Prof Haedar Nashir: Al-Quran Menuntun Umat Islam Supaya Tidak Tertinggal

Notification

×

Iklan

Iklan

Prof Haedar Nashir: Al-Quran Menuntun Umat Islam Supaya Tidak Tertinggal

Kamis, 22 Desember 2022 | 15:48 WIB Last Updated 2022-12-22T08:48:10Z


BANDUNG
– Cita-cita besar memperjuangkan kembali peradaban Islam (khairu ummah) hanya akan terjadi jika umat selesai berdebat soal khilafiyah. Selain itu, umat harus mulai bertransformasi kepada persoalan yang lebih mendasar dan berorientasi jangka panjang.


Demikian pesan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir di Bandung, Selasa (20/12/2022). Haedar lalu mengutip ayat ke-18 Surat Al-Hasyr yang menyarankan umat muslim agar bertanadhar (mengoptimalkan rasio), memiliki visi yang jauh, serta bertakwa.


“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”


Menurut riwayat Imam Ahmad, ayat ini pernah dibaca oleh Rasulullah Saw saat berjumpa dengan umat Islam dari Suku Mudhar yang miskin dan compang-camping. Keadaan terbelakang itu membuat Rasulullah Saw sedih hingga datanglah Suku Anshar yang berderma kepada mereka.


“Pesan dari Alquran ini agar umat Islam tidak compang-camping hidupnya, umat Islam tidak marginal, tidak tertinggal, umat Islam tidak punya tradisi kecil, tapi harus punya tradisi besar. The great tradition,” ucapnya.


Haedar menjelaskan bahwa ayat ini menekankan visi kehidupan yang jauh terhadap kehidupan dunia dan akhirat sekaligus bertanadhar agar unggul di dalam dua kehidupan itu. Sikap ini kata dia adalah bentuk lain dari ketakwaan.


“Di situ bahwa tanadhar tentang masa depan terjauh atau akhirat mestinya juga dikaitkan dengan masa depan ketika kita hidup di dunia. Nah itu ekuivalen dengan ketakwaan, yang takwa itu tidak selalu khasyah (sikap takut), tapi wiqayah, sikap kewaspadaan di dalam hidup,” jelasnya.


Karenanya, upaya membangun peradaban kata dia tidak bisa dilakukan dengan meributkan hal yang bersifat domestik seperti cara makan, cara minum, cara berpakaian. Sebaliknya, umat diharapkan mulai merancang strategi jangka panjang yang filosofis dan praksis.


“Mestinya soal cara makan, cara minum, cara berpakaian itu sudah selesai di kalangn umat Islam. Jangan lagi itu seakan-akan hal yang baru. Apalagi terus berdebat soal itu. Ketika kita ribut soal cara makan, cara minum, cara berpakaian, orang berpikir cara ke bulan, sekarang Elon Musk berpikir caranya ingin membangun koloni di Mars, sedang kita ribut soal-soal khilafiyah, saling menyesatkan antar kelompok Islam, ketemu saja jadi masalah,” kritiknya.


“Kalau posisi kita masih di situ, kita tidak akan masuk atau naik kelas menjadi umat yang khairu ummah,” pungkasnya. ***