
JAKARTA — Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir, menegaskan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan keagamaan umat Islam, termasuk dalam praktik ibadah dan pengambilan keputusan keagamaan.
Hal tersebut disampaikan dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Rofiq mencontohkan bagaimana teknologi AI telah digunakan secara masif di Masjidil Haram. Menurutnya, jamaah kini dapat memanfaatkan AI untuk memperoleh berbagai informasi, mulai dari arah lokasi, kepadatan jamaah, hingga layanan pengantaran Al-Qur’an dan air minum.
Bahkan, AI juga dapat difungsikan sebagai pendamping dalam menyimak hafalan Al-Qur’an, mengoreksi bacaan, dan membantu tartil ketika sulit menemukan orang yang dapat menyimak langsung.
“AI itu sudah sangat dekat dengan kita dan nyata-nyata membantu ibadah,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan AI juga telah diterapkan di lingkungan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, khususnya dalam pengembangan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Muhammadiyah, kata Rofiq, telah mengembangkan aplikasi HisabMu yang penyusunannya dibantu oleh teknologi AI.
Tanpa dukungan AI, proses penentuan awal bulan dengan kriteria baru yang lebih kompleks akan memerlukan waktu yang sangat panjang.
Rofiq menjelaskan bahwa berbeda dengan metode wujudul hilal yang hanya mengambil sampel wilayah tertentu, kriteria kalender global menuntut perhitungan secara menyeluruh di seluruh dunia. Setiap wilayah dipetakan ke dalam zona kalender dengan parameter yang ketat, seperti ketinggian hilal minimal 5 derajat dan sudut elongasi 8 derajat, yang harus ditelusuri satu per satu di berbagai titik di muka bumi.
Ia mencontohkan penentuan awal Ramadan yang memiliki titik kritis karena lokasi yang memenuhi kriteria tersebut berada di Alaska, dekat Laut Pasifik. Kondisi inilah yang melatarbelakangi keluarnya maklumat penjelasan dan ijtihad ulang terkait penetapan awal Ramadan, yang pada akhirnya dimajukan dari tanggal 19 menjadi 18 Februari 2026.
Namun, Rofiq menegaskan bahwa pengumuman tersebut telah diluncurkan jauh hari sebelumnya berdasarkan perhitungan yang matang.
Berangkat dari kenyataan itu, Rofiq mengajak warga Muhammadiyah untuk bersikap bijak dalam menyikapi perkembangan AI. Ia mengakui bahwa dalam spektrum pemikiran Islam terdapat pandangan konservatif yang cenderung berhati-hati terhadap teknologi.
Ia menyebut pemikir seperti Seyyed Hossein Nasr dan Wael Hallaq yang mengkritik kemodernan karena dianggap berdampak pada pola pikir, nalar, dan daya kritis manusia.
Namun demikian, Rofiq menegaskan bahwa bagi Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid dan berkemajuan, menolak AI bukanlah pilihan. “There is no point of return. Kita tidak bisa lari ke belakang,” tegasnya.
Menurutnya, sikap menolak AI bertentangan dengan teologi Islam, semangat Al-Qur’an dan sunah, sejarah peradaban Islam, serta tidak bersifat praktis.
Ia mengingatkan pengalaman sejarah ketika dunia Islam terlambat menerima teknologi mesin cetak. Penolakan terhadap mesin cetak pada masa kekhalifahan Utsmaniyah, kata Rofiq, menyebabkan umat Islam tertinggal jauh dari Barat yang justru mengalami lompatan besar melalui reformasi gereja, pencerahan, dan revolusi industri.
Dunia Islam baru mulai mengenal percetakan secara luas pada akhir abad ke-19, ketika jarak peradaban sudah terlanjur menganga.
“Kalau kita terlalu banyak ragu dan menunda, dampaknya serius bagi kita sendiri,” ujarnya.
Menanggapi kekhawatiran yang mengaitkan AI dengan era Dajjal, Rofiq menilai pandangan tersebut sebagai bentuk kekhawatiran berlebihan yang tidak sejalan dengan DNA Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa AI harus ditempatkan secara proporsional melalui kerangka fikih.
Ia kemudian memaparkan tiga kaidah fikih utama dalam menyikapi AI. Pertama, al-ashlu fil manafi’ al-ibahah, bahwa hukum asal segala sesuatu yang bermanfaat adalah mubah. Kedua, lil wasail ahkamul maqasid, yakni hukum suatu sarana bergantung pada tujuan penggunaannya. Ketiga, ad-dhararu yuzal, bahwa setiap bentuk kemudaratan dan kezaliman harus dihilangkan.
“AI itu netral. Yang menentukan adalah bagaimana kita mengarahkannya, memanfaatkannya, dan sekaligus memperbaiki kelemahan-kelemahannya,” tutur Rofiq.***

