Karakter Khas Islam Berkemajuan, Rekonstruksi Ulang Kejayaan Islam

Notification

×

Iklan

Iklan

Karakter Khas Islam Berkemajuan, Rekonstruksi Ulang Kejayaan Islam

Sabtu, 25 Maret 2023 | 11:32 WIB Last Updated 2023-03-25T04:32:09Z


YOGYAKARTA
– Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta melahirkan dokumen Risalah Islam Berkemajuan. Dokumen ini merupakan kesinambungan sekaligus penegasan gerakan pencerahan Muhammadiyah di usia abad kedua.


Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, Islam Berkemajuan sendiri bukanlah suatu mazhab tertentu, melainkan sebuah pandangan alam (worldview) sekaligus pandangan keagamaan.


“Tetapi pandangan keagamaan yang tentu diformulasikan substansinya dari pikiran-pikiran yang hidup di dalam Muhammadiyah, baik dalam pemikiran-pemikiran isu, Manhaj Tarjih yang memiliki rujukan sebagai ruju’ ilal quran wal-sunnah, dan secara historis memiliki rujukan dan keterpautan pada pemikiran dan praktek pemikiran Keislaman era Kiai Dahlan,” jelasnya.


Pada pidato pembukaan Pengajian Ramadan 1444 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (24/3/2023), Haedar menyebut jika Risalah Islam Berkemajuan masih memerlukan elaborasi lebih lanjut.


“Pertama pada konsep merujuk Quran dan Sunnah masih memerlukan pengayaan. Nanti Majelis Tarjih, Majelis Tablig berkolaborasi memperkaya bagaimana kita kodifikasi ayat-ayat dan hadis Nabi untuk jadi rujukan yang komprehensif tentang Islam yang punya dimensi pemikiran yang maju, membangun peradaban maju dan segala nilai-nilai yang terkandung di dalamnya kita rumuskan dalam rumusan Muktamar 2010 bahwa Islam adalah dinul hadarah (agama peradaban),” kata Haedar.


Upaya mengelaborasi lebih lanjut dianggap penting mengingat fakta sejarah terkait peradaban Islam yang berusia tujuh abad lebih, ditambah dengan berbagai kesimpulan penelitian ilmuwan asing bahwa peradaban gemilang itu bermula dari sentuhan Nabi Muhammad Saw dalam mengajarkan agama Islam.


“Perjalanan hampir tujuh abad ini adalah jejak sejarah yang penting, yang kita perlu bikin sketsa besar bukan sekadar mengenang. Tapi mengkonstruksi dari era kejayaan dan keemasan Islam itu,” tegasnya.


Upaya mengelaborasi ini, kata Haedar juga untuk meneguhkan posisi Muhammadiyah dalam membawa Islam sebagai gerakan maju yang lebih mengakar di tanah air, disertai dengan semangat universalisme dan kosmopolitanisme yang bersumber pada peradaban di Madinah Al-Munawarah.


“Dan di sanalah kita punya keleluasaan karena kita mengerangkeng Islam dalam satu region kebudayaan, termasuk Nusantara, tapi di satu pihak Islam yang kita bangun dan kita kembangkan adalah Islam yang tetep hadir di tempat bumi berpijak tapi tidak kehilangan watak universalitasnya. Itu poin penting sebagai bahan rekonstruksi bahwa posisi Islam Berkemajuan berada dalam sketsa yang besar tapi punya distingsi yang besar untuk kita hadirkan di negeri ini,” pungkasnya. 


Karakter Khas Wawasan Islam Berkemajuan


Menurut Guru Besar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), Prof. Ahmad Jainuri, bahwa setidaknya terdapat empat karakter khas yang melekat pada wawasan Islam Berkemajuan, dan moderasi itu satu diantaranya.


Empat karakter Islam Berkemajuan tersebut diungkapkan oleh Prof. Ahmad Jainuri pada Pengajian Ramadan 1444 H Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah pada, Jumat malam (24/3/2023) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Dia berharap, tiga karakter lain Islam Berkemajuan dapat diakomodir dalam Risalah Islam Berkemajuan hasil dari Muktamar ke-48 di Surakarta.


Mengutip pendapat ahli, Deliar Noer dan beberapa peneliti Muhammadiyah yang lain, karakter Islam Berkemajuan dapat ditemukan lebih dari moderasi. Sebab selain memodernisasi masyarakat Islam, Muhammadiyah juga berhasil membangun masyarakat Islam kosmopolitan. Pembentukan masyarakat kosmopolit, imbuhnya, diakibatkan dari mobile nya Islam Berkemajuan.


“Lebih dari moderasi, karena juga ada mobilitas tinggi. Yang kemudian menjadi bagian dari terbentuknya masyarakat kosmopolitan,” ungkapnya.


Maka, mobilitas atau mobile menjadi karakter Islam Berkemajuan jika merujuk kepada hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Deliar Noer dan peneliti Barat atau Indonesianis yang meneliti tentang Muhammadiyah. Karakter ketiga menurut Ahmad Jainuri adalah literasi, karakter ini merujuk kepada sejarah dan semangat KH. Ahmad Dahlan yang mendidik masyarakat muslim untuk mengenal huruf Arab maupun Latin agar bisa dibaca.


“Tidak hanya mengenal huruf latin, tetapi juga mengenal ilmu umum. Jadi tidak hanya mengenal ilmu agama maksudnya,” imbuh Prof. Jainuri.


Paralel dengan literasi, maka karakter Islam Berkemajuan yang keempat atau paling mutakhir adalah harus mengenal Teknologi Informasi (TI). Karakter terakhir ini menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga kesinambungan gerakan Islam Berkemajuan di tengah arus kemajuan TI. Oleh karena itu, penting mendorong keterlibatan kaum muda yang memiliki kompetensi untuk ini.***