Koran ADIL, Kontribusi Kebangsaan Muhammadiyah yang Tak Banyak Orang Tahu

Notification

×

Iklan

Iklan

Koran ADIL, Kontribusi Kebangsaan Muhammadiyah yang Tak Banyak Orang Tahu

Senin, 13 Maret 2023 | 12:01 WIB Last Updated 2023-03-13T05:17:17Z


JAKARTA
– Kontribusi kebangsaan Muhammadiyah dalam kebangkitan pers nasional ternyata tidak saja melalui majalah Suara Muhammadiyah (SM).


Selain SM yang menjadi salah satu majalah tertua di Indonesia (berdiri 1916 dan tetap eksis sampai sekarang), tidak banyak yang tahu bahwa Muhammadiyah pernah mencetak koran harian. Koran itu bernama ‘Adil’.


Kelak setelah formatnya berubah menjadi majalah, Adil mengalami kejayaan hingga tersebar ke seluruh Indonesia dan luar negeri seperti Singapura.


Di dalam buku Pers Indonesia, Issues ke-25-43 (1981), Soebagijo I.N menulis sebuah artikel panjang bertajuk “Setengah Abad Majalah Adil di Solo”. Dalam tulisan itu, Soebagijo mengenang pasang-surut penerbitan tersebut.


Sejarah Mula Koran Adil


Gagasan pendirian Koran Adil, bermula dari seorang pegawai menengah kantor pos di Solo yang juga tokoh Konsul Muhammadiyah Surakarta, Muljadi Djojomartono pada Kongres (Muktamar) Muhammadiyah ke-21 di Makassar, Mei tahun 1932.


Pada Kongres itu, Muljadi dengan gigih mempertahankan nasihatnya agar Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern sudah selayaknya memiliki surat kabar sendiri yang menyebarluaskan gagasan-gagasan Kemuhammadiyahan.


Karena tak ingin kalah setelah dibandingkan dengan Boedi Oetomo, Paguyuban Pasundan dan organisasi lain yang memiliki koran sendiri, Kongres Muktamar akhirnya menerima nasihat itu dengan catatan Muhammadiyah Surakarta yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraannya.


Sepulang dari Makassar, Muljadi mengumpulkan para tokoh dan saudagar Muhammadiyah untuk menghimpun modal, menetapkan badan direksi dan tenaga redaksi. Kantor operasi beralamat di Kartodipuran, Nomor 102, Solo, Jawa Tengah.


Nama ‘Adil’ pun dipilih sebagai identitas penerbitan. Para tokoh Muhammadiyah Solo ingin koran ini bersifat inklusif dan adil sedari lahir serta berpandangan seobyektif mungkin tanpa peduli latar belakang manusia dan golongan.


Perjuangan Merintis Koran Adil


Koran Adil di masa awal dipimpin oleh mantan wartawan Pewarta Deli, Syamsudin Sutam Makmur (pemimpin redaksi), dengan anggota redaksinya yaitu Sujitno yang bertugas serabutan dari mencari berita, mengolah, mencetak, hingga mengirimkannya kepada pembaca lewat kantor pos.


Koran Adil dipublikasikan ke masyarakat mulai 1 Oktober 1932 dengan jumlah oplah kurang dari seribu lembar. Untuk produksi koran sebanyak empat halaman, Adil melakukan lewat tulisan tangan dengan metode handset-proefdruk. Sebab, mesin tik pada masa itu termasuk barang langka dan mewah.


Meski produksi rutin berjalan, tahun 1932-1934 adalah tahun yang berat bagi Koran Adil karena uang penjualan tidak menutupi ongkos operasional. Sebab, kala itu surat kabar harian tidak dijual eceran, tetapi langganan melalui kiriman pos atau loper ke alamat masing-masing pelanggan.


Sang pemimpin redaksi, Syamsudin Sutam Makmur yang kala itu sering mengajukan permintaan tunjangan dan lain-lain akhirnya meninggalkan jabatannya setelah ditegur para pengurus dengan wasiat popular Kiai Ahmad Dahlan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan cari penghidupan di Muhammadiyah.”


Sebagai gantinya, Firdaus Harun al-Rasjid yang baru pulang dari pembuangan di Boven Digul masuk ke susunan redaksi bersama anggota Pemuda Muhammadiyah yang energik, Surono.


Sayangnya, tak lama setelah itu Adil terkena Delik Pers (delict pers) sehingga Surono dan Harun sempat ditahan pemerintah Hindia-Belanda. Adapun Firdaus lebih sial lagi karena kembali dibuang ke Boven Digul untuk kali kedua.


Koran Adil Jadi Majalah Adil


Setelah melalui masa krisis, Koran Adil resmi gulung tikar. Merasa bertanggung jawab, penggagas Adil, Muljadi Djojomartono wira-wiri mencari dana agar penerbitan hasil keputusan Muktamar ini tetap hidup. Setelah mendapatkan dana segar sebanyak 125 Rupiah, Surono dipilih untuk memimpin.


Agar tetap hidup dan lebih efektif, Adil diubah formatnya menjadi majalah mingguan berukuran 27,5 x 19,5 cm yang terbit berkala dua kali setiap bulan pada tanggal 1 dan tanggal 15. Sasarannya adalah khalayak umum, terutama kelas menengah dan kalangan atas.


Moto “Pengemban Amanat Allah-Umat” pun dipakai. Tokoh bangsa dan Persyarikatan seperti Buya Hamka, Ir. Soekarno, bahkan bung Hatta dan M. Natsir ikut membantu sebagai penasihat.


Rubriknya pun jadi beragam dari catatan editorial, pandangan dalam dan luar negeri, olahraga, sejarah, kesehatan, agama, ekonomi, cerita bergambar hingga politik, terutama kabar terbaru tentang perkembangan perang dunia yang saat itu sedang terjadi.


Majalah Adil bersaing dengan Pandji Islam dan Pedoman Masyarakat


Meskipun kentara nafas Kemuhammadiyahannya, di bawah Surono, majalah Adil mampu menjadi pesaing berat bagi Pandji Islam di Medan dan Pedoman Masyarakat dan diterima masyarakat luas. Pasar Majalah Adil dan surat pembaca bahkan datang dari Sabang sampai Merauke hingga Singapura.


Rubrik sastra seperti puisi, cerita pendek, dan cerita bersambung, hingga kritik sastra mendapatkan mendapat tempat yang luar biasa dari masyarakat. Sejak tahun 1970-an, nama-nama sastrawan mulai bermunculan dalam majalah ini.


Masa Redup dan Kemunduran


Setelah mencapai masa gemilang di masa-masa pra kemerdekaan, sejatinya bibit kemunduran Majalah Adil terjadi justru setelah proklamasi Kemerdekaan Indonesia.


Pasca kemerdekaan, rubrik Majalah Adil kadang terlalu sederhana. Bahkan ukuran terbitannya labil karena berubah-ubah. Surono sendiri yang telah menjadi ikon bagi Majalah Adil tak bisa berbuat banyak karena terserang penyakit stroke.


Meski sempat mengalami reorganisasi di bawah Raden Haji Djarnawi Hadikusumo pada 1983, Majalah Adil tak bisa berbuat banyak karena harus berhenti beroperasi pada 1985.


Soebagijo I.N dalam hal ini secara tersirat menyebut jatuhnya Majalah Adil bukan semata-mata karena masalah manajerial internal, tetapi karena masalah struktural terhadap dunia pers di tanah air.


“Di Republik kita tercinta ini menurut pengamatan saya ada empat profesi yang gelar serta sebutannya cukup menyeramkan serta menggiurkan, namun mengenai materi sungguh-sungguh tidak dapat diandalkan. keempat profesi yang saya maksudkan ialah: guru, dosen, wartawan, pengarang.


Bagi guru dan dosen sudah ada gelarnya tersendiri. Pahlawan tanpa tanda jasa. Malahan juga sudah dibikinkan hymne segala untuk kaum guru-dosen. Sungguh Hebat! Sungguh Hebat! Juga untuk kaum wartawan. Sebutan dan gelarnya sunguh ngeda-edabi. Ratu dunia. Pembentuk publiek-opinie. Tetapi bila bicara tentang imbalan, tentang materi, baik guru maupun wartawan kalah dengan penghasilan penyanyi dangdut atau pelawak yang dalam waktu singkat sudah berhasil membeli mobil, tanah dan rumah. Surono menyadari akan hal itu semua, tetapi dengan segala ketawakalannya pada Tuhan, dia membesarkan majalah Adil,” tulis Subagijo. (afn)


Sumber: muhammadiyah.or.id

Penulis: Afandi

Editor: Fauzan AS