Canda, Tawa dan Energi Positif

Notification

×

Iklan

Iklan

Canda, Tawa dan Energi Positif

Sabtu, 28 Januari 2023 | 17:49 WIB Last Updated 2023-01-28T10:49:14Z


Oleh: Sukron Abdilah,
Editor dan Penulis Lepas


Di bawah ini, ada kisah menggelitik hingga geli bikin rasa ingin ketawa malu-malu. 


Sarmin baru sekali ini ke Jakarta. Maklum dia baru saja menjual hasil panennya, jadi sekali-sekali ingin menikmati pelesiran ke ibukota. 


Untuk oleh-oleh sanak saudara di kampung, dia berniat membeli beberapa barang.


Tanpa panjang berpikir, ia pergi ke Pasar Mangga Dua. Setelah berkeliling, ia mampir ke kios pakaian. 


Pemilik kios itu adalah seorang Cina totok.


“Berapa baju yang ini?”, tanya Sarmin sambil memegang dan melihat-lihatnya.


“Hayya, cuman GO CENG saja lah!”


Berkerut jidat Sarmin, karena tak tahu berapa rupiah GO CENG itu.


Si empunya kios karena melihat Sarmin terdiam lantas berkata:


“Boleh tawal lah sedikit”


Karena sudah terlanjur bertanya, untuk menjaga gengsi, dengan mantapnya Sarmin menawar:


“NING NONG boleh nggak?”


“Haa?" terbelalak si engkoh.


“Belapa itu NING NONG?”


“Lha GO CENG itu berapa hayo?” Sarmin balik bertanya.


“GO CENG itu lima libu woo!” jawab si engkoh.


Setelah berpikir sebentar Sarmin pun bilang:


“Ooo, kalau begitu, NING NONG itu yaa…, kira-kira tiga ribu lima ratus lah!”


Manusia hidup dalam dua kondisi jiwa: senang dan sedih. Kesenangan adalah energi positif yang bikin kita riang bergembira. 


Dengan suasana hati riang dan senang, seseorang banyak menemukan kebahagiaan karena hidup tidak dijadikan sumber penderitaan.


Sementara itu, kesedihan identik dengan energi negatif, berupa kekecewaan. 


Ketika seseorang tak mampu melihat di balik setiap kejadian yang menimpa, misalnya, kadangkala kesedihan yang dihasilkan kekecewaan akan menjadi sumber derita.


Sebetulnya tertawa bukan sesuatu yang harus dijauhi. Ia adalah bagian dari hidup seluruh umat manusia. Dan, Islam sebagai way of life memang tidak pernah melarang umatnya untuk tertawa. 


Muka manis, senyum, dan keceriaan sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Banyak riwayat menerangkan Rasulullah Saw., terlihat gigi putihnya saat bercanda dengan istri dan sahabat-sahabatnya.


Tertawa, kalau mampu mengobati luka, tidak salah rasanya kalau dilakukan saat ragam musibah menimpanya. Asalkan, jangan menertawakan penderitaan dan kelemahan orang lain saja. 


Di balik tertawa ada rahasia jiwa yang sehat! Pepatah itu memang benar adanya. Ketika Kita tertawa lepas, jiwa terasa sehat dan hidup menjadi menyenangkan. 


Bukan hanya itu, tertawa juga merupakan indikasi dari kesehatan fisik. Orang yang sedang sakit, tidak akan terlihat tertawa.


Islam memang tidak melarang orang untuk tertawa. Namun, Syekh Imam Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Nashaih al-Ibad memberikan nasehat agar umat Islam tidak terlalu banyak tertawa. Karena, banyak tertawa hanya akan menghilangkan kewibawaan.


Akhir-akhir ini ditemukan bahwa senyum dan kesehatan mulut bisa membebaskan orang dari penyakit jantung dan stroke. Orang yang banyak senyum, kata Rasulullah Saw., seakan bersedekah dan berbuat baik untuk orang di sekitar. 


“Tabassuka fi al-wajhi shadaqatan”.


Dengan humor-humor segar, kita telah membuat orang senang. Ketika orang itu senang, posisinya sama dengan orang miskin yang kita beri makan dan uang. Mereka akan merasa senang sehingga sedekah harta itu berbalas terima kasih.


Saking berbahaya muka masam, Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang bermuka muram ketika berada di hadapan kawan-kawannya” (HR. Dailami).