Prof Abdul Mu’ti Ikon Muhammadiyah Garis Lucu

Notification

×

Iklan

Iklan

Prof Abdul Mu’ti Ikon Muhammadiyah Garis Lucu

Sabtu, 16 Desember 2023 | 20:22 WIB Last Updated 2023-12-16T13:22:31Z


YOGYAKARTA
— Rektor Universitas Ahmad Dahlan Muchlas menilai bahwa tulisan dan ceramah Abdul Mu’ti selalu segar dan punya daya memancing gelak tawa. Pandangan ini ia sampaikan dalam rangkaian acara Milad Universitas Ahmad Dahlan yang ke-63 dengan tema ‘Penguatan Hak Konstitusional Kesehatan Menuju Kemandirian Obat’ di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Selasa (12/12/2023).


“Karena Prof Abdul Mu’ti saya rasakan dari banyak tulisan dan ceramah-ceramah beliau memenuhi unsur-unsur kelucuan,” ucap Muchlas menggambarkan sosok Sekretaris Umum PP Muhammadiyah ini.


Mu’ti selama ini memang dikenal sebagai sosok yang memiliki sense of humor tinggi. Selain menyampaikan pemikiran yang substansial dan penuh makna, Mu’ti juga mampu menyajikannya dengan sentuhan komedi yang menyegarkan. Asman Latif, Sekretaris Badan Pengurus Harian (BPH) UAD, turut menambahkan bahwa Mu’ti merupakan figur yang komplit.


“Terima kasih sudah hadir di sini, Prof Mu’ti. Prof Mu’ti ini termasuk Muhammadiyah Garis Lurus iya, Garis Lucu juga iya. Tapi Garis Bengkok tidak. Ini termasuk hal yang langka Muhammadiyah Garis Lucu ini,” ucap Asman. 


Pujian tersebut mencerminkan apresiasi terhadap keunikan yang dihadirkan oleh Abdul Mu’ti, menjadikannya sosok yang memberikan warna tersendiri dalam konteks Muhammadiyah.


Saat Mu’ti akhirnya menyampaikan ceramah, ia sempat protes dengan nada penuh humor. Sebagai seorang Guru Besar di bidang Pendidikan Islam, ia mengaku tidak memahami sepenuhnya tema milad tahun ini yang berfokus pada ‘Penguatan Hak Konstitusional Kesehatan Menuju Kemandirian Obat’. 


“Saya tidak berurusan dengan hukum dan saya juga tidak paham dunia obat-obatan,” katanya yang kemudian disambut gelak tawa hadirin.


Meskipun demikian, protes tersebut tidak menghalangi Mu’ti untuk memberikan ceramah yang penuh inspirasi dan motivasi kepada para hadirin. Sebaliknya, momen protes tersebut justru menambah nuansa akrab dan suasana santai.


Mu’ti kemudian memaparkan varian-varian non-formal di lingkungan Muhammadiyah. Ia menyebut varian Muhammadiyah Ikhlas yang disingkat Mukhlas. Varian ini menurutnya begitu hati-hati dalam menjalankan ajaran Islam hingga tak mau menyebut suatu keberhasilan karena takut divonis riya.


“Mukhlas ini varian Muhammadiyah yang sangat lurus, sangat hati-hati dalam berislam, termasuk menyebut keberhasilan itu tak mau karena dianggap riya, kalau sudah riya ujub, dan akhirnya takabur,” tutur Mu’ti yang memancing gelak tawa hadirin.


Selain itu, ada pula varian Munu alias Muhammadiyah-NU, yaitu warga Muhammadiyah yang terpapar budaya NU. 


“Saya pikir di antara rangkaian milad ini ada ziarah kubur, ternyata tidak ada. Berarti UAD ini Mukhlas. Kalau rektornya Munu mungkin akan ada ziarah kubur kemudian istighasah, hafalan Quran 31 juz,” ucap Mu’ti dengan nada penuh humor.


Dengan sentuhan humor ini, Mu’ti menjaga suasana ceramah tetap ringan dan menyenangkan. Ini mencerminkan kemampuannya untuk menyampaikan pesan-pesan serius dengan cara yang tidak hanya informatif tetapi juga menghibur, menciptakan momen yang menggembirakan dalam perayaan Milad Universitas Ahmad Dahlan yang ke-63.***(MHMD)