Egoisme Wujudul Hilal! Begini Tanggapan Pakar Falak Muhammadiyah

Notification

×

Iklan

Iklan

Egoisme Wujudul Hilal! Begini Tanggapan Pakar Falak Muhammadiyah

Kamis, 16 Maret 2023 | 11:52 WIB Last Updated 2023-03-16T04:52:50Z


MEDAN
— Penentuan awal bulan hijriah di Indonesia sangat dinamis dan dialektis terutama menjelang Ramadan dan Syawal. Muhammadiyah kerap disorot bahkan tak jarang mendapat stigma negatif karena berbeda dengan pemerintah dan ormas Islam yang lain. Yang terbaru datang dari seorang pakar astronomi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).


Pakar dari BRIN tersebut menyatakan bahwa konsep Wujudul Hilal yang hingga saat ini dipedomani Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan begitu sederhana dan telah uzur. Lebih-lebih ia menyatakan bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi yang mengedepankan ego dan mengabaikan ukhuwah islamiyah. Stigma negatif tersebut dipublis di media sosial dengan judul “Ukhuwah Islamiyah kok Dikalahkan Ego Organisasi”.


Pakar Falak Muhammadiyah Arwin Juli Butar-butar menyayangkan adanya pernyataan dari ilmuwan BRIN tersebut. Menurutnya, segenap kritik ilmiah yang itujukan kepada anggitan Wujudul Hilal maupun secara langsung ditujukan kepada Muhammadiyah sebagai organisasi merupakan hal alamiah. Dinamika dan dialektika yang terjadi dalam diskusi dan rapat-rapat internal Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menunjukkan tingginya dinamika dialog, debat, dan kritik, yang tentu tidak banyak diketahui pihak eksternal.


“Sesuai tabiatnya, Muhammadiyah adalah organisasi yang memiliki karakter progresif dan berkemajuan, yang dalam konteks penentuan awal bulan Muhammadiyah memiliki analisis historis mendalam dan pada saat yang sama memiliki sorotan maslahat jauh kedepan yang ditunjukkan dengan gagasannya tentang Kalender Islam Global,” terang Arwin dalam sebuah tulisan di web OIF UMSU pada Rabu (15/03/2023).


Arwin tidak sepakat bila Muhammadiyah dikatakan telah mengabaikan ukhuwah Islamiyah. Sebab Muhammadiyah telah membuka cakrawala umat tentang arti pentingnya Kalender Islam Global bagi persatuan umat. Berkat usaha dan kerja keras, secara perlahan kini mulai marak pengkajian Kalender Islam Global oleh sejumlah peneliti, terutama di Perguruan Tinggi. Bahkan saat ini mulai muncul keinginan di tengah masyarakat akan wujudnya Kalender Islam Global sebagai basis persatuan.


“Muhammadiyah juga sesungguhnya peka terhadap fenomena perbedaan penentuan awal bulan di tengah masyarakat dan sangat disadari ini merupakan keprihatinan dan sesuatu yang tidak ideal, namun dengan pertimbangan historis dan maslahat yang lebih kekal tadi Muhammadiyah masih menggunakan Wujudul Hilal dan bersiap beralih kepada Kalender Islam Global,” jelas Arwin.


Metode hisab hakiki wujudul hilal merupakan hasil ijtihad dengan intensitas kajian yang sama sekali tidak dangkal. Menurut Arwin, bagaimanapun sebuah ijtihad dalam fikih Islam, terlepas dari keunggulan dan kekurangannya tentu harus dihormati. Manakala tidak sesuai atau tidak memenuhi keinginan suatu pihak tentu tidak boleh dinilai secara tendensius, apa lagi distigma negatif. Di sini tampak perlunya pemahaman rasional-irfani, bukan semata pemahaman rasional-epistemologi.


“Andai sentuhan dan pemahaman rasional-irfani ini dipahami secara baik niscaya tidak akan muncul diksi dan narasi sinis-provokatif, sebab dalam syariat cara menempati arti penting, bahkan sebuah adagium menyatakan ‘al-adab fauqa al-‘ilm’ (adab itu di atas ilmu), artinya secanggih apapun ilmu (epistemologi) tidak boleh mengabaikan aspek nilai (irfani),” kata Arwin.


Arwin kemudian menyampaikan contoh betapa harmonisnya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) meskipun berbeda pandangan ihwal metode penentuan awal bulan. Dua ormas ini saling menghormati ijtihad masing-masing, betapapun dalam diskursus hisab-rukyat terdapat perdebatan hebat. NU tidak mengkritisi Muhammadiyah secara tendensius, sebaliknya Muhammadiyah juga tidak mengkritisi rukyat NU secara sinis. Dua ormas ini sadar bahwa ijtihad harus dihormati, perbedaan adalah niscaya.


Lebih dari itu, perbedaan penentuan awal bulan di Indonesia sesungguhnya telah terjadi sejak zaman pra-kemerdekaan. Pada awalnya memang terjadi kebingungan di antara umat, namun kini masyarakat sudah terbiasa dan merasa tidak ada masalah. 


Riuh perbedaan itu hanya terjadi beberapa hari saja, setelahnya umat melaksanakan rutinitasnya seperti biasa.***