Iklan

Iklan

,

Iklan

UMBandung

Muhammadiyah Pelopor Pesantren Berbasis Ilmu Agama dan Ilmu Umum

Redaksi
Sabtu, 21 Januari 2023, 18:55 WIB Last Updated 2023-01-21T11:55:23Z


SLEMAN
— Di samping dikenal sebagai gerakan modern, Muhammadiyah juga dikenal sebagai gerakan tajdid. 


Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, tajdid memiliki dua pengertian, yaitu: purifikasi dalam persoalan ibadah dan akidah; dan dinamisasi dalam persoalan kehidupan duniawi. 


Dengan dua pengertian ini, selain mengenalkan paham Islam yang tengahan dan proporsional, Muhammadiyah juga berhasil menanamkan etos berpikir maju.


Etos berpikir maju Muhammadiyah ini diaktualisasikan secara nyata dalam lembaga pendidikan, termasuk pesantren. Menurut Haedar, pesantren merupakan bagian dari tradisi besar yang dijalankan Muhammadiyah. 


Karenanya, pesantren bukan hanya milik kalangan yang menyebut diri mereka tradisionalis, tapi juga kelompok modernis. Muhammadiyah mengolah pesantren yang dalam racikannya tidak hanya mengajarkan ilmu agama namun juga ilmu umum secara nyata.


“Sebelum gerakan Muhammadiyah eksis di negeri ini, Pesantren umumnya dimaknai sebagai tempat yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama, dan cenderung resisten dengan Pendidikan modern,” tutur Haedar dalam Peresmian Gedung Kelas Putra Terpadu Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School (PPM MBS) Yogyakarta pada Sabtu (21/01/2023).


Integrasi ilmu agama dan ilmu umum dalam tubuh pesantren Muhammadiyah merupakan buah dari keberanian Ahmad Dahlan. Sebelum adanya reformasi pemikiran Islam yang dilakukan Ahmad Dahlan, pesantren hanya berkutat dengan kitab kuning. 


Melalui tangan Ahmad Dahlan, citra pesantren yang hanya mengajarkan ilmu agama perlahan-lahan mulai memudar. Perjuangan Ahmad Dahlan ini tidak mudah hingga dicap sebagai kiai kafir.

 

“Banyak Pesantren yang alergi, bahkan dianggap tasyabbuh ketika Kiai Dahlan menggunakan metode modern Barat dalam mengembangkan institusi pendidikan. Lebih dari itu, Dahlan dicap sebagai kiai kafir,” ucap Haedar.


Haedar kemudian menegaskan bahwa pengembangan pesantren harus memiliki pondasi yang sejalan dengan pemikiran Muhammadiyah. Pendidikan yang dijalankan Muhammadiyah memiliki satu ciri khas, yaitu pendidikan yang holistik. 


Artinya, pendidikan mesti melakukan integrasi agama dengan segala aspek kehidupan. Lulusan lembaga pendidikan Muhammadiyah secara ideal juga harus menguasai keilmuan baik di bidang agama maupun umum.


“Biarpun kita mendirikan Pesantren, jangan kembali ke fiil madi (masa lalu), namun harus ke era fiil mudhari (saat ini dan masa depan). Pesantren harus disesuaikan dengan kebutuhan dengan ruang dan waktu,” tutur Haedar. ***

Iklan