Iklan

UMBandung

Iklan

UMBandung
,

Iklan

Makna Hari Raya Idul Fitri

Redaksi
Kamis, 11 April 2024, 14:04 WIB Last Updated 2024-04-11T07:04:57Z


Kontributor:
Rizka Saputri, Dosen FAI UM Bandung


BANDUNG -- Gema takbir saling bersahutan memecah keheningan malam, menandakan berakhirnya puasa Ramadan yang sudah dijalankan. Selama satu bulan penuh menahan berbagai hal yang dilarang oleh syariat, menahan diri, mengendalikan diri, sabar dan tekun kini hari kemenanganpun tiba, semua umat muslim menyambut gembira. Inilah Idul Fitri, simbol kemenangan bagi mereka yang telah berpuasa.


Idul Fitri merupakan hari suka cita, hari bahagia bagi seluruh umat muslim di dunia,  kebahagiaan ini tidak lain karena Allah telah memberikan ampunan dan pahala bagi mereka yang telah berhasil menjalankan puasa dengan baik, di sisi lain Idul Fitri menjadi momen yang mengharukan, Setelah menunggu lamanya bulan Ramadan datang kini harus berpisah, berat rasanya karena belum maksimal menjamunya.


Air mata mengharu biru saat harus berpisah dengannya. Perasaan sedih yang bergemuruh sembari bertanya, apakah tahun depan akan bertemu lagi dengan Ramadan? “Ya Allah, anugerahkan lagi kepada kami bulan Ramadan, anugerahkan lagi kepada kami bulan Ramadan”doa yg dipanjatkan karena rindu yang teramat.


Idul Fitri berasal dari “Id” berarti perayaan dan “Fitr” yang artinya kembali kepada fitrah. Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah, dalam salah satu makna yang lain “al-ibtida wal ikhtiro”yang artinya “memulai dan mencipta”maka, Idul Fitri adalah kembali kepada fitrah yaitu kembali kepada penciptaan awal, asal kejadian manusia diciptakan. Kembali kepada fitrah adalah kembali kepada tujuan Allah menciptakan manusia.


“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyat:56).


Barangkali selama perjalanan kehidupan, disibukkan dengan berbagai macam aktivitas, kita melupakan tujuan penghambaan kita, sehingga Allah menciptakan Ramadan dan Idul Fitri kepada kita, agar kita kembali merenungkan perihal kehidupan ini.


Barangkali kita melupakan proses menjalani kehidupan, demi tercapainya apa yang kita tuju, kita melupakan nilai-nilai kebaikan, kearifan, moral serta akhlak. Padahal kita ini adalah seorang khalifah, seorang pemimpin dari apa saja yang kita pegang amanahnya. 


Seorang pemegang amanah yang baik, maka ia akan menjaga nilai-nilai moral dan akhlak dalam menjalankan amanahnya karena ini merupakan bagian dari fungsi penciptaan Allah kepada kita.


“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al Baqoroh:30)


Allah faham betul bahwa karakter manusia ini adalah mahluk yang suka merusak dan menumpahkan darah, maka dalam menjalankan amanah Allah bekali dengan Al-Qurán sebagai pedoman serta petunjuk menjalankan kehidupan itulah. Menjalankan pedoman serta mengajak manusia lain untuk kembali kepada pedoman hidup manusia ini merupakan peran manusia.


Maka, momen Idul Fitri ini adalah momen penting untuk memaknai kembali tugas, fungsi dan peran kita hidup di dunia ini. Itulah perintah dari Allah kepada kita, Apapun jabatan kita jangan melupakan apa yang Allah mau dalam diri kita. Kita berasal dari Allah dan pasti akan kembali kepada Allah. Kita diciptakan dalam kondisi fitrah, maka harus kembali dalam keadaan fitrah lagi diridhai Allah.


“Hai jiwa yang tenang!! Kembalilah pada Rabmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya.” (QS Al-Fajr: 27-28).


Hati yang ridha adalah hati yang senantiasa besih dan tidak rusak akibat kemusyrikan. Kemusyrikan akibat menghamba hidup dan kehidupan. Jangan sampai harta, jabatan, anak, suami sebagai sesuatu yang paling kita agungkan dibanding Allah. Bertaubatlah jika hati kita rusak, memperbaikinya dengan tauhid serta minta agar senantiasa Istiqamah dama fitrah.


rabbanâ lâ tuzigh qulûbanâ ba‘da idz hadaitanâ wa hab lanâ mil ladungka raḫmah, innaka antal-wahhâb


“Ya Rab, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”(QS Ali Imran :8).***(RS)

Iklan