Haedar Nashir: Perlu Kesinambungan Kebijakan Pendidikan untuk Mencerdaskan Bangsa

Notification

×

Iklan

Iklan

Haedar Nashir: Perlu Kesinambungan Kebijakan Pendidikan untuk Mencerdaskan Bangsa

Senin, 09 Oktober 2023 | 21:16 WIB Last Updated 2023-10-09T14:16:52Z


YOGYAKARTA
– Menjelang Pemilu 2024, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyinggung para elit terpilih nanti supaya tidak bongkar-pasang kebijakan seenaknya, yang menyebabkan tidak berkesinambungan.


Khususnya kebijakan bidang pendidikan, Haedar meminta kepada elit terpilih nanti supaya tidak membongkar-pasang kebijakan yang menyebabkan pekerjaan perbaikan pendidikan di Indonesia tidak tuntas.


Dalam pandangannya, kebijakan pendidikan memiliki fungsi strategis karena menyangkut dengan pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Dia menambahkan, pendidikan tidak sekedar mencetak pekerja, tetapi juga membangun manusia Indonesia yang cerdas dan cakap dalam setiap aspek kehidupan.


Haedar menyebut bahwa instansi pendidikan di Indonesia masih perlu untuk bekerja keras. Dia beralasan karena ujian dan tantangan Indonesia masih banyak, lebih-lebih jika melihat indek pembangunan manusia Indonesia yang masih rendah.


“Harapan kami (PP Muhammadiyah), rancang bangun pendidikan nasional menuju Indonesia Emas itu tidak cukup orientasinya bersifat teknokratis – melinkan perguruan tinggi dengan perusahaan-perusahaan,” tutur Haedar pada (9/10/2023) di UAD.


“Tetapi lebih fundamental lagi untuk bisa memobilisasi sumber daya manusia Indonesia, agar yang dicita-citakan oleh para pendiri tentang mencerdaskan kehidupan bangsa,” katanya.


Guru Besar Sosiologi ini menegaskan, supaya generasi Indonesia Emas di masa depan harus memiliki kecakapan dalam setiap aspek kehidupan. Oleh karena itu, menurutnya pengembangan SDM harus menjadi fokus utama pendidikan Indonesia.


Keinginan luhur tersebut, imbuhnya, diperlukan kesinambungan kebijakan di setiap periode kepemimpinan. Hematnya diperlukan kebijakan pendidikan yang berjangka panjang. Sebab akan sulit memajukan kehidupan bangsa, jika setiap periode kepemimpinan kebijakan berubah-ubah.


Haedar juga menyinggung tentang pembicaraan jelang Pemilu lima tahunan yang banal saja, namun tidak mendalam menemukan substansi dari setiap masalah, yaitu luruhnya komitmen kenegaraan, kebangsaan, dan nasionalisme alit negeri.


“Menyongsong Pemilu 2024 ini kita gelorakan, mari kita diaspora kan, visi dan misi serta komitmen kenegaraan dan kebangsaan menjadi state of mind – menjadi alam pikiran para elit bangsa,” tandas Haedar.*** (MHMD)