Ditawari Malaikat Hancurkan Penduduk Thaif, Eh Rasulullah Maafin Lebih Dulu!

Notification

×

Iklan

Iklan

Ditawari Malaikat Hancurkan Penduduk Thaif, Eh Rasulullah Maafin Lebih Dulu!

Sabtu, 10 Desember 2022 | 11:09 WIB Last Updated 2022-12-10T04:09:01Z


JAKARTA
- Rasulullah orangnya pemaaf. Beliau selalu memaafkan orang-orang yang telah berbuat aniaya padanya dengan tulus dan ikhlas. 


Suatu ketika, sepeninggal pamanya, Abu Thalib, gangguan kafir Quraisy padanya semakin menjadi-jadi. 


Untuk itulah, beliau sempat berniat meninggalkan tanah kelahirannya, Makkah, pindah menuju ke daerah Tha’if. Harapaya, di daerah Tha’if beliau memperoleh dukungan penduduk dan mereka akan menyambut baik ajaran Islam. 


Beliau bersama Zaid Ibn Haritsah, anak angkatnya, bersiap-siap pergi ke Tha’if dengan membawa bekal seadanya. Beliau pergi ke Tha’if dengan berjalan kaki. 


Terbayang bagaimana lelahnya fisik kekasih kita itu, karena menempuh perjalanan melelahkan sepanjang 140 km.  


Sesampainya di Tha’if, beliau menemui pemimpin Bani Tsaqif, kabilah yang berkuasa dan mempunyai kekuatan ekonomi yang cukup memadai. 


Di depan tiga pemimpin Bani Tsaqif, Rasulullah menyampaikan maksud kedatangan, yakni mengajak mereka untuk memeluk Islam dan tidak menyembah berhala.


Namun, mereka menolak mentah-mentah ajakan beliau. Seorang di antara mereka berkata, “Apakah Allah tidak dapat memperoleh seseorang untuk diutus selain engkau?”


Lalu, pemimpin yang lain berkata, “Kami hidup turun-temurun di sini.Hidup kami makmur, berkecukupan, merasa senang dan bahagia.Karenanya, kami tak perlu agama dan ajaranmu.Kami punya Tuhan Al-Latta, yang kekuatannya melebihi berhala Hubal di Kabah.”


Lantas, pemimpin lainnya menimpal, “Jauh berbeda dengan ajaran yang kamu tawarkan.Penuh siksaan dan penderitaan.Jelas kami menolak ajaran kalian.Bila tidak menolak, malapetaka bagi penduduk kami.”


Mendengar jawaban mereka, Rasulullah berkata, “Jika memang demikian, kami tidak memaksa.Maaf kalau telah mengganggu kalian.Kami mohon diri.”


Mereka berkata lagi, “Cepat pergi dari sini!Sebelum kalian menyebarkan bencana besar bagi penduduk kami.Kedatangan kalian ke sini tak bisa kami diamkan begitu saja.Mau tak mau kami harus melaporkan hal ini pada pemimpin Bani Quraisy.Kami tidak akan berkhianat.”


Dengan lunglai, Rasulullah dan Zaid Ibn Haritsah keluar dari rumah pemimpin Bani Tsaqif. Pemimpin Bani Tsaqif tentunya tidak membiarkan mereka berdua pergi begitu saja. 


Di luar rumah, Rasulullah dan Zaid Ibn Haritsah dihadang penduduk Tha’if secara tidak ramah.Bahkan, ada beberapa anak kecil. Penduduk pun melempari Rasulullah dan Zaid dengan batu sehingga mereka berdua terluka.


Mereka berdua lari menghindari lemparan batu dan setelah agak jauh dari kota Tha’if, beliau berteduh dekat pohon sembari membersihkan lukanya. 


Ketika Rasulullah sudah merasa tenang, beliau mengangkat kepala menengadah ke langit. 


Beliau berdoa mengadu kepada Allah, suatu doa berisi pengaduan yang mengharukan:


“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuanku serta kehinaan diriku di hadapan manusia.Wahai Tuhan Yang Mahapengasih Mahapenyayang.


Engkaulah yang melindungi si lemah, dan Engkaulah Pelindungku.Kepada siapa hendak Kauserahkan diriku?Kepada orang jauh yang berwajah muram kepadaku?atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Aku tidak peduli selama Engkau tidak murka kepadaku.Sungguh luas kenikmatan yang Kaulimpahkan kepadaku.Aku berlindung kepada Nur Wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan membawakan kebaikan bagi dunia dan akhirat.

Janganlah Engkau timpakan kemurkaan-Mu kepadaku.


Engkaulah yang berhak menegur hingga berkenan pada-Mu.Dan tiada daya upaya kecuali atas izin-Mu.”


Allah pun mendengar jerit tangis Muhammad Saw.,sehingga Dia mengutus Jibril untuk menghampirinya. 


Jibril berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan perlakuan penduduk Tha’if. Dia telah menyiapkan para malaikat di gunung untuk menjalankan perintahmu. Jika kau mau, malaikat-malaikat itu akan menimpakan gunung-gunung itu hingga mereka semua binasa. Atau sebutkan saja suatu hukuman yang pantas bagi mereka.”


Terbayang, pasca mendapatkan hinaan, pengusiran dan lemparan batu dari penduduk, kemudian ditawari Jibril untuk menghacurkan mereka. 


Apa jawaban Rasulullah? 


Beliau amat terkejut dengan tawaran itu, lalu menjawab, “Tidaklah mengapa orang-orang ini menolak Islam. Aku berharap atas kehendak Allah, suatu hari nanti, anak-anak mereka akan menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya.”


Aduhai betapa pemurah, pemaaf dan berhati lembut kekasih kita, Muhammad Saw. Beliau memaafkan perlakuan yang menyakitkan dari penduduk Tha’if. 

Begitu mulia akhlaknya.


Walaupun beliau disakiti, hatinya tetap tabah, penuh kelembutan dan kasih sayang.Bila menyaksikan kekejian penduduk Tha’if, orang biasa seperti kita tentunya akan mengiyakan untuk menghukum mereka yang berlaku kejam dan jahat. 


Tetapi, Rasulullah mah orangnya pemaaf. 


Beliau memaafkan dengan tulus dan ikhlas setiap perlakuan keji yang dilakukan penduduk Tha’if. Beliau adalah seorang pemimpin yang memikirkan masa depan umatnya. 


Adakah pemimpin lain yang selalu memikirkan umatnya dari sejak di dunia hingga di kehidupan berikutnya selain Rasulullah?


Tidak ada!


“Seburuk-buruknya orang adalah yang cepat marah dan lambat memaafkan.” (HR. Ahmad).*** (SAB)