Iklan

Iklan

,

Iklan

Bangga Berbahasa Indonesia

Redaksi
Senin, 27 Mei 2024, 09:09 WIB Last Updated 2024-05-27T02:09:16Z


JAKARTA --
Bangsa hebat ditunjukkan oleh para generasinya yang mencintai tumpah  darah dengan tulus dan ikhlas. Generasi tangguh tersebut menjaga ketahanan berbangsa dengan ikut memelihara bahasa persatuan, sebagai identitas diri. Bahasa Indonesia tidak hanya dijadikan simbol nama negara, tetapi kebanggaan dengan menggunakannya. 


Mengapa bahasa Indonesia perlu dirawat dan dijadikan kebanggaan oleh generasi bangsa ?. Jawabannya sederhana, namun urgensinya menyangkut ketahanan dan martabat Indonesia di negara lain. Keberhasilan suatu negara dalam mencerdaskan generasi bukan hanya karena sukses memberikan kehidupan yang layak dan sejahtera. Tetapi yang terpenting adalah menjadikan generasi mencintai tumpah darah dan segenap isinya, termasuk bahasa persatuan, budaya nasional, hingga lambang negara. 


Bangga Berbahasa Indonesia


Dalam kegiatan yudisium program Pascasarjana  Universitas Muhammadiyah Malang yang diadakan melalui room zoom beberapa waktu yang lalu dengan orasi ilmiah disampaikan oleh dosen bahasa Indonesia Dr. Hari Windu Asrini, ada hal menarik yang tidak boleh kita pandang sebelah mata. 


Persoalan berbahasa bukan saja tentang efektifnya komunikasi antara satu orang ke orang lain,  antara kelompok satu dengan kelompok lain. Atau tentang suksesnya komunikasi yang berakhir dengan kerjasama satu negara dengan negara lain. Yang terpenting adalah bagaimana bahasa menjadikan warga negara dapat hidup damai dengan menjunjung tinggi perbedaan. Berpikir moderat  mengutamakan persatuan dan kesatuan diatas kepentingan apapun. 


Hari Windu Asrini berkesimpulan, kita sebagai bagian rakyat Indonesia adalah pemberi harapan palsu pada bahasa Indonesia. Mengapa demikian? Sebab tanpa kita sadari kita lebih banyak menggunakan bahasa gaul/plesetan dalam berkomunikasi dibandingkan berbahasa Indonesia di aktifitas sehari-hari. Bahasa Indonesia belum dapat membangkitkan semangat, dan hanya digunakan pada saat kegiatan-kegiatan formal atau seremonial. 


Sedangkan pada komunikasi sehari-hari secara tatap muka atau melalui media sosial kita lebih banyak menggunakan bahasa daerah dan plesetan mengikuti zaman yang sedang berkembang/viral agar tidak dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Efeknya terlihat jelas, sebab mengkaburkan/menghilangkan esensi makna dari bahasa Indonesia, dan akan terus demikian hingga ke generasi selanjutnya. 


Dinamika yang tidak boleh dianggap remeh dan diabaikan begitu saja. Jangan sampai kebanggaan tersebut hanya diatas kertas dan simbol semata, dan meredup diterpa globalisasi.  Kita berlomba berbahasa asing, tapi lalai memahami mana kata baku dan tidak baku sesuai dengan ejaan yang disempurnakan (EYD) bahasa sendiri.

 

Menumbuhkan Cinta Berbahasa Indonesia 


Dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 Pasal 25  dijelaskan, Bahasa Indonesia merupakan identitas bangsa, kebanggaan bangsa, alat pemersatu suku bangsa, dan alat komunikasi antar daerah dan budaya daerah. Dengan demikian maka penting pemahaman untuk menjaga bahasa Indonesia di segala jenjang pendidikan. 


Aneh rasanya, jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi kita terus dicekoki mata pelajaran/mata kuliah Bahasa Indonesia, tetapi belum dapat menumbuhkan semangat mencintai bahasa Indonesia. Padahal sejak 18 Agustus 1945, bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi, terdapat pada pasal 36 UUD 1945. 


Lalu bagaimana cara menumbuhkan cinta Berbahasa Indonesia ?. Cinta bahasa Indonesia adalah ikrar pemuda pemudi dalam sumpah pemuda 28 Oktober 1928, dan harus dijadikan kebiasaan digunakan dalam bahasa tutur dan lisan, selain juga tetap menjaga bahasa ibu atau bahasa daerah. 


Menumbuhkan cinta Berbahasa Indonesia bisa diwajibkan kepada seluruh peserta didik untuk membiasakan berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar pada saat pelajaran Bahasa Indonesia. Atau gerakan sepekan berbahasa Indonesia setiap bulan agar bahasa Indonesia tidak asing terdengar saat diucapkan. 


Karena sering kita kikuk saat bertemu seseorang  karena ia berbahasa Indonesia yang baik dan benar.  Penulis teringat ketika menimba ilmu di program magister ilmu sosial dan politik Universitas Tanjungpura, dan diajar oleh Profesor Syarif Ibrahim Al Qadrie pakar konflik Kalimantan Barat pada beberapa mata kuliah. 


Saat mengoreksi tugas perkuliahan beliau selalu menekankan EYD, yang sering kita abaikan dalam menulis. Dari koreksi yang di lingkari, penulis mendapatkan banyak pemahaman tentang menulis yang baik dan benar seperti juga pada bahasa lisan. Aktifitas yang mungkin agak jarang ditemukan pada tugas perkuliahan sekarang.*** 


Penulis : Amalia Irfani

Dosen IAIN Pontianak/LPPA PWA Kalbar

Iklan