
YOGYAKARTA — Hidup kerap terasa berat. Ada yang diliputi kegelisahan tanpa sebab, urusan keluarga yang rumit, rezeki yang tersendat, hingga pekerjaan yang tak kunjung menemukan titik terang.
Dalam kondisi seperti itu, solusi sering kali sebenarnya sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher. Solusi itu, menurut ajaran Islam, adalah salat.
Pesan tersebut mengemuka dalam pengajian yang disampaikan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Jaya Putra, di Masjid KH Sudja Yogyakarta, Senin (26/01). Mengangkat tema “Perbaiki Salatmu, Maka Allah Akan Permudah Urusanmu,” ia menegaskan bahwa salat merupakan “obat” yang Allah turunkan lima kali sehari bagi manusia.
“Salat bukan pil, bukan terapi mahal, bukan konseling, dan bukan motivasi. Salat adalah ibadah agung. Jika salat kita perbaiki, maka Allah akan memperbaiki seluruh urusan kita. Sebaliknya, jika salat rusak, urusan dunia pun ikut kacau,” ujarnya.
Ia mengutip Surah Al-Ma’arij ayat 19–23 yang menggambarkan karakter dasar manusia: mudah gelisah, banyak berkeluh kesah saat tertimpa kesulitan, dan kikir ketika memperoleh kelapangan. Namun Allah memberi pengecualian dengan firman-Nya illal musallin—kecuali orang-orang yang mendirikan salat.
Menurut Budi, ayat ini menjadi pembeda antara manusia biasa dan manusia yang istimewa. Orang yang menjaga salat tidak larut dalam keluhan, tidak mengumbar masalah ke media sosial, dan tidak tenggelam dalam kesedihan. Mereka tetap tenang karena memiliki sandaran spiritual yang kuat.
Ia kemudian menekankan pentingnya memahami perintah Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 238, hafizhu ‘alash shalawat, yang berarti memelihara salat. Memelihara, kata Budi, bukan sekadar mengerjakan, tetapi menjaga waktu, tata cara, bacaan, dan kekhusyukan.
“Kalau kita paham makna ‘memelihara’, maka salat itu dijaga seperti kita merawat sesuatu yang berharga. Jangan sampai lewat waktu, jangan asal gerakan, jangan tanpa ilmu. Bahkan bacaan pun harus dilafalkan, bukan hanya di dalam hati,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya melaksanakan salat sesuai tuntunan atau qanitin, yakni mengikuti tata cara yang benar sebagaimana dicontohkan Rasulullah Saw. Banyak orang, menurutnya, mengaku salat, tetapi tidak menggerakkan bibir ketika membaca bacaan salat, atau melaksanakannya secara tergesa-gesa tanpa kekhusyukan.
Dalam pengajian itu, Budi turut mengingatkan bahwa salat adalah amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Rasulullah Saw bersabda, jika salat seseorang baik maka ia akan beruntung dan selamat, namun jika salatnya rusak maka ia akan merugi dan celaka.
“Kalau hidup terasa penuh kerugian dan kesempitan, coba evaluasi salat kita. Sudah dijaga belum? Sudah sesuai tuntunan belum?” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa kekurangan dalam salat wajib akan disempurnakan dengan salat sunah, terutama salat rawatib qabliyah dan ba’diyah. Karena itu, ia mendorong jamaah untuk membiasakan salat sunah sebagai pelengkap ibadah wajib.
Selain tanggung jawab pribadi, Budi menekankan kewajiban orang tua untuk membiasakan salat kepada anak sejak dini. Ia mengutip hadis Nabi Saw yang memerintahkan orang tua menyuruh anak salat sejak usia tujuh tahun dan memberi penegasan saat usia sepuluh tahun jika masih meninggalkannya.
“Menjaga salat bukan hanya urusan diri sendiri, tapi juga keluarga. Suami, istri, dan anak-anak saling mengingatkan. Ini perintah Al-Qur’an dan sunnah,” tegasnya.
Ia mengkritik gaya hidup modern yang menjadikan pekerjaan sebagai prioritas utama hingga mengorbankan ibadah. Banyak orang bekerja mati-matian, tetapi salat dilakukan asal-asalan.
Padahal Allah telah menegaskan dalam Surah Thaha ayat 132, La nasaluka rizqa, nahnu narzuquk—Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki. Menurut Budi, ayat ini menunjukkan bahwa tugas manusia adalah salat dan taat kepada Allah, sementara urusan rezeki adalah jaminan dari-Nya.
Ia mengisahkan bahwa para salafus shalih ketika tertimpa musibah justru mengajak keluarga mereka untuk salat, bukan mencari solusi instan melalui cara-cara lain. Hal ini sejalan dengan perintah Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 45 agar manusia meminta pertolongan dengan sabar dan salat.
“Kalau ada masalah, sabar dan salat. Tidak ada teknik lain,” ujarnya.
Lebih lanjut, Budi menyampaikan bahwa salat adalah cahaya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, ash-shalatu nur. Cahaya bagi hati, wajah, alam kubur, hingga padang mahsyar. Karena itu, wajar jika orang yang meninggalkan salat hidupnya gelisah dan tidak tenang.
Ia mengajak jamaah untuk mulai meningkatkan kualitas salat dengan menghadirkan hati serta memahami makna bacaan. Menurutnya, salat bukan sekadar rangkaian gerakan, tetapi perjalanan ruhani yang mendekatkan hamba kepada Allah.
Mengutip Imam Syafi’i, Budi menegaskan bahwa siapa yang memperbaiki salatnya, maka Allah akan memperbaiki urusannya. Salat menghadirkan ketenangan spiritual, menjadi terapi psikologis dari stres dan kecemasan, memperbaiki hubungan sosial, serta membuka pintu keberkahan rezeki.
“Apa yang paling kita cari dalam hidup ini kalau bukan ketenangan? Dan ketenangan itu bermula dari salat,” pungkasnya.***


