Inilah Kriterianya Menjadi Wali Allah

Notification

×

Iklan

Iklan

Inilah Kriterianya Menjadi Wali Allah

Kamis, 23 Februari 2023 | 15:23 WIB Last Updated 2023-02-23T08:23:35Z


YOGYAKARTA
— Dalam Hadis Arbain urutan ke-38 disebutkan: Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang menyakiti waliku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai selain apa yang Aku wajibkan baginya. Hamba-Ku senantiasa mendekat diri kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku, pasti aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti aku lindungi.’” (HR. Bukhari).


Menurut Kepala Pusat Tarjih Muhammadiyah Universitas Ahmad Dahlan Budi Jaya Putra mengatakan bahwa hadis di atas termasuk dalam kategori qudsi. Hadis qudsi ialah perkataan Rasulullah Saw yang disandarkan kepada Allah Swt. Hadis qudsi di atas telah dengan jelas menerangkan tentang siapa wali itu dan bagaimana cara menjadi wali.


Menurut Budi, Wali secara bahasa bermakna al-qarib atau dekat. Sehingga para Wali ialah mereka yang senantiasa dekat dengan Allah Swt. Mengutip Ibnu Taimiyah, Wali Allah adalah mereka yang beriman dan bertakwa. Ulama lain mengatakan bahwa Wali ialah orang-orang yang beriman dan bertakwa selain Nabi. Sebagai seorang Wali, seluruh tubuhnya melambangkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.


“Wali adalah setiap orang yang banyak melakukan perbuatan, di mana perbuatan itu sampai mendatangkan kecintaan Allah kepada dirinya. Wali itu dari sorot matanya, pendengarannya, kakinya, itu melambangkan bagaimana kecintaan seorang hamba kepada Allah,” terang anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah ini dalam kajian yang diselenggarakan Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Selasa (21/02).


Budi menjelaskan bahwa cara menjadi Wali Allah telah termaktub dalam QS. Yunus ayat 62-63 yang berbunyi: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” 


Ayat tersebut memberikan peringatan bahwa karakter para Wali tidak memiliki rasa khawatir dan tidak pula bersedih hati karena mereka senantiasa beriman dan bertakwa. Dengan demikian, cara menjadi Wali Allah adalah melakukan amalan-amalan pokok dan konsisten melaksanakan amalan-amalan sunnah.


“Di sini kita mendapatkan hikmah bahwa untuk menjadi Wali Allah kita harus dekat dengan Allah, tidak cukup hanya mengaku beragama Islam, tapi juga rajin melakukan amalan-amalan sunnah. Jangan mudah mengaku Wali, jika kita masih jauh dari Ilahi,” tegas Budi.***