Perlakuan Penuh Hormat Rasulullah Pada Generasi Muda

Notification

×

Iklan

Iklan

Perlakuan Penuh Hormat Rasulullah Pada Generasi Muda

Rabu, 01 November 2023 | 18:33 WIB Last Updated 2023-11-01T11:33:39Z


JAKARTA
— Pendekatan Rasulullah Muhammad SAW terhadap pemuda pada zamannya adalah suatu contoh kemajuan yang luar biasa. Beliau memberikan perlakuan yang penuh hormat kepada mereka dan mengakui potensi yang dimiliki pemuda dalam berkontribusi pada masyarakat. 


Beliau memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya melihat pemuda sebagai aset berharga bagi masyarakat, bukan beban.


Pada awal periode Islam, sebagian besar pengikut Rasulullah adalah pemuda. Fakta sejarah ini mencerminkan keyakinan beliau akan kapasitas pemuda dalam aktif berperan dalam penyebaran agama Islam. 


Rasulullah dengan tegas mempercayakan tanggung jawab besar kepada mereka, yang sering kali dianggap terlalu berat bagi orang dewasa. Ini adalah bukti kuat dari keyakinan beliau terhadap potensi dan kemampuan pemuda.


Beliau tidak pernah mengabaikan pemuda atau meremehkan peran mereka dalam masyarakat. Sebaliknya, Rasulullah mendorong mereka untuk mengambil peran penting dalam penyebaran Islam. 


Jika Rasulullah masih hidup hingga saat ini, beliau pasti akan mendorong kita untuk mengenali dan mengaktifkan potensi pemuda, sehingga mereka dapat berkontribusi positif dalam perubahan dunia.


Contoh nyata tentang pendekatan beliau terhadap pemuda adalah ketika Usamah ibn Zayd, pada usia tujuh belas tahun, dipilih untuk memimpin pasukan Muslim. Di bawah komandonya, terdapat tokoh-tokoh besar seperti Abu Bakr dan Umar ibn Al Khattab. 


Ini adalah bukti bahwa Rasulullah memberikan tanggung jawab besar kepada pemuda dan memiliki keyakinan yang kuat pada kemampuan mereka untuk memimpin.


Muadz ibn Jabal adalah contoh lain yang mengesankan. Beliau dipercayakan untuk menjadi wakil Rasulullah dalam penaklukan Makkah. Muadz banyak menghabiskan waktu bersama Rasulullah dan tumbuh menjadi seorang cendekiawan dan ahli hukum yang sangat dihormati. 


Pada usia muda, hanya dua puluh tujuh tahun, dia diangkat menjadi gubernur di Yaman, menunjukkan bagaimana Rasulullah melihat potensi besar dalam pemuda dan memberikan mereka tanggung jawab penting.


Rasulullah juga tidak melupakan kaum perempuan muda. Di zaman sekarang, seringkali kaum perempuan muda tidak didorong untuk memiliki ambisi dan pengetahuan. Namun, di awal perkembangan Islam, perempuan muda memegang peran penting dan vital.


Sebagai contoh, Asma binti Abu Bakr memainkan salah satu peran paling berani dalam melindungi Rasulullah ketika beliau melarikan diri dari Makkah ke Madinah. 


Saudari Asma dan istri Rasulullah, Aisyah, adalah bukti nyata betapa perempuan muda memiliki potensi besar dalam masyarakat Islam. Aisyah menjadi seorang cendekiawan dan ahli hukum yang sangat dihormati pada usia dua puluh tahun.


Pendekatan Rasulullah terhadap pemuda dan perempuan muda adalah teladan bagi kita. Beliau mendorong mereka untuk mengambil peran penting dalam masyarakat dan mempercayai potensi mereka. 


Rasulullah akan menasihati kita untuk terus mengembangkan pemuda, mendukung perempuan muda, dan memberikan mereka kesempatan untuk berkontribusi positif dalam masyarakat dan agama.


Pemuda Ideal Menurut Imam Syafii


Seringkali kita mendengar anggapan bahwa generasi muda saat ini mungkin “kurang tangguh” dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Terutama dalam hal kondisi mental, studi telah menunjukkan bahwa generasi milenial dan Gen Z secara keseluruhan cenderung menghadapi kondisi mental yang lebih buruk dibandingkan generasi sebelumnya. 


Namun, kita dapat menemukan pesan berharga dalam nasihat Imam Syafii yang dapat membantu mengatasi kondisi ini. Imam Syafii memberikan penekanan yang kuat pada dua aspek kunci yang harus dimiliki oleh seorang pemuda ideal: ilmu dan ketakwaan. 


Dalam syair Diwan al-Syafii, ia menyatakan, “Dan kemuliaan seorang pemuda, demi Allah, terletak pada ilmu dan ketakwaan … Jika keduanya tidak ada, maka dirinya tidak patut diberi perhatian”(Wa dzatul fatā, wallāhi, bil ‘ilmi wat-tuqā… idzā lam yakūnā laa i’tibāra lidzātihi).


Pertama-tama, Imam Syafii mengingatkan kita akan pentingnya ilmu dalam agama Islam. Ilmu adalah kunci untuk memahami hukum-hukum Allah, tata cara ibadah, dan prinsip-prinsip moral yang mendasari kehidupan seorang Muslim. 


Tanpa ilmu, seseorang mungkin akan menjalankan ibadah dan tindakan lain tanpa pemahaman yang benar, yang pada gilirannya dapat mengakibatkan kesalahan dan kesalahan dalam praktek keagamaan mereka. Oleh karena itu, pembelajaran dan peningkatan ilmu harus menjadi salah satu prioritas utama bagi pemuda.


Selanjutnya, Imam Syafii menekankan pentingnya ketakwaan. Ketakwaan merujuk pada kepatuhan dan kesadaran akan Allah dalam semua aspek kehidupan. Ketika seseorang memiliki ketakwaan, hal ini memengaruhi setiap tindakan dan keputusan mereka, karena mereka selalu menyadari bahwa Allah selalu mengawasi dan menilai tindakan mereka. 


Ketakwaan adalah akar dari moralitas dan etika yang kuat dalam Islam, yang membantu pemuda untuk memutuskan tindakan yang benar dan menghindari yang salah.


Namun, Imam Syafii juga menegaskan bahwa ilmu dan ketakwaan harus ada bersama-sama dalam diri seseorang. Ini berarti bahwa ilmu tanpa ketakwaan atau sebaliknya tidak cukup. Seseorang yang hanya memiliki ilmu tetapi tidak memiliki ketakwaan mungkin akan menggunakan pengetahuannya untuk tujuan yang tidak benar. 


Di sisi lain, seseorang yang memiliki ketakwaan tanpa ilmu mungkin tidak tahu bagaimana melaksanakan ajaran agama dengan benar. Oleh karena itu, penting untuk mengintegrasikan ilmu dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.


Perkataan Imam Syafii ini mengingatkan kita tentang kebutuhan untuk memadukan ilmu dan ketakwaan dalam hidup kita sebagai Muslim. Ilmu yang benar membantu kita memahami ajaran agama dengan lebih baik, sementara ketakwaan membimbing kita untuk menjalankannya dengan benar dan bertakwa kepada Allah. 


Keduanya saling melengkapi dan mendukung, menciptakan dasar yang kokoh untuk kehidupan yang bermakna dan bertakwa dalam Islam. Imam Syafii menekankan pentingnya ilmu dalam kehidupan seorang pemuda ideal. 


Ilmu tidak hanya mencakup pengetahuan agama, tetapi juga pengetahuan umum. Dalam konteks kesehatan mental, ilmu adalah kunci untuk memahami masalah kesehatan mental, tanda-tanda, dan cara pengelolaannya. Dengan pemahaman yang baik tentang masalah kesehatan mental, seorang pemuda dapat mengidentifikasi dan mengatasi tantangan yang mungkin timbul dalam hidupnya.


Takwa, atau kesadaran akan Allah, adalah nilai lain yang ditekankan oleh Imam Syafii. Ketakwaan memberikan seorang pemuda sumber kekuatan dan ketenangan batin. 


Dalam konteks kesehatan mental, takwa dapat menjadi sumber dukungan emosional yang kuat. Ketika seorang pemuda menghadapi tekanan, ketakwaan dapat memberikan ketenangan, rasa harapan, dan tujuan dalam menghadapi masalah kesehatan mental. Ketakwaan juga bisa menjadi fondasi moral yang membantu individu membuat keputusan yang baik terkait kesehatan mental mereka.


Imam Syafii menekankan bahwa ilmu dan takwa harus hadir bersama-sama dalam diri seseorang. Hal ini mencerminkan pentingnya penggabungan pengetahuan dan nilai-nilai agama dalam hidup seorang pemuda. 


Integrasi ilmu dan takwa menciptakan dasar yang kuat untuk pemahaman dan pengelolaan kesehatan mental yang seimbang. Ilmu membantu pemuda memahami gejala-gejala kesehatan mental dan metode pengelolaannya, sementara takwa memberikan ketenangan batin dan dukungan moral dalam menghadapi tantangan.


Jadi, dalam konteks pemuda ideal menurut Imam Syafii, ilmu dan takwa tidak hanya relevan untuk kehidupan agama, tetapi juga memiliki peran yang signifikan dalam pemahaman dan pengelolaan kesehatan mental pemuda. 


Integrasi kedua aspek ini dapat membantu pemuda mencapai keseimbangan yang baik antara kesehatan mental, spiritualitas, dan nilai-nilai moral.***(Ilham Ibrahim/muhammadiyah.or.id)