Kuntowijoyo: Sastrawan, Sejarawan, Cendekiawan dan Aktivis Muhammadiyah

Notification

×

Iklan

Iklan

Kuntowijoyo: Sastrawan, Sejarawan, Cendekiawan dan Aktivis Muhammadiyah

Sabtu, 15 Juli 2023 | 12:21 WIB Last Updated 2023-07-15T05:30:10Z


JAKARTA
- Kuntowijoyo merupakan sosok cendekiawan Muslim Indonesia yang menjadi Guru Besar Sejarah di Universitas Gadjah Mada (UGM).  Ia banyak menulis tentang sejarah, sastra, budaya, dan agama, dalam karya-karyanya yang diperkirakan lebih dari 50 buku.  


Kuntowijoyo meninggalkan gagasan besar bagi pengembangan ilmu sosial di Indonesia, melalui idenya tentang Ilmu Sosial Profetik (ISP). Gagasan tersebut memberi pengaruh besar terhadap corak perkembangan keislaman di Indonesia. Kuntowijoyo juga seorang aktivis Muhammadiyah, yang disebut sebagai salah satu sosok pemikir Islam yang sangat berjasa bagi perkembangan Muhammadiyah. 


Berkarya sejak muda Kuntowijoyo lahir di Bantul, Yogyakarta, dari pasangan Abdul Wahid Sosroatmojo dan Warasti, pada 18 September 1943. Meski lahir di Yogyakarta, hidup Kuntowijoyo lebih banyak dihabiskan di Klaten dan Solo, Jawa Tengah. 


Ia diasuh dalam dua lingkungan yang sangat memengaruhi pertumbuhannya, yaitu seni dan religi, khususnya Muhammadiyah. Pasalnya, sang ayahnya merupakan seorang dalang dan aktivis Muhammadiyah. 


Sejak bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah di Klaten, Kuntowijoyo telah mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan di surau dan berlatih deklamasi, atau menyajikan sajak dengan lagu dan gaya. 


Setelah menyelesaikan SMP di Klaten pada 1959, Kuntowijoyo melanjutkan ke SMA di Surakarta hingga lulus pada 1962. Bakatnya dalam berdeklamasi, bermain drama, dan menulis puisi semakin berkembang sejak bergabung dalam organisasi Pelajar Islam Indonesia. 


Kuntowijoyo dibimbing oleh tokoh sastra M. Saribi Arifin dan Yusmanan. Selain itu, ia gemar menyimak siaran sastra di Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta.  Semasa SMA, ia membaca karya-karya penulis Indonesia seperti Hamka, HB Jassin, dan Pramoedya Ananta Toer, serta aktif menulis cerita pendek, drama, esai, dan novel. 


Lulus dari SMA di Surakarta, Kuntowijoyo kuliah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM), yang selesai pada 1969. Semasa kuliah, tepatnya pada 1964, ia menerbitkan novel pertamanya yang berjudul Kereta Api yang Berangkat di Pagi Hari. 


Kuntowijoyo juga menerbitkan cerita pendek pertamanya di majalah sastra Horison pada 1967. Selain itu, ia semakin akrab dengan dunia seni dan teater, bahkan mendirikan serta menjabat sebagai sekretaris Lembaga Kebudayaan dan Seniman Islam (Leksi) dan ketua Studi Grup Mantika hingga 1971. 


Setelah itu, ia mengenyam pendidikan di luar negeri hingga meraih gelar doktor. Kiprah dalam berbagai bidang Semasa kuliah di Amerika Serikat, Kuntowijoyo menulis puisi dan menerbitkan dua antologi, yaitu Suluk Awang-Uwung (1975) dan Isyarat (1976). 


Dua karyanya ini menceritakan pengalamannya selama di Amerika Serikat. Sekembalinya ke Indonesia pada 1980, Kuntowijoyo ikut membangun dan membina Pondok Pesantren Budi Mulia dan mendirikan Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) di Yogyakarta. 


Ia juga aktif dalam bidang sejarah, sastra, dan organisasi Muhammadiyah, bahkan disebut sebagai salah satu sosok pemikir Islam yang sangat berjasa bagi perkembangan Muhammadiyah. 


Sejak 1991, kesehatan Kuntowijoyo mulai menurun hingga kehilangan kontrol motorik dan kesulitan berbicara. Kendati demikian, pada 1995 Kuntowijoyo masih menerbitkan kumpulan puisi ketiga berjudul Makrifat Daun-Daun Makrifat, yang membahas tentang pengalaman keagamaannya. 


Selain itu, Kuntowijoyo juga melahirkan beberapa karya dalam bidang sejarah. Beberapa di antaranya yaitu: Dinamika Umat Islam Indonesia (1985) Budaya dan Masyarakat (1987) Radikalisasi Petani (1993) Pengantar Ilmu Sejarah (1995) Kuntowijoyo meninggal pada 22 Februari 2005 dalam usia 61 tahun karena komplikasi penyakit sesak napas, diare, dan ginjal. 


Kuntowijoyo Sejak 1960-an, beberapa karya Kuntowijoyo yang mendapatkan penghargaan dari majalah sastra dan Dewan Kesenian Jakarta. Kemudian, selama tiga tahun berturut-turut, yakni 1995 hingga 1997, cerpen-cerpennya terpilih sebagai cerpen terbaik yang diterbitkan oleh surat kabar Kompas. 


Selain itu, berikut ini beberapa penghargaan yang pernah diterima Kuntowijoyo. Penghargaan Sastra Indonesia dari Pemda DIY (1986) Penghargaan Kebudayaan ICMI (1995) Satyalancana Kebudayaan RI (1997) ASEAN Award on Culture and Information (1997) Mizan Award (1998) Kalyanakretya Utama untuk Teknologi Sastra dari Menristek (1999) FEA Right Award Thailand (1999) Hadiah Sastra dari Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) atas novel Mantra Pejinak Ular (2001). 


Judul Asli: Kuntowijoyo, Sejarawan dan Tokoh Muhammadiyah

Penulis: Febi Nurul Safitri

Editor: Widya Lestari Ningsih

Sumber: kompas.com