Iklan

Iklan

,

Iklan

Prof Abdul Mu’ti: Ada Gelar Haji Abidin dan Haji Mansur Jika Dilihat dari Sisi Pembiayaannya

Redaksi
Senin, 29 April 2024, 13:46 WIB Last Updated 2024-04-29T06:46:07Z


KENDAL –
Setelah perayaan Hari Raya Idulfitri, Umat Islam dalam waktu dekat juga akan merayakan Iduladha yang sekaligus juga didalamnya terdapat ritual Ibadah Haji.


Terkait dengan haji, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti berseloroh bahwa selain ada istilah haji mabrur secara teologis, juga ada istilah-istilah lain untuk menyebut orang yang berangkat haji dari sisi pembiayaan.


Pertama, kata Mu’ti, ada Haji Abidin atau haji atas biaya dinas, yaitu orang-orang yang berhasil berangkat ke Tanah Suci dengan biaya dinas atau bisa juga bonus dari institusi tempatnya bekerja.


Kedua ada Haji Mansur, atau haji yang halamannya kena gusur yang bisa jadi disebabkan oleh sebuah proyek pemerintah atau yang lainnya, kemudian si pemilik halaman itu mendapat uang ganti untung yang bisa digunakan untuk berangkat haji.


Ketiga ada Haji Wahyu, atau orang yang berangkat haji karena sawahnya payu (red; laku). Mereka adalah orang-orang yang memiliki aset berupa sawah, kemudian dijual dan uangnya digunakan untuk berangkat haji.


“Itu proses saja cara Allah memanggil saja. Tapi giliran sudah beribadah insyaallah semuanya mabrur,” ungkap Abdul Mu’ti pada (27/4/2024) dalam Halal Bihalal yang diadakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jateng di Kendal.


Sementara itu, terkait dengan budaya orang Indonesia yang setelah berhaji berganti nama. Misalkan Suprapto, sepulang dari berhaji diganti nama menjadi Ahmad Suprapto dan seterusnya.


Menurut Abdul Mu’ti, budaya itu merujuk kepada salah satu hadis, yang menyebutkan bahwa seorang sepulang dari berhaji dan dia mabrur bagaikan manusia yang baru lahir dan bersih dari dosa.***

Iklan