Haedar Nashir: Presiden Soekarno ialah Keluarga Muhammadiyah

Notification

×

Iklan

Iklan

Haedar Nashir: Presiden Soekarno ialah Keluarga Muhammadiyah

Kamis, 23 Februari 2023 | 15:34 WIB Last Updated 2023-02-23T08:34:18Z


BALIKPAPAN
– Selain dihadiri Presiden Jokowi, Kapolri, Panglima TNI dan para menteri dari Kabinet Indonesia Maju, pembukaan Muktamar Pemuda Muhammadiyah ke-18 di Balikpapan, Rabu (22/2/2023) juga dihadiri mantan Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri.


Kehadiran Megawati dianggap oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir sebagai silaturahim sekaligus merawat memori sejarah dengan keluarga besar Presiden Soekarno yang merupakan keluarga Muhammadiyah.


“Khusus kepada ibunda kita ibunda Megawati Sukarnoputri, spesial, terima kasih hadir pada acara ini. Bagi ananda sekalian, Angkatan Muda Muhammadiyah, Ibu Megawati bukan siapa-siapa, bukan orang lain, (tapi) dari keluarga besar Muhammadiyah,” sambutnya.


Haedar Nashir lantas mengajak Angkatan Muda Muhammadiyah untuk merawat ingatan sejarah terkait peran kebangsaan dan jasa besar tokoh-tokoh Muhammadiyah, termasuk Soekarno.


Selain nama-nama seperti Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan puluhan lain tokoh Muhammadiyah bergelar pahlawan nasional, Soekarno kata Haedar adalah kader otentik Muhammadiyah. Soekarno, bahkan mendapat sentuhan langsung dari Kiai Haji Ahmad Dahlan. Bersama Fatmawati, keluarga Soekarno menjadi keluarga besar Muhammadiyah.


“Beliau (Soekarno) menyampaikan kesaksian setelah lama menjadi anggota Muhammadiyah saya ngintil, ngintil itu dzawil qurba, menjadi murid spiritual dan murid intelektual dari Kiai Ahmad Dahlan sejak beliau bertemu saat umur 18 tahun di Surabaya, di rumahnya Tjokroaminoto. Kiai Dahlan-lah yang mengajarkan agama sampai beliau mengatakan saya masuk Muhammadiyah karena sesuai alam pikiran punya saya, yakni Islam progresif, Islam Berkemajuan,” jelasnya.


Selama pengasingan di Bengkulu antara 1938-1942, Soekarno kata Haedar resmi menjadi pimpinan Majelis Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah.


“Beliau (Soekarno) juga tahun 1962 ketika menutup Muktamar Setengah Abad menyampaikan ‘makin lama, saya makin cinta Muhammadiyah’. Bahkan dia menyampaikan, yang saya sesalkan kenapa setelah saya jadi Presiden saya tidak pernah ditarik iuran anggota Muhammadiyah,” kutip Haedar.


Adapun istri Soekarno, Fatmawati, adalah putri dari Hasan Din, seorang tokoh dan konsul Muhammadiyah Bengkulu. Fatmawati sendiri adalah aktivis Nasyiatul ‘Aisyiyah.


“4 Januari 1946 ketika Indonesia pindah ke Yogyakarta, Bung Karno mengundang tokoh-tokoh Pimpinan Pusat Nasyiatul ‘Aisyiyah antara lain Bu Bayyinah, Bu Badilah Zuber dan lain-lain ke Istana Gedung Agung Jogja lalu menyampaikan, bawalah Ibu Fatmawati ini untuk aktif kembali ke Nasyiatul ‘Aisyiyah,” jelas Haedar.


“Lalu di situ diceritakan bahwa Bu Fatmawati mengatakan ketika saya menjahit bendera merah putih untuk proklamasi kemerdekaan (tahun 1945), saya menyenandungkan lagu Nasyiahku,” imbuhnya.


Semua memori ini menurut Haedar harus terus dirawat sekaligus dimaknai secara objektif untuk mengobarkan semangat dalam memupuk jiwa kenegarawanan.


“Itu jejak sejarah yang terus berlangsung sampai hari ini sebagai sebuah spirit bagi anak-anakku sekalian bahwa dua tokoh ini, juga Kiai Dahlan dan Nyai Dahlan adalah para negarawan yang memiliki basis pemikiran selain nasionalisme juga religiusitas Keislaman Muhammadiyah,” tegasnya. ***(afn)