Iklan

Iklan

,

Iklan

UMBandung

4 Modal Utama Menghidupkan Gerakan Internasionalisasi Muhammadiyah

Redaksi
Selasa, 16 Mei 2023, 13:10 WIB Last Updated 2023-05-16T06:10:05Z


YOGYAKARTA
— Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Muhammadiyah bukan lagi organisasi nasional, melainkan global. 


Dalam diskusi Ideopolitor di Universitas Aisyiyah pada Sabtu (13/4/2023), ia menyampaikan empat modal utama internasionalisasi Muhammadiyah, di antaranya:


Pertama, modal jaringan. 


Hingga saat ini, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PCIM/A) telah tersebar di lima benua. PCIM dan PCIA juga membangun jaringan luas agar berperan di ranah global secara proaktif. Bahkan beberapa PCIM telah memeroleh pengakuan badan hukum seperti di Amerika, Malaysia, Jerman Barat, dan Amerika Serikat.


Kedua, modal sumber daya manusia. 


Banyak tokoh Muhammadiyah yang telah lama berkecimpung dalam pergaulan internasional. Beberapa nama seperti Din Syamsuddin yang menjadi Presiden di Asian Committee on Religions for Peace (ACRP); Rizal Sukma yang menjadi peneliti senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan menjadi salah satu dari 100 Pemikir Global (100 Global Thinkers) versi Foreign Policy Magazine; Hilman Latief yang saat ini menjadi Dirjen Umrah dan Haji pun aktif mengikuti forum-forum internasional; dan masih banyak lagi.


Ketiga, modal politik. 


Muhammadiyah telah terdaftar resmi sebagai anggota permanen The United Nations Economic and Social Council (ECOSOC) sejak tahun 2011. ECOSOC merupakan sebuah organisasi internasional yang anggotanya mencakup hampir seluruh negara di dunia, termasuk Muhammadiyah. Lembaga PBB ini dibentuk untuk memfasilitasi persoalan hukum internasional, pengamanan internasional, lembaga ekonomi, dan perlindungan sosial bangsa-bangsa di seluruh dunia.


Keempat, modal reputasi di mata Lembaga internasional. 


Tahun 2013, lembaga kebencanaan Muhammadiyah MDMC melakukan respons ke Filipina untuk bencana topan Haian. Tahun 2015, Muhammadiyah membantu untuk respons di Nepal. 


Tahun 2022, melepas beberapa dokter untuk membantu korban banjir di Pakistan. Yang terbaru tahun 2023, Muhammadiyah ikut membantu pemulihan bencana di Turki. Masih banyak lagi pergaulan-pergaulan kemanusiaan global yang telah dijalankan Muhammadiyah.


Setelah menjelaskan empat modal di atas, Mu’ti kemudian menerangkan tentang arah kebijakan internasionalisasi Muhammadiyah. Menurutnya, promosi Muhammadiyah di tingkat dunia harus terus dilakukan. Bisa dengan publikasi karya ilmiah, kegiatan internasional, atau merespon aktif terkait isu-isu global seperti perubahan iklim, islamophobia, dan lain-lain. 


“Misi kita ialah menghadirkan islam rahmatan lil alamin, dan mencerahkan semesta menuju masyarakat utama,” tegasnya. *** 

Iklan