyusui, dan orang-orang yang tergolong kondisi berat (yutiqunahu) boleh untuk tidak menjalankan puasa Ramadan, misalnya, dan menggantinya dengan fidyah.


“Tidak boleh memaksakan, harus disesuaikan dengan kemampuan. Misalnya ibu yang sedang hamil atau sedang menyusui tidak diperkenankan untuk berpuasa. Agama itu tidak dipaksakan untuk dilaksanakan sedemikian rupa, ada prinsip kemampuan,” tutur pakar hukum Islam dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.


3. Tidak menimbulkan mudarat


Hal tersebut berdasarkan hadis Nabi yang diriwayatkan Malik dan Ahmad menyebut bahwa laa dlirara wa la dlirara, yakni tidak mudarat dan memudaratkan. Lawan sepadan mudarat adalah maslahat.


Imam Al-Ghazali dalam kitab “Mushtasfa min Ilm al-Usul” berpendapat bahwa relasi yang terbangun antara syariat dan istislah (kemaslahatan) erat sekali.


Maslahat menurut Al-Ghazali adalah memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Oleh karena itu, jika mengancam kelima hal ini, maka termasuk dalam kondisi darurat.


“Jadi, melaksanakan agama itu tidak boleh menimbulkan mudarat. Oleh karena itu, orang yang sakit, supaya tidak bertambah sakit, dia boleh tidak berpuasa. Termasuk orang yang terkena covid-19 atau penyakit lainnya, boleh tidak berpuasa,” ujarnya.


4. Mengikuti sunah Rasulullah


Dengan prinsip mengikuti sunah Rasulullah, ini artinya setiap muslim harus selalu mendasarkan diri dan menaati seluruh larangan dan perintah Allah sekaligus meneladani serta mengikuti Rasulullah.


Dalam Al-Quran banyak ayat yang memerintahkan kaum muslim untuk ittiba kepada Rasulullah agar hidupnya selamat di dunia dan akhirat (QS. An-Nisa: 59).


“Dalam hadis dikatakan ‘salatlah kalian sebagaimana aku salat’. Ini menjadi dasar agar mengikuti sunah Rasulullah. Walaupun konteksnya berbicara ibadah salat, tetapi ini jadi landasan bahwa pelaksanaan ibadah harus mengikuti Rasulullah,” katanya.***